
Bab 19
Daniel dan kedua temannya kini menyamar sebagai pelayan di mansion milik Peter. Dengan keahlian Dina mereka bisa menyamar menjadi orang yang bekerja pada kelompok Black Eyes. Mereka melayani para tamu undangan yang tidak terlalu banyak juga tidak terlalu sedikit. Sepertinya tidak ada undangan untuk orang lain selain orang-orangnya sendiri.
Ketiga orang itu memakai alat bantu untuk merekam dan alat komunikasi di balik kancing baju paling atas dan anting yang dipasang di telinga. Mereka tidak bisa membawa pistol ke sana karena akan terdeteksi saat masuk ke mansion.
Mereka berpencar untuk memperoleh banyak informasi. Daniel sengaja melayani orang-orang yang berada di dekat anak tangga. Nathan melayani tamu yang ada di dekat pintu masuk. Sementara Dilan dibagian tengah ruang pesta.
'Damian? Bukannya itu Damian Li? Kenapa dia ada di sini?' tanya Daniel saat melihat sosok yang dia kenal sebagai anak kedua dari Jimmy Li.
Rasa penasaran yang tinggi membuat Daniel terus memerhatikan laki-laki yang ada di lantai dua. Sosok itu terlihat karena berdiri di dekat pagar pembatas. Rasanya dia ingin naik ke atas, tetapi semua pelayan berada di lantai satu untuk melayani mereka yang datang.
'Aku harus cari tahu apa hubungan Damian dengan kelompok Black Eyes,' batin Daniel masih melihat ke arah laki-laki yang sedang berbicara dengan seseorang yang menunggangi sehingga tidak terlihat wajahnya seperti apa.
Semakin malam acara pesta semakin meriah. Peter juga sudah mengajak semua tamu undangan untuk bersulang. Dia berada di lantai atas dan melihat ke bawah untuk menyapa anak buahnya.
"Bersenang-senanglah kalian malam ini, karena aku ingin semua orang bisa bahagia di hari ulang tahun aku yang ke-65 tahun ini," kata Peter dan disambut gembira oleh mereka semua.
Daniel ingat betul wajah laki-laki tua itu. Dulu saat masih kecil dia beberapa kali melihat mukanya yang kaku tanpa ekspresi seperti ayahnya. Orang yang beberapa kali bersitegang dengan Osama di mana pun mereka bertemu.
Semakin larut malam orang-orang semakin gila kelakuannya. Mereka menari sambil bernyanyi dalam keadaan setengah mabuk karena sudah begitu banyak minuman beralkohol yang mereka minum. Bahkan ada beberapa pasangan yang bercumbu di pojok ruangan atau di halaman. Dengan memanfaatkan situasi seperti ini Daniel dan teman-temannya menyusup naik ke lantai atas di mana para anggota elit kelompok Black Eyes berada.
Daniel naik ke lantai dua dengan berlari kencang saat menaiki anak tangga. Lalu, dia mengendap-endap begitu menelusuri lantai dua. Terlihat di suatu ruangan yang cukup luas ada beberapa orang di sana sedang tertawa dan bercanda.
__ADS_1
"Karena kita mendapatkan blue print pabrik Li dan foto-foto yang ada di brankas milik Jimmy Li. Jadi, kita bisa tahu di mana letak harta karun itu," kata Peter diiringi tawa bahagianya.
Daniel tersentak saat tahu ada barang yang dicuri dari keluarga Li. Hatinya bertanya-tanya, bagaimana bisa kelompok mereka bisa mendapatkan barang yang disembunyikan dan dijaga ketat oleh Tuan Jimmy Li, bahkan dia yang sudah 3 tahun bersama dengannya saja tidak tahu di mana letak brankas itu.
"Kita secepatnya harus segera menggali harta itu," lanjut yang lainnya.
"Sebaiknya kita menunggu sampai datangnya musim panas ini. Bagaimanapun juga akan memakan banyak waktu dan tenaga untuk melakukan penggalian itu," ucap seorang laki-laki yang berdiri memunggungi Daniel.
'Apa? Jadi ada harta karun terpendam di pabrik Li itu. Pantas saja ada yang mengincar tempat itu, bukan pabrik utama atau kantor pusat,' batin Daniel.
Dor! Dor! Dor!
Tiba-tiba saja terdengar rentetan tembakan di lantai bawah. Selain itu juga terdengar suara teriakan orang-orang yang memekakan telinga.
'Si_al, disaat seperti ini malah datang gangguan,' umpat Daniel dalam hatinya.
Orang-orang dari golongan elit pun langsung mengeluarkan senjata mereka masing-masing. Begitu juga dengan partner atau ajudan mereka. Daniel sendiri bingung karena tidak membawa senjata saat masuk ke dalam sana. Lalu, dia mencari sesuatu yang bisa dia jadikan sebagai senjata. Ada sebuah patung besi berbentuk prajurit yang memegang sebuah tombak. Melihat itu membuat Daniel senang, setidaknya dia masih punya alat saat melawan musuh-musuh.
"Daniel, kamu harus lari dari sini!" perintah Nathan lewat alat komunikasi berbentuk anting.
"Kenapa?" tanya Daniel tidak mengerti.
"Banyak anggota Red Hair melakukan pengepungan dan menyerbu ke sini. Kalau kamu sampai tertangkap juga oleh mereka, kemungkinan kamu akan diseret pulang dan menggantikan posisi ketua Red Hair," jawab Nathan.
__ADS_1
Mendengar hal ini tentu saja Daniel marah dan tidak bisa berbuat apa-apa selain kabur dari sana. Padahal dia belum mendapatkan informasi penting yang ada di reruntuhan pabrik Li. Seperti dugaan dia selama ini, kalau di tempat itu ada sesuatu yang berharga dan diinginkan oleh kelompok Black Eyes.
Suara baku tembak semakin terdengar gencar dan juga teriakan kelompok Black Eyes yang mengumpat dan mengutuk kelompok Red Hair. Namun, Daniel tidak memedulikan hal itu karena dia juga terus berlari dari kejaran kelompok Red Hair yang berhasil naik ke lantai dua.
'Aku harus segera keluar dari sini,' ucap Daniel dalam hatinya.
Dia masuk ke salah satu kamar dan melihat keadaan diluar jendela. Jarak jendela ke tanah tidak lebih dari 4 meter, dia masih bisa melompat dari sana. Akhirnya Daniel bisa keluar dari mansion itu keluar lewat jendela kamar dan turun melalui lompatan. Segera saja dia bergabung dengan Nathan dan Dilan yang dekat pohon yang dipojok benteng.
Suara tembakan yang saling beradu dan teriakan dari orang-orang yang merasa kesakitan terdengar sampai ke luar bangunan itu. Dina pun membawa mobil dan menjemput ketiga laki-laki itu.
"Kenapa mereka malah datang di saat ini?" Daniel merasa sangat kesal sekali karena apa yang sudah mereka rencanakan mengalami gagal akibat serangan mendadak dari kelompok ayahnya.
"Setidaknya aku berhasil mendapatkan wajah orang-orang yang ikut tergabung di kelompok Black Eyes," ujar Nathan dengan sedikit senang. Nanti dia akan mencari identitas mereka satu persatu.
Mendengar itu Daniel jadi teringat kepada Damian. Dia yakin kalau orang yang dilihatnya tadi adalah pamannya Sarah.
'Kenapa Damian ada di sana? Apakah keluarga Li termasuk anggota kelompok Black Eyes? Tapi, kenapa malah menghancurkan pabrik yang masih beroperasi itu? Atau diam-diam keluarga Li bersitegang dengan Peter dan berniat untuk saling mengalahkan dan menjadi yang terhebat dan terkuat?' Otak Daniel terus berpikir.
Kepala Daniel terasa mau pecah karena terus saja memikirkan semua hal yang sudah terjadi kepada keluarga Li. Bagi dia sungguh sangat kejam jika keluarga Li itu benar-benar masuk ke dalam kelompok Black Eyes.
***
__ADS_1