
Bab 78
Dor!
Arthur menembakan pistolnya ke arah Leon, tetapi meleset karena target dengan cepat melompat ke arah sisi kanan. Dia melihat kakaknya berlindung di belakang sofa.
Dor!
Leon membalas tembakan itu kepada Arthur. Sama seperti dirinya, sang adik juga berhasil menghindari peluru yang terlontar ke arahnya. Jika sang kakak berlindung di balik sofa, berbeda dengan Arthur yang berlindung di dekat lemari hias.
Sementara itu, di halaman depan rumah para anggota Black Eyes sedang baku tembak dengan kelompok Red Hair yang ditugaskan untuk menjaga kediaman keluarga Li. Mereka sama-sama tidak mau mengalah, saling memberikan serangan dengan menembak ke arah lawan.
Dor! Dor!
Suara tembakan saling bersahutan. Anggota Red Hair sudah tahu bagian bangunan dan halaman kediaman keluarga Li yang bisa dipakai untuk berlindung dari serangan peluru lawan.
"Jangan biarkan mereka keuar hidupp-hidup di sini!" teriak salah seorang anggota Red Hair.
__ADS_1
"Baik!" sehut anak buah Red Hair lainnya.
Baik kelompok Red Hair maupun Black Eyes, tidak ada yang mau menjadi pihak yang kalah. Mereka benar-benar menjaga harga dirinya agar tetap menjadi kelompok yang kuat. Buat lawan hancur sampai tidak bersisa, itulah yang sering mendasari pemikiran para mafia ketika bertarung dengan lawannya.
Sudah banyak mayat bergelimpangan di halaman. Baik dari kelompok Black Eyes maupun Red Hair. Namun, jika diperiksa pihak lawan yang lebih banyak.
Darah, bau amis, bau mesiu, dan pesing adalah aroma yang tercium di sana. Bagi orang yang menjadi warga sipil biasa hal seperti ini pasti menakutkan. Berbeda bagi orang-orang yang sering terlibat dengan pertarungan berdarah.
"Apa kita minta bantuan kepada pusat agar dikirim orang ke sini?" tanya salah seorang anggota Red Hair karena merasa jumlah lawan masih banyak.
Arthur sengaja menjeda kedatangan anggota Black Eyes yang menyerbu ke kediaman Leon. Mereka akan masuk ke sana sekitar 10 menit sekali. Anggota yang pertama masuk sekitar 30 orang, kemudian 10 menit lagi akan masuk sekitar 15 orang yang mengawasi dari jarak yang cukup dekat. Jadi, kesannya musuh terus berdatangan.
"Aku tidak menyangka kalau Kak Leon begitu mahir menggunakan senjata. Apa dia diam-diam mempelajari semua untuk balas dendam kepadaku?" batin Arthur.
Arthur tidak tahu kalau Leon sudah belajar menembak sejak memasuki dunia kerja. Ayahnya, Jimmy Li menyuruhnya untuk belajar menembak dan beladiri. Hal ini akan sangat dibutuhkan oleh mereka yang suatu saat pasti mempunyai musuh dalam berbisnis.
Di balik kemewahan kehidupan para eksekutif muda, dunia mereka terkadang kejam. Hanya karena saingan bisnis, nyawa pun akan menjadi taruhan.
__ADS_1
Drrrrt! Drrrrt!
Leon menembak menggunakan pistol AK-47, Arthur tidak menyangka. Begitu dia menjulurkan tangannya untuk menembak ke arah sang kakak, sudah ada rentetan peluru ke arahnya.
"Aaaaa!"
Lengan Arthur terkena beberapa peluru. Tangannya sakit sekali bahkan darah pun keluar dengan deras membasahi lantai marmer di ruangan itu. Namun, dia tidak mau kalah dengan Leon. Laki-laki itu melemparkan guci yang ada di dekat lemari tempat dia bersembunyi.
Pyar!
Guci yang dilemparkan ke arah sofa menghantam dinding di dekat Leon bersembunyi. Ketika perhatian laki-laki itu teralihkan karena serangan tersebut, sang adik segera berpindah tempat persembunyian.
"Aku harus menghentikan dulu pendarahan ini," gumam Arthur yang kini duduk di balik sofa tunggal.
Arthur meminum obat penambah darah dan membubuhkan bubuk untuk mengobati luka. Meski perihnya teramat sangat dia harus melakukan ini agar pendarahannya terhenti.
Leon memperhatikan ke arah lemari tempat tadi Arthur bersembunyi. Dia tidak tahu kalau sang adik sudah berpindah tempat. Persembunyian Arthur berada saat ini adalah di samping sofa tempat Leon berlindung.
__ADS_1
***
Apakah Arthur akan berhasil membalaskan dendam Damian? Atau justru Leon yang akan membalaskan kematian Jimmy Li? Ikuti terus kisah mereka, ya!