Kaya Karena Selembar Sampah

Kaya Karena Selembar Sampah
Bab 82. Kematian Arthur


__ADS_3

Bab 82


Di gedung apartemen yang sekarang ini sudah ramai oleh suara teriakan dan tembakan. Tidak ada seorang pun penghuni ke luar dari kamarnya masing-masing. Mereka tahu kalau saat ini sedang terjadi pertemuan dua kelompok organisasi mafia.


DOR! DOR!


JEP! JEP!


Baku tembak masih berlangsung antara kedua kubu. Kelompok Mafia Red Hair dengan Black Eyes. Mereka juga tidak tahu di mana pimpinan penyerbuan ini saat ini.


'Gawat, keadaan kita semakin terdesak! Apa kita minta bantuan kepada tim pusat,' kata salah seorang anak buah Black Eyes.


Kelompok Black Eyes merasa terdesak. Anggota mereka yang ada di lantai bawah sudah habis oleh lawan sampai tidak bersisa.


Duar!


Anggota Black Eyes melempar bom granat ke arah lawannya. Kaca jendela sampai hancur dan itu memancing orang-orang yang ada di dalam gedung dan yang ada di luar gedung.


Kali ini lumayan ada beberapa anggota Red Hair yang meninggal terkena ledakan granat itu. Serangan yang cukup membuat kelompok Black Eyes senang.


Duar!


Serangan kedua menggunakan granat kembali dilancarkan oleh anggota kelompok Black Eyes. Sama seperti tadi, serangan mereka pun bisa mengalahkan beberapa anggota Red Hair dalam sekali serangan.


"Hei, kalian berani-beraninya menggunakan granat di dalam gedung tempat tinggal penduduk sipil!" teriak salah seorang anggota Red Hair.


"Kami tidak peduli! Yang penting adalah kita semua bisa mendapatkan apa yang menjadi tujuan kami," balas salah seorang anggota Black Eyes.


Meski dunia mafia memang kejam dan bisa dengan mudahnya membunuh seseorang. Namun, mereka tidak akan membunuh anak-anak dan wanita lemah yang tidak tahu apa-apa. Itu adalah perbuatan pecundang dan pengecut.


Beberapa aparat keamanan yang sedang menjaga di wilayah hotel tempat perdana menteri menginap, kaget mendengar ada suara ledakan dan pecahan kaca. Mereka pun mencari tahu ada kejadian apa.

__ADS_1


"Apa kalian sudah mendapatkan di mana sumber bunyi ledakan tadi berasal?" tanya seorang laki-laki berpangkat komandan.


"Sudah, Pak Komandan!"


"Tunjukan tempat itu! Sekarang kita akan ke sana," titah sang komandan.


"Siap, Pak Komandan!"


Beberapa orang berseragam militer langsung melesat ke apartemen yang sedang menjadi medan pertempuran dua kubu mafia. Tempat tujuan dan tempat mereka berada saat ini sangat dekat. Jadi, mereka menyerbu dengan berlari ke arah bangunan itu.


Alessio memutar arah laju kemudian berbalik kembali ke apartemen Daniel. Laki-laki itu menjadi penasaran dengan lawan yang sedang menunggunya di sana.


Kedatangan Alessio ke apartemen itu hampir bersamaan dengan kedatangan aparat militer. Namun, mereka datang dari arah jalan yang berbeda.


Dor!


"Berhenti!" teriak sang komandan saat melihat Alessio dan seorang rekannya turun dari mobil sambil memegang senjata.


JEP! JEP!


Tanpa keduanya sadari langsung menembak kepada orang berseragam aparat militer. Mereka menyerang secara membabi buta dengan menggunakan pistol.


"Aaaaaa!" teriak salah seorang aparat militer yang baru datang ke sana.


"Serang mereka!" teriak sang komandan kepada anak buahnya.


Mereka pun kompak menembak ke arah Alessio dan asistennya. Namun, kedua laki-laki itu berhasil melakukan perlawanan dengan menembakkan pistol yang memiliki kemampuan seperti pistol AK-47 yang bisa melontarkan ratusan peluru dalam satu menit.


Banyak anggota militer yang terluka meski sudah menggunakan rompi anti peluru. Tentu saja ini memancing kemarahan dari komandan tim militer. Dia pun menghubungi pusat kemiliteran.


***

__ADS_1


Leon mengarahkan moncong pistol ke arah tubuh Arthur. Kedua laki-laki satu ibu pun saling menatap tajam.


"Kamu adalah orang yang paling tidak tahu rasa terima kasih," ucap Leon.


Arthur pun tertawa. Dia mengejek kakaknya yang selalu dibanggakan oleh ayahnya. Tentu saja dia akan membela mendiang Jimmy Li. Leon tidak pernah merasakan iri dengan perhatian yang diberikan oleh ayahnya dan orang-orang di sekitarnya. Berbeda dengan dirinya yang selalu merasa iri dengan pencapaian yang didapatkan oleh sang kakak.


"Kamu tidak akan bicara seperti itu, jika mengalami apa yang sudah aku rasakan. Selalu mengalah kepada saudara dan menjadi bayangan baginya," kata Arthur?


"Kamu salah. Ibu selalu memperlakukan aku dengan cara berbeda. Ibu selalu memanjakan dirimu dengan Damian. Sedangkan kepadaku dia selalu menuntut untuk menjadi orang yang sempurna. Jika aku tidak menjadi yang pertama, maka dia akan mengurung aku di dalam lemari. Tanpa makanan dan minuman. Ibu bilang aku harus menjadi yang terbaik dari orang terbaik. Makanya aku selalu berusaha menjadi juara dan nomor satu," balas Leon.


"Lalu apa aku benci kepada ibu? Tidak, aku yakin menjadi seperti apa yang diinginkan oleh ibu adalah yang terbaik untuk aku menurut dia. Meski menurut aku masih ada cara lain untuk menjadikan aku orang yang hebat," lanjut Leon mengenang mendiang ibunya.


"Aku tidak akan pernah percaya dengan semua ucapan kamu," desis Arthur.


Tangan Arthur dengan cepat menembak ke arah Leon.


Dor! Dor!


DOR!


Leon lebih cepat menembakan pelurunya ke arah jantung dan kepala Arthur. Setelah itu Leon ambruk jatuh ke lantai. 


Nathan pun langsung memeriksa denyut nadi Arthur.


"Dia sudah meninggal," ucap Nathan.


Leon pun jatuh tersungkur ke lantai. Perutnya terkena tembakan oleh Arthur.


***


Apakah Daniel akan bisa mengalahkan Alessio? Ikuti terus kisah mereka, ya!

__ADS_1


__ADS_2