
Bab 96
Orang-orang banyak yang ke luar dari gedung Casandra. Mereka takut menjadi korban penembakan. Padahal si pelaku sudah memiliki target tersendiri. Dia seorang laki-laki keturunan Italia yang memiliki rasa benci dan dendam kepada Michelle dan Alessio.
Daniel melihat bagaimana Alessio mengamuk kepada si pelaku yang sedang diamankan oleh para penjaga. Laki-laki itu menghajar si pelaku penembakan sampai babak belur. Pukulan dan tendangan terus dia lancarkan kepadanya. Jika tidak ditahan oleh asistennya mungkin saja pistol yang ada dibalik punggungnya akan dia cabut lalu ditembakkan ke orang yang kini sudah tergolek tidak berdaya.
Daniel membawa Maria untuk keluar dari sana. Tentu saja wanita itu dengan senang hati mengikutinya. Tidak peduli akan pergi ke mana, yang penting bisa berduaan lebih lama dengan Daniel sudah membuatnya senang.
Daniel membawa Maria untuk makan malam di restoran hotel yang tidak jauh dari lokasi gedung Casandra. Dia memang sengaja memperlakukan Maria bak seorang putri kerajaan. Laki-laki itu ingin membuat sang wanita jatuh cinta sejatuh-jatuhnya, seperti Osama yang jatuh ke dalam kesedihan, kesakitan, dan kesepian setelah di tinggalkan oleh Diana, dahulu.
Jika Maria sampai jatuh terpuruk, maka Peter akan lebih jauh lagi jatuh terpuruknya. Dia selama ini menyembunyikan keberadaan anak-anaknya. Terutama Maria ini yang tidak diinginkan ketahui oleh orang banyak terutama musuh Peter.
Makan malam romantis berjalan dengan sukses dan berhasil menghilangkan rasa ketakutan dan kemarahan Maria atas insiden tadi. Senyum wanita itu terus tercipta sejak mereka datang sampai pulang.
"Dan, apa kita akan menginap di sini atau pulang?" tanya Maria.
"Pulang. Aku merasa ingin tidur nyaman di kamar sendiri," jawab Daniel.
Dalam hati Maria ingin menghabiskan malam ini bersama dengan laki-laki itu. Namun, dia sadar diri kalau mereka baru saja kenal.
'Apa Daniel bukan tipe orang yang suka langsung diajak tidur bersama?' batin Maria.
'Kapan-kapan aku akan goda dia agar mau menghabiskan waktu hanya berduaan saja,' lanjut Maria di dalam hatinya.
Daniel benar-benar membutuhkan Sandra. Dia ingin dimanja oleh sang istri. Tubuhnya memberikan reaksi bergairah setelah makan malam bersama Maria barusan. Laki-laki itu takut ada yang memberikan obat perang*sang di makanan atau minuman mereka.
"Bagaimana besok kita pergi jalan-jalan, yuk!" ajak Maria.
"Boleh," balas Daniel dengan senyum tipis.
**"
__ADS_1
Setelah menyelesaikan hasratnya yang tiba-tiba saja bergejolak bersama sang istri. Daniel merasa sangat bahagia. Untungnya Sandra tipe orang yang pengertian dan cerdas.
"Tidurlah, kamu pasti lelah!" titah Daniel kepada wanita yang kini memeluknya manja.
"Aku masih ingin berbagi cerita dengan kamu dulu. Ayo, kita bicara apa saja yang sudah terjadi di gedung Casandra tadi. Kenapa Nathalie tiba-tiba saja mencari kamu ke sini?"
Sandra menatap kepada Daniel dengan sedikit tajam. Jelas ada rasa cemburu dari pancaran matanya.
Lalu, Daniel menceritakan apa yang sudah terjadi di sana tadi. Kali ini Sandra seperti sudah biasa mendengar cerita kematian, tembakan, darah, dari mulut suaminya.
"Aku bersyukur tidak terjadi sesuatu yang buruk kepadamu. Lalu, bagaimana keadaan wanita itu? Apakah di selamat atau sudah meninggal?" tanya Sandra penasaran.
"Aku belum mendapatkan informasi apapun lagi tentangnya. Mungkin nanti aku akan minta laporan kepada Marco atas kelanjutan kejadian di gedung Casandra," jawab Daniel.
"Aku berharap kamu selalu berhati-hati. Jangan sampai lengah sedikitpun meski itu terhadap orang yang paling dekat sekalipun, apalagi kepada yang tidak kamu kenal," ucap Sandra ingat akan kata-kata mertuanya, Osama.
"Iya, Sayang. Aku akan selalu berusaha menjaga diri ini demi kamu dan buah cinta kita," balas Daniel.
***
"Kita akan pergi ke mana?" tanya Maria dengan senyum lebarnya.
Wanita ini masih merasa sangat bahagia saat tadi Daniel tiba-tiba saja mengajaknya pergi untuk menyenangkan hati. Tanpa menunggu lama dia langsung memutuskan untuk menerima ajakan itu.
"Kamu maunya ke mana?" tanya Daniel balik.
"Hmmm, ke mana, ya?" Maria terlihat berpikir.
"Bagaimana kalau kita ke pantai?" tawar Daniel yang memang sebenarnya sudah dia siapkan tempat itu.
"Pantai? Aku mau!" pekik Maria dengan bahagia.
__ADS_1
Mobil milik Maria yang dikendarai oleh Ken masih saja mengikuti mereka dari belakang. Daniel tahu itu dan memang membiarkan bodyguard itu berbuat semaunya asal jangan mengganggu apa yang sudah dia rencanakan untuk membalas kematian ibunya dan Dilan.
Maria berlari di tepi pantai sambil berteriak dan tertawa bahagia. Daniel sekilas melihat Ken mengambil foto nona mudanya dengan cara diam-diam. Dia sengaja mengajak wanita itu untuk berlarian sambil bermain ombak.
"Ayo, Maria!" ajak Daniel kemudian berlari agar wanita itu mengikutinya.
Kedua sejoli itu saling tertawa bersama dan saling mengejar. Ken harus menahan rasa sakit hatinya.
Setidaknya sekarang Maria sudah berada di dalam genggaman Daniel. Wanita itu sudah secara terang-terangan memperlihatkan perasaannya.
"Daniel, apakah kamu mau menghabiskan malam bersama denganku?" tanya Mariag denganh yg suaranya yang pelan bahkan nyaris berbisik.
Mendapat pertanyaan seperti itu sudah membuat Daniel merasa senang. Namun, dia tidak akan mau tidur dengannya malam ini. Laki-laki itu hanya perlu membuat hidup dan perasaan Maria terus tertuju kepadanya. Lalu, setelah begitu tinggal dia abaikan dan memutus kontak dengannya.
Maria adalah tipe wanita yang bisa berubah mengerikan dan tidak terkontrol. Sudah bisa Daniel lihat ini sejak mereka bertemu.
"Aku ingin masih bisa denganmu, Dan," kata Maria dengan suara lembut dan kerlingan mata yang nakal.
Jika laki-laki itu kurang kuat iman, pasti akan langsung jatuh ke dalam pelukan wanita manja dan seksi ini. Ditambah dengan penampilan yang ber-body aduh ... hay dan berwajah cantik.
"Aku bukanlah laki-laki yang pantas untuk dirimu, Maria," balas Daniel dengan lirih.
Posisi pantai ini tidak jauh dari villa milik Peter. Dia berharap Maria bisa membawanya masuk ke dalam bangunan itu. Namun, dia tidak tahu apakah wanita itu tahu atau tidak pemilik villa yang ada di tebing.
"Aku sangat menginginkan dirimu," ucap Maria dengan sungguh-sungguh.
'Ken ke mana, ya? Seharusnya bagian begini dikasih ke Nathan. Dia paling suka tidur dengan wanita cantik. Seharusnya Aku minta Sandra menyamar jadi tunangan aku saja. Biar aku bisa meloloskan diri di saat seperti ini,' batin Daniel yang sedang pusing menghadapi Maria yang seperti sedang bergairah dan ingin bercinta.
***
Akankah Daniel bisa meloloskan diri dari jeratan gairah Maria? Ikuti terus kisah mereka, ya!
__ADS_1