
Bab 7
"Daniel ambil langkah yang bisa menyelamatkan nyawa kita dulu. Aku tidak mau mati saati ini!" perintah Sandra ketika rasa ketakutan menyusup ke dalam hatinya.
Gadis itu baru tahu kalau ancaman untuk keluarganya tidak akan pernah selesai dan akan terus datang silih berganti menimpa seluruh anggota keluarga Li.
'Ya, ini pasti ulah orang yang menjadi saingan bisnis keluarga Li. Kalau bukan karena hal itu mana mungkin kejadian yang mengancam nyawa keluarga kami terus menerus datang menghantam,' batin Sandra.
Daniel yang mendapat perintah seperti itu langsung saja menunjukkan keahliannya dalam melajukan kendaraan. Dia menambah kecepatan dan menyalip banyak kendaraan. Namun, orang yang mengejar mereka dengan menggunakan motor bisa mengikuti jejaknya. Kedua penunggang kuda besi itu juga ikut menambah kecepatan dan bisa dengan mudahnya menyalip kendaraan di depannya.
'Hebat juga mereka. Dengan motor memang memudahkan mereka melakukan pengejaran,' batin Daniel yang masih melajukan mobilnya dengan kencang.
"Nona, tutup matamu! Apa pun yang terjadi jangan buka mata sampai aku menyuruhmu," kata Daniel yang kini memilih jalan ke luar kota.
"Apa, berani-beraninya kau memerintahku?"
Sandra tidak suka diperintah oleh Daniel yang dianggap seorang sopir rendahan. Mata dia malah melotot dan tidak mau mendengarkan ucapan pemuda itu.
"Hei, ini jalan menuju ke luar kota! Kamu jangan macam-macam sama aku, ya!" teriak Sandra panik karena takut Daniel akan berbuat jahat kepadanya.
Daniel seakan menulikan telinganya dari teriakan dan ocehan Sandra. Begitu dia berhasil ke luar kota, mobil dilajukan dengan kecepatan tinggi sampai Sandra menjerit-jerit.
Jalanan di perbatasan antar kota cenderung sepi apalagi dengan adanya hutan. Daniel pun membanting stir ke kanan jalan begitu di sebuah tikungan tajam. Dia membawa mobilnya ke hutan dan menyembunyikan di balik sebuah pohon besar.
Napas kedua orang penumpang di dalamnya itu memburu. Daniel melihat ke belakang saat mendengar suara deru motor. Namun, mereka tidak melihat mobil yang disembunyikan oleh Daniel. Kedua pengendara motor itu melewati tempat persembunyiannya.
"Apa mereka sudah pergi jauh?" tanya Sandra sambil melihat ke sekitar hutan.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Kita tunggu lima belas menit. Siapa tahu mereka kembali lagi putar arah saat sadar tidak ada jejak mobil kita saat memasuki hutan lebih dalam lagi," jawab Daniel sambil melirik ke arah Sandra.
Ternyata benar saja motor itu putar arah kembali setelah lima menit kemudian. Ini membuat si gadis itu sempat panik karena takut ketahuan.
"Tenang, mereka tidak akan bisa menemukan kita," ucap Daniel sambil menutup mulut Sandra yang terus saja meracau panik.
"Diamlah selama sepuluh menit. Setelah itu kita akan ke luar dari sini," lanjut pemuda itu sambil menatap ke arah mata Sandra dan gadis itu hanya mengangguk.
***
Daniel dan Sandra berhasil ke luar dari hutan itu dan kembali ke kota. Dalam perjalanan ini gadis itu tidak berbicara sedikit pun. Perasaannya masih diliputi ketakutan.
Begitu sampai rumah sakit, dia bersedih melihat keadaan ayahnya yang sedang tidur tidak berdaya dengan kepala dibalut perban dan luka-luka lecet di sekujur tubuhnya.
"Apa Papa baik-baik saja?" tanya Sandra kepada Sindy.
"Ya. Papa sudah sadar tadi dan sekarang sedang tidur siang," jawab wanita yang dandanannya anggun.
"Aku juga barusan dikejar-kejar oleh para penjahat sampai kita putar arah ke luar kota dan masuk ke hutan. Untung saja kita berhasil lolos dari kejaran mereka," aku Sandra kepada ibunya.
"Apa? Bahkan kamu juga diincar oleh mereka!" pekik Sindy terkejut lalu dia memeriksa keadaan sang anak.
Sandra pun menceritakan apa yang sudah tadi dia alami. Ketakutan yang dia rasakan saat itu dan berpikir kalau semua itu adalah ulah saingan bisnis keluarganya.
"Daniel, ingat tugas kamu sebagai penjaga bagi Sandra. Jangan sampai sesuatu pada putriku! Jika itu terjadi maka aku tidak akan berdiam diri," kata Sindy mengancam menantunya.
"Tentu saja aku akan melindungi Sandra karena dia adalah istriku," balas Daniel dan itu sukses membuat kedua wanita beda generasi itu menganga.
__ADS_1
***
Keesokkan harinya Sandra di antar kuliah oleh Daniel. Kali ini mereka pergi dengan menggunakan mobil baru agar tidak diketahui oleh musuh.
"Nona dengarkan aku, meski sedang berada di kampus, kamu harus tetap waspada. Apalagi terhadap orang baru yang belum dikenal," kata Daniel.
"Iya. Cerewet sekali kamu, ini sudah kesepuluh kalinya kamu bicara seperti itu sejak dalam perjalanan," balas Sandra dengan kesal.
"Sebelum aku datang menjemput, kamu dilarang ke luar area kampus," lanjut Daniel dan diiyakan oleh Sandra dengan nada malas.
Setelah mengantarkan Sandra kuliah, Daniel datang ke sebuah cafe dekat stasiun. Kemarin dia sudah janjian dengan seseorang.
Saat masuk ke cafe dia melihat orang yang dikenalnya. Lalu Daniel pun duduk di meja sampingnya. Kedua orang itu pura-pura tidak saling mengenal.
Saat ini Daniel juga sedang menyamar menjadi seorang laki-laki dengan perut buncit dan rambut memakai wig. Lalu dia memanggil pelayan cafe untuk memesan minuman.
Setelah selesai dia pun beranjak pergi dari sana. Tanpa bicara apa pun dia mengambil paper bag yang diletakan di samping kaki kursi orang kenalannya, saat dia hendak berdiri. Setelah itu dia pergi meninggalkan cafe itu.
Begitu Daniel masuk ke dalam mobil, dia mengeluarkan isi dari paper bag. Ada sebuah kotak di dalam sana, lalu dibuka olehnya dan terlihat ada sebuah kalung dengan liontin yang indah.
***
Sandra merasa ingin buang air kecil dan meminta izin kepada dosennya. Dia pun berlari ke deretan toilet khusus untuk mahasiswi. Begitu dia keluar dari sana, ada seseorang menutup hidung dan mulut Sandra dari belakang. Gadis itu sempat memberontak, tetapi akhirnya tidak sadarkan diri.
Di waktu yang bersamaan muncul seseorang membawa sebuah kotak kontainer berukuran besar. Lalu, orang tadi memasukan Sandra ke dalamnya dan dibawa pergi dari sana.
***
__ADS_1