
Bab 71
Orang mengira duduk sambil memejamkan mata untuk melatih kepekaan atau insting itu suatu pekerjaan mudah, ternyata itu adalah salah. Daniel masih belum bisa merasakan apa-apa meski sudah duduk berjam-jam di sana. Padahal malam ini sangat sepi dan tidak ada suara apa pun kecuali hewan malam dari arah luar. Itu juga sayup-sayup terdengar.
Ryu melemparkan sebuah bola karet berukuran sedang ke arah Daniel. Laki-laki itu lagi-lagi tidak bisa merasakan akan adanya serangan mendadak. Bola itu kembali mengenai tubuhnya. Sakit dan perih, itu yang dirasakan oleh Daniel untuk kesekian kalinya.
"Kamu belum bisa menyatukan hati dan pikiranmu dengan alam," ucap Ryu.
"Rasakan setiap aliran udara disekitar kamu," lanjut laki-laki itu.
Daniel dulu pernah melatih ilmu beladiri bersama Alex dengan mata tertutup. Saat itu dia bisa dengan mudah bisa menebak dari arah mana lawan akan menyerang. Namun, saat ini begitu sulit sekali dia merasakan akan adanya serangan.
'Apa ada masalah juga pada indra pendengar aku? Tapi, aku masih bisa mendengar dengan baik orang saat orang mengajak aku bicara,' batin Daniel.
"Aaaa." Daniel memekik saat merasakan kembali bola karet mengenai perutnya.
"Jangan melamun! Pusatkan semua panca indera agar kamu bisa merasakan semua hal yang ada di sekitar dirimu," ucap Ryu.
Laki-laki itu begitu sabar menemani Daniel latihan. Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 02:00 dini hari. Namun, kedua laki-laki itu tidak ada niat untuk mengakhiri latihan.
Daniel pun mencoba fokus dengan indera pendengaran, penciuman, dan perabanya atau kesensitifan kulit di seluruh tubuhnya. Laki-laki itu sudah bisa merasakan adanya pergerakan udara yang menerpa lembut kulitnya meski samar-samar. Bahkan suara hewan-hewan malam semakin jelas terdengar.
Tiba-tiba Daniel bisa merasakan adanya gesekan atau pergerakan udara. Dia pun memiringkan tubuhnya. Gerakan dia terlambat, lagi-lagi bola karet mengenai bahunya.
"Apa sekarang kamu sudah bisa merasakan adanya perbedaan dari pergerakan udara dan suara?" tanya Ryu.
__ADS_1
"Sedikit," jawab Daniel meringis karena merasakan sakit pada tubuhnya.
"Kita coba lagi!"
Ryu kembali melemparkan bola karet ke arah Daniel. Meski sudah berusaha menghindari serangan, tetap saja mengenai tubuhnya.
"Bagus, Anda sudah bisa menebak arah adanya serangan meski belum bisa menghindarinya," tukas Ryu.
Malam ini entah berapa ratus kali Daniel mendapatkan serangan mendadak pada tubuhnya. Semua itu tidak sia-sia, setelah semalaman ini terus berlatih.
"Malam di cukup sekian dahulu. besok kita akan latihan kembali," ujar Ryu.
Daniel pun membuka matanya. Betapa terkejutnya dia saat melihat begitu banyak bola karet yang berserakan di dekatnya dia duduk saat ini. Laki-laki itu pun mengumpulkan bola-bola karet itu ke dalam kotak penyimpanan.
"Hebat. Hanya dalam semalam kamu sudah paham dan sudah bisa merasakan akan adanya serangan," puji Ryu dan bagi Daniel ini belum ada apa-apa. Suami Sandra itu ingin lebih dari hal yang seperti ini.
***
"Peter menyimpan sebagian emasnya di sebuah rumah yang dia miliki di negara bagian Eropa," ucap laki-laki berjubah hitam itu setelah Marco membuka beberapa lembar kertas laporan darinya.
"Kenapa dia menyimpan emas batangan di sana?" tanya Marco penasaran.
Masih segar dalam ingatan Marco kejadian malam perebutan harta karun di reruntuhan pabrik milik perusahaan keluarga Li. Banyak nyawa melayang saat terjadi baku tembak. Namun, kenapa sekarang Peter menyimpan di salah satu rumah yang jauh dari tempatnya berada saat ini.
"Karena di sana Peter memiliki anak haram. Seorang laki-laki yang juga merupakan seorang mafia," jawab laki-laki itu.
__ADS_1
"Apa? Anak haram? Memangnya Peter suka menebar benih sembarangan?" tanya Marco terkejut.
"Peter mempunya empat orang anak dari tiga orang wanita. Salah satu dari wanita itu ada istri sah, sedangkan yang dua hanya gundik tempat dia menanam benih," jawab laki-laki berjubah hitam.
"Empat orang anak? Bagaimana bisa dia mempunyai banyak anak? Rajin sekali dia membuat hamil para wanitanya," ujar Marco.
"Waktu itu istri sah Peter belum mempunyai anak, maka dia menanamkan benihnya kepada seorang wanita terhormat yang tumbuh dan besar di panti asuhan. Wanita itu hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki. Dia bernama Alessio. Laki-laki yang juga terjun di dunia bawah semenjak remaja. Dia memang sudah disiapkan oleh Peter untuk menjadi pengganti dirinya," jelas laki-laki yang memiliki luka diwajahnya.
"Kenapa bukan anak dari istri sah yang menjadi pengganti dia nanti?" tanya Marco.
"Karena istri sah dari Peter melahirkan seorang anak perempuan," jawab laki-laki itu lagi.
"Oh. Lalu, siapa wanita yang lainnya yang sudah melahirkan anak Peter?"
"Dia adalah sekretaris Peter yang bekerja di perusahaan miliknya. Bisa dibilang kalau wanita ini adalah selingkuhan atau wanita yang dicintai oleh Peter. Namun, semuanya menjadi berbalik saat tahu wanita itu mengandung anaknya. Sementara Peter tidak menginginkan anak dari wanita itu."
"Hah. Kenapa dia tidak mau wanita yang dicintainya mengandung keturunannya?"
"Peter itu benci wanita yang sedang hamil. Jadi, dia memecat sekretaris itu setelah menyuruh dokter untuk menggugurkan kandungannya. Peter tidak tahu kalau wanita itu berhasil kabur dan melahirkan anak kembar miliknya."
Marco memijat kepalanya yang terasa cenat-cenut begitu mendapatkan informasi yang sangat penting ini. Selama ini dia banyak yang tahu kalau Peter pernah menikah. Bahkan kabar punya anak tidak pernah terdengar sama sekali. Lalu, sekarang ada kenyataan kalau laki-laki itu mempunyai empat orang anak.
"Apa akan ada balas dendam generasi ketiga?" gumam Marco mengingat Peter ternyata punya banyak anak.
***
__ADS_1
Apakah Anak-anak Peter akan terlibat dalam pertempuran antar kelompok mafia? Akankah Daniel berhasil dengan cepat melatih kepekaan nalurinya? Ikuti terus kisah mereka, ya!