
Bab 44
Daniel dan kedua temannya masih mengawasi area di sekitar pabrik kayu. Mereka tidak membawa banyak senjata dan juga hanya bertiga. Sementara itu, pintu masuk hanya ada satu yang terbuka, karena satu lagi pintu di belakang terkunci oleh gembok.
"Sebaiknya kita hubungi kelompok Red Hair. Kita bertiga tanpa senjata yang memadai tidak akan bisa menghabisi mereka semua," ucap Nathan sambil berbisik.
Terlihat Dilan mengangguk tanda setuju. Namun, Daniel tidak suka dengan rencana itu. Jika dia meminta bantuan kelompok Red Hair, nanti mau tidak mau harus mengganti posisi ketua di sana.
Daniel pun meminta Dilan menghubungi teman-temannya yang mau ikut melawan kelompok Black Eyes dan menyuruhnya membawa banyak senjata. Meski jumlah mereka itu sedikit, tetapi memiliki kemampuan yang hebat.
Sandra merasa sesuatu yang aneh pada dirinya. Lalu, dia sedikit membuka matanya untuk mengetahui ada apa sebenarnya yang sudah terjadi kepada dirinya. Wanita itu duduk di kursi dalam keadaan terikat dan mulut ditutup oleh selotip.
Ekor matanya menangkap keadaan di sana. Dia berada di suatu tempat yang luas dan kosong. Agak gelap dan juga lembab bau jamur.
'Kenapa aku bisa ada di sini? Bagaimana bisa mereka membawa aku? Daniel di mana? Siapa mereka itu?' batin Sandra.
Wanita itu takut terjadi sesuatu kepada anak yang ada di dalam perutnya. Dia berharap bantuan akan segera tiba.
Dor! Dor!
__ADS_1
DOR! DOR!
Terdengar suara tembakan di arena pintu masuk. Ini membuat Sandra bisa bernapas dengan lega. Padahal, dia belum tahu siapa yang datang ke sana.
"Siapa yang berani membuat kekacauan?" tanya Damian dengan nada kesal.
Orang-orang yang ada di dalam ruangan itu pun langsung berada dalam posisi siap untuk melakukan perlawanan. Mereka memang pistol masing-masing.
Sandra yang terikat di sana pun ikutan terkejut dengan aksi saling baku tembak. Dia pasrah saja dengan hidupnya saat ini kalau sampai ikut tertembak.
Dor! Dor!
DOR! DOR!
Daniel dan temannya melakukan baku tembak karena salah seorang dari mereka melihat lalu melakukan serangan. Jadi, mereka melakukan pembalasan sekaligus ingin membebaskan Sandra.
Dor! Dor!
Daniel berhasil menembak jatuh lawannya. Dia menembak tepat di bagian kepala musuh. Mereka tidak punya banyak peluru untuk hanya sekedar memberikan tembakan peringatan. Satu peluru sangat berarti bagi mereka untuk mengalahkan musuh-musuh.
__ADS_1
Daniel dan Dilan menerobos masuk ke dalam ruang pabrik, sementara Nathan melawan orang-orang Black Eyes di depan gudang. Dia juga memunguti senjata milik para musuh yang sudah mati. Laki-laki itu juga yang memberikan kedua temannya beberapa senjata saat akan masuk tadi.
Dengan berbekal senjata rampasan, Daniel dan Dilan masuk menyerbu Damian dan anak buahnya yang berjumlah cukup banyak. Mereka memberikan perlawanan dengan menyerang menggunakan pistol. Tembakannya yang membabi buta karena melihat banyak anggota Black Eyes yang jatuh mati.
Dor! Dor!
DOR! DOR!
Suara tembakan saling bersahutan. Teman-teman Dilan juga sudah sampai ke sana. Beberapa orang dari mereka menembakan pistol AK-47 begitu masuk ke dalam gedung pabrik.
Dalam sekejap bangunan pabrik bekas itu langsung dipenuhi oleh bau mesiu dan anyir darah. Sudah terlalu banyak orang yang mati atau terluka di sana. Daniel juga terluka bahu dan paha kiri terkena peluru. Begitu juga dengan Dilan yang terkena peluru di lengan atas dan punggung atas.
"Daniel, aku punya satu bom tangan. Apa kita gunakan senjata ini?" tanya seseorang kepada suami Sandra.
"Jangan gegabah kamu! Saat ini Sandra masih berada di dalam tangan musuh," jawab Daniel dengan tajam. Dia tidak mau kalau sampai sang istri dan calon bayi mereka terluka atau kenapa-kenapa.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita tidak tahu di mana posisi istrimu saat ini," tanyanya lagi.
***
__ADS_1
Bagaimana cara Daniel membebaskan Sandra? Ikuti terus kisah mereka, ya.