
Bab 9
"Sandra!" teriak Daniel saat terdengar letusan sebuah peluru dan mengenai gadis itu. Setelah berteriak keras gadis itu pun tidak sadarkan diri.
Nathan terbelalak saat melihat pelaku penculikan ini mengambil pistolnya yang dia selipkan di ban celana pinggangnya. Kejadian itu begitu cepat dan tidak bisa dia cegah. Namun, dengan gerakan cepat dia memutarkan tangan si pelaku dan menarik pelatuk pistol yang masih di dalam genggamannya ke arah kepala si pelaku. Detik berikutnya sebuah peluru melesat dan bersarang di kepalanya, kemudian tubuh itu menggelepar dan kejang sebelum benar-benar tidak bergerak lagi.
Dilan yang sudah mengikat kedua tangan dan kaki kedua pelaku lainnya pun langsung menyeret mereka ke pojok untuk diinterogasi.
"Daniel, kamu cepat bawa wanitamu ke rumah sakit! Urusan di sini biar kita yang urus," titah Dilan agar pemuda itu segera pergi untuk menyelamatkan istrinya.
Daniel membopong tubuh Sandra dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju Rumah Sakit King. Dia berharap kalau perempuan itu tidak tertembak di bagian vital agar tidak membahayakan hidupnya.
***
Terlihat Damian baru sampai ke bandara. Dia pulang karena mendengar Leon kecelakaan dan dia harus mengurus perusahaan selama kakaknya itu melakukan pemulihan. Langkah kaki yang lebar dengan wajah terlihat tenang, dia melihat ada seorang yang datang menjemputnya.
"Apa Kak Leon masih di rumah sakit?" tanya Damian kepada laki-laki muda berpakaian rapi.
"Iya, Tuan. Apa Tuan mau ke rumah sakit dahulu atau langsung ke perusahaan?" tanya laki-laki itu sambil membukakan pintu mobil untuk Damian.
"Ke perusahaan saja. Nanti sore aku bisa menjenguknya," jawab Damian yang kini sudah merasa lelah karena hampir 24 jam dia melakukan perjalanan.
Ketika mobil Damian melewati jalanan lurus tanpa tanjakan, pudunan, dan belokan, tiba-tiba saja saat mobil lewat ada sesuatu yang meledak dan membuat kendaraan itu terlempar oleh suatu dorongan yang besar sehingga membentur pembatas jalan.
Asap membumbung tinggi dari mobil yang ditumpangi oleh Damian. Laki-laki yang menjemput tadi keluar dari mobil dengan tubuh bersimbah darah. Lalu, dia mengeluarkan tubuh tuannya dari mobil dan segera menjauh dari sana dengan menyerat tubuh Damian karena tidak sadarkan diri. Tidak lama kemudian mobil yang itu pun meledak dan membuat tubuh kedua orang tadi terhempas jauh akibat efek kekuatan ledakan.
__ADS_1
***
Leon mendengar laporan dari asistennya kalau kecelakaan yang menimpanya itu akibat kejahatan seseorang atau sekelompok orang. Dia memberi tahu semua hasil penyelidikan dari polisi.
"Apa kelompok Black Eyes ikut terlibat dalam kecelakaan itu?" tanya Leon.
"Para polisi belum mendapatkan bukti keterlibatan mereka, Tuan," jawab sang asisten.
Leon pun mengangguk. Hati kecilnya dia merasa kalau Peter ikut terlibat dalam semua kejadian yang menimpa keluarganya. Dulu ketua dari kelompok mafia Black Eyes ini meminta salah pabrik milik perusahaan untuk dijual kepada mereka, tetapi Tuan Jimmy Li tidak mau.
"Sayang, sudah terjadi sesuatu kepada Sandra. Dia diculik!" teriak Sindy histeris begitu masuk ke dalam ruangan suaminya.
"Apa? Bagaimana bisa itu terjadi?" pekik Leon dan langsung memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit kembali.
"Barusan aku terima pesan dari Mery kalau Sandra tiba-tiba menghilang dari kampus dan sekarang Daniel sedang mencarinya," balas wanita itu sambil berderai air mata.
Wanita ini belum mengatakan kalau Sandra sedang disekap oleh seseorang dan meminta tebusan sebanyak 100 juta Yuan. Dia tidak mau kalau keadaan suaminya semakin memburuk dengan memikirkan keadaan putri mereka. Uang sebanyak itu sedang dia persiapkan melalui kepala pelayan di rumahnya. Tadi, dia menyuruh untuk mencairkan uang di bank. Namun, uang sebanyak itu tidak bisa disiapkan dalam waktu sebentar.
"Cepat cari tahu keberadaan Sandra dan selamat dia! Kalau perlu libatkan juga polisi jika kamu tidak bisa menyelamatkan putriku," perintah Leon kepada asistennya.
Leon semakin merasa kepalanya sakit, seharusnya nanti sore dia sudah bisa pulang, kini malah semakin sakit dia rasakan pada kepalanya. Kemudian dia teringat kepada adik bungsunya.
"Sayang, hari ini Damian pulang. Seharusnya dia sudah sampai ke negara ini. Apa ada orang yang sudah disuruh untuk menjemputnya?" tanya Leon kepada Sindy.
"Ya, dia sudah sampai dan dalam perjalanan ke sini," jawab Sindy.
__ADS_1
Kedua pasangan ini tidak tahu kalau Damian sedang mengalami kecelakaan di jalan raya. Tiba-tiba saja handphone milik Sindy bergetar dan ada panggilan masuk dari Daniel.
"Ada apa Daniel? Jangan bilang kalau kamu tidak bisa menemukan putriku!" pekik Sindy sambil pergi dari ruangan itu.
"Aku berhasil menyelamatkan Nona Sandra. Namun, dia mengalami luka tembak. Saat ini dia sedang berada di ruang perawatan," balas Daniel di seberang sana.
"Apa?" Sindy merasa takut terjadi sesuatu kepada putrinya.
Tanpa membuang waktu, wanita paruh baya itu pun pergi ke tempat di mana Sandra sedang dirawat saat ini. Dia tidak akan memaafkan Daniel karena sudah membuat putrinya terluka.
***
Sementara itu, di suatu ruangan yang berlatar bangunan-bangunan pencakar langit, terlihat seseorang sedang duduk di kursi kebesarannya. Orang itu adalah Peter, ketua kelompok mafia Black Eyes.
"Bagaimana, apa rencana kita berjalan lancar?" tanya Peter kepada orang yang berdiri di depannya.
"Semua berjalan dengan lancar Tuan. Mobil yang ditumpanginya oleh Damian Li meledak di jalan Guang. Saat ini belum diketahui keadaanya orang itu karena polisi keburu datang atas laporan saksi mata," jawabnya.
"Hmmm, tidak masalah. Sebaiknya kita pikirkan rencana untuk merebut lahan bekas reruntuhan pabrik Li itu. Sampai saat ini tempat itu masih sering di datangi oleh para polisi," ucap Peter sambil mengetuk-ngetuk pencil di atas meja kerjanya.
Kini Peter seorang diri di dalam ruangan itu. Lalu tiba-tiba di melemparkan anak panah ke sebuah papan yang terpasang beberapa foto keluarga Li. Panah itu menancap di foto Sindy.
"Sepertinya sekarang giliran nyonya Li," ucapnya sambil menyeringai senang.
***
__ADS_1