
Bab 45
Daniel berlari ke lantai atas, dia berharap kalau Sandra ada di sana dalam keadaan baik-baik saja. Sementara itu, di halaman pabrik anggota Black Eyes turun dari mobil mereka sambil membawa pistol masing-masing.
Dor! Dor!
Mereka yang baru saja akan masuk ke dalam gedung mendapatkan serangan mendadak. Mereka tidak menyangka kalau akan ada yang menyerang secara tiba-tiba seperti ini.
DOR! DOR!
Dor! Dor!
Anggota Black Eyes menembak ke arah hutan karena mereka yakin musuh bersembunyi di sana. Beberapa orang sudah terkapar tidak bergerak. Sebagian langsung bersembunyi mengindari peluru.
Dor! Dor!
DOR! DOR!
Baku tembak terjadi di depan bangunan pabrik kayu. Banyak anak buah Black Eyes menjadi korban.
"Siapa mereka?" tanya salah seorang anggota Black Eyes.
"Tidak tahu. Mungkin saja mereka dari kelompok Red Hair," jawab rekannya yang bersembunyi di balik badan mobil.
Dor! Dor!
"Oh, tidak! Mereka menembaki semua ban mobil milik kita," pekik anggota Black Eyes yang lainnya.
__ADS_1
Marco dan beberapa anggota kelompok Red Hair bersembunyi di balik pohon dan di atas pohon. Mereka mendapat perintah dari Osama untuk menyelamatkan Sandra setelah tadi menerima laporan dari orang suruhannya.
"Jangan sampai ada musuh yang lolos!" titah Marco kepada bawahannya.
"Baik, Tuan!" balas mereka kompak.
Dilan dan Nathan masih memberikan perlawanan terhadap beberapa anak buah Balck Eyes dibawah komando Damian. Keduanya melawan musuh dengan mengandalkan pistol rampasan dari mereka. Meski tubuh mereka sudah dalam keadaan terluka, tetapi tetap terus menguatkan dirinya untuk melawan.
"Mereka itu seperti tidak ada habisnya," gumam Dilan sambil membalut luka tembak di lengan tangan kanan.
Dilan merobek kain di bagian lengan untuk digunakan membalut agar darahnya tidak terus mengalir keluar. Dia sudah lebih dari tiga peluru mengenai tubuhnya
Begitu juga dengan Nathan yang kedua kakinya terkena luka tembakan di paha kanan dan kiri. Bahu kiri dan lengan kanan.
"Apa aku akan mati di sini sekarang? Rasanya aku tidak rela kalau harus mati sebelum menikah," ucap Nathan sambil meringis menahan rasa kesakitan.
Nathan sangat berharap kalau Osama mengirimkan anak buahnya. Jujur saja mana bisa mereka bertiga melawan begitu banyak musuh dengan senjata yang lengkap dan banyak. Sementara mereka, hanya bertiga di bantu oleh segelintir orang dengan membawa senjata cuma seadanya saja.
Dilan juga mendengar baku tembak di luar, dia yakin kalau kelompok Black Eyes yang baru saja datang itu beradu senjata dengan kelompok Marco. Dia merasa kalau orang yang memata-matai Daniel sudah memberikan laporan kepada Marco atau Osama.
***
Kaki Daniel terasa mulai kebas karena kehabisan banyak darah dan memaksakan diri untuk terus berlari mengejar sang istri. Dia juga sudah merasakan tubuhnya mulai lemas, tetapi jika mengingat Sandra maka dia akan kembali semangat. Demi istri dan calon buah hati mereka, laki-laki itu harus berjuang membawa keduanya pulang dalam keadaan selamat.
'Peluru ada tiga di dalam pistol. Apa akan cukup untuk melawan mereka?' batin Daniel yang jalan sudah terseok-seok.
Sandra menatap pamannya yang sedang berbincang dengan ayahnya. Wanita itu tidak bisa bergerak karena tangannya diborgol pada sebuah tiang.
__ADS_1
"Katakan di mana emas batangan lainnya?" tanya Damian kepada Leon melalui telepon.
"Bukannya emas batangan itu sudah diambil oleh Peter? Kamu sendiri tahu itu, 'kan?" balas Leon dengan gusar.
"Peter bilang kalau dia membagi emas batangan itu ke beberapa peti dan dia baru mendapatkan satu peti. Berarti masih ada satu peti lagi," ujar Damian.
"Mana aku tahu. Kalian cari saja di reruntuhan pabrik!" titah Leon dengan nada tinggi.
"Sekarang bebaskan Sandra!" lanjut Leon memberikan perintah kepada adiknya.
"Tidak. Sebelum aku mendapat sisa harta karun itu," balas Damian dengan tegas.
Daniel melihat ada sekitar lima orang anak buah Damian di sana. Mereka berpencar di beberapa titik. Ada dua orang yang berdiri di dekat Sandra dengan pistol mengarah kepadanya.
'Dasar Damian breng_sek! Keponakan sendiri dijadikan tawanan hanya untuk mendapatkan harta karun untuk bosnya,' batin Daniel.
Dor! Dor!
Daniel menembak kepala orang yang berdiri di dekat Sandra. Kedua orang itu langsung terkapar lalu mati. Sisanya langsung memberikan tembakan balasan kepada Daniel.
Dor! Dor!
Tubuh Daniel langsung roboh begitu mendapatkan beberapa tembakan yang tepat mengenainya. Sandra yang melihat itu berteriak histeris.
"Tidak Daniel. Aku mohon jangan mati!" Sandra merasa tubuhnya lemas dan tidak bertenaga.
***
__ADS_1
Apakah Sandra akan bisa selamat? Bagaimana dengan Daniel? Ikuti terus kisah mereka, ya!