
Bab 120
Peter merasakan kesakitan karena dada dan perutnya terkena tembakan yang dilancarkan oleh Nathan. Laki-laki itu berusaha mengangkat tangannya yang memegang pistol. Namun, belum juga dia menarik pelatuk sebuah peluru mengenai tangan itu sehingga senjata yang dipegangnya jatuh.
"Aku tidak akan membiarkan kamu menarik pelatuk lagi," ucap Nathan.
Terlihat sekali kebencian dari sorot mata pemuda itu. Daniel yang juga punya dendam kepada Peter ingin dia yang menghabisinya.
"Daniel, izinkan aku menyelesaikan urusan yang sudah tertunda selama 25 tahun ini," ucap Nathan.
Daniel terkejut mendengar ucapan temannya. Dia tidak tahu urusan Nathan dengan Peter di 25 tahun lalu. Dalam hatinya suami Sandra ini merasa penasaran dengan hal itu.
Bukan hanya Daniel yang penasaran dengan apa yang sudah terjadi di antara dua laki-laki berbeda generasi itu. Peter pun sama penasaran, kenapa orang yang tidak pernah berurusan langsung dengannya, punya masalah selama 25 tahun.
"Kenapa? Kamu merasa tidak punya masalah dengan aku?" tanya Nathan dengan senyum mengejek.
Peter masih diam memperhatikan Nathan. Matanya melebar saat pemuda itu menunjukkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk elips dengan batu permata berwarna safir. Dia tahu benda itu milik siapa.
"Itu kalung milik Thalia?" tanya Peter ragu.
"Ya. Ini kalung milik ibu kandungku," jawab Nathan dengan seringai menghiasi wajahnya saat melihat tubuh Peter limbung.
Peter mendapat kabar kabar mantan sekretarisnya itu kabur dalam keadaan hamil. Dia mengerahkan banyak orang untuk mencari keberadaannya. Dia pernah bertemu dengan Thalia setelah wanita itu melahirkan anak kembar. Namun, keesokan harinya dia kehilangan lagi wanita yang dicintainya itu. Lagi-lagi Thalia kabur darinya.
Beberapa tahun kemudian Peter mendapatkan kabar keberadaan Thalia bersama kedua anak kembarnya. Sayangnya saat itu dia sedang berada di Eropa dan sedang terjadi badai sehingga tidak bisa melakukan penerbangan.
Begitu dia datang ke lokasi yang diduga sebagai rumah yang ditinggali oleh Thalia dan kedua anaknya. Peter hanya mendapatkan tempat itu sudah berubah menjadi puing-puing arang dan abu. Lalu, sekarang di depannya berdiri seorang pemuda yang mengaku sebagai anak Thalia. Dia yakin kalau Nathan adalah anaknya.
"Jadi, kamu ... anakku?" Peter merasa senang karena putra dari wanita yang dicintainya masih hidup.
"Aku tidak mau mengakui kamu sebagai Papaku," balas Peter.
Laki-laki tua itu terdiam. Dia paham kenapa Nathan bisa bicara seperti ini.
"Lalu, bagaimana dengan kembaran kamu?" tanya Peter.
"Mungkin saat ini dia sudah membunuh putri kesayangan kamu, Maria," jawab Nathan dengan tersenyum lebar.
__ADS_1
Peter sangat terkejut mendengar ucapan Nathan. Bagaimana mungkin orang yang sudah mati dan dikubur bisa dibunuh lagi.
"Wah, sepertinya kamu tidak tahu kalau Maria yang dahulu mati di Pulau Coral itu adalah palsu. Dia adalah stuntmen yang sering menggantikan Maria," ujar Daniel tersenyum miring.
Peter sungguh tidak tahu apa-apa. Bahkan pertarungan ini untuk membalaskan dendam kematian putrinya yang sudah dibunuh oleh kelompok Red Hair. Namun, ucapan Daniel malah membuat dirinya terkejut.
"Melihat reaksi kamu seperti itu, aku yakin kalau rencana yang dilakukan oleh putrimu ini tidak melibatkan dirimu. Sungguh kasihan sekali hidup kamu. Tidak pernah dianggap keberadaan dirimu oleh semua anak-anakmu," kata Daniel lagi.
Benar apa yang dikatakan oleh Daniel, Peter merasa keberadaan dirinya tidak berarti bagi anak-anaknya. Padahal dia begitu menyayangi mereka semua. Hatinya sangat sakit, melebihi rasa sakit dada atau perutnya yang terkena peluru.
"Sepertinya waktuku tidak akan lama lagi. Tapi, aku senang bisa melihat putraku yang hilang sebelum aku mati," kata Peter sambil menatap Nathan dengan berlinang air mata.
DOR!
Tanpa diduga Peter menembakkan pistol ke kepalanya. Tentu saja hal ini membuat Daniel dan Nathan terkejut. Mereka tidak menduga kalau laki-laki tua itu masih mempunyai senjata yang disembunyikan olehnya. Tubuh tinggi besarnya jatuh ke lantai.
Kematian Peter pun menjadi akhir dari pertempuran mereka. Kini markas Black Eyes sudah berhasil dikuasai oleh kelompok Red Hair. Anggota Black Eyes yang tersisa kebanyakan memilih menyerah dan di penjara.
Aparat kepolisian tidak bisa terlibat seenaknya dalam pertempuran kelompok Mafia. Mereka bahkan tidak boleh membantu membereskan semua kekacauan itu. Anggota Black Eyes yang meninggal semua dikubur di salah satu tempat pemakaman baru. Begitu juga dengan mayat yang ada di markas Red Hair atau yang ada di villa semua disatukan dalam satu komplek.
***
"Kita harus ikhlas, biar papa juga merasa tenang dan senang," ucap Sandra sambil merangkul suaminya.
Leon dan Sindy juga hadir di pemakaman itu. Mereka memberikan penghormatan terakhir untuk besannya. Mereka juga merasa kehilangan laki-laki yang juga sudah dianggap orang tua.
***
Beberapa minggu kemudian ....
Sandra sedang berjuang melahirkan anak pertamanya. Daniel memaksa ingin menemani sang istri dalam proses persalinan. Mendengar suara teriakan dan kesakitan wanita itu membuatnya menangis.
"Ayo, Sayang! Kamu bisa," kata Daniel memberikan semangat.
Sandra mengejan dan bayi itu pun keluar dengan suara tangisan yang nyaring. Sampai Leon dan Sindy yang berada di depan ruang persalinan bisa mendengarnya.
Kelahiran putra Sandra yang menjadi calon ahli waris keluarga Li disambut gembira oleh semua orang. Lisa yang tubuhnya masih dibalut perban pun ikut merayakan kelahiran penerus tuannya.
__ADS_1
"Putra kalian akan diberi nama siapa?" tanya Nathan.
"Jimmy," jawab Daniel.
Nama dari orang yang dianggap berarti oleh Daniel. Sandra pun merasa senang karena putra pertama mereka diberi nama yang sama dengan kakek kesayangannya.
"Kalau begitu nanti anaknya Dian, dikasih nama Dilan Junior," ucap Nathalie dan semua orang tertawa menyetujui ide perempuan itu.
***
Tujuh tahun kemudian ....
"Jimmy ... Osama! Cepat bangun, atau kalian mau mendapatkan hukuman dari guru Ryu," teriak Sandra dari dapur.
Kegaduhan di pagi hari kerap terjadi setiap hari di rumah Daniel. Laki-laki itu tidak pernah merasa terganggu dengan omelan sang istri atau rengekan anak-anaknya.
"Papa, jalan-jalan ke hulu sungai, yuk!" ajak seorang gadis kecil yang datang menghampiri Daniel.
"Diana, sudah minta izin sama Mama?" tanya Daniel. Dia tidak mau kalau nanti istrinya mengomeli dirinya dan berakhir dia tidur memeluk guling.
Putri kecil Daniel yang berusia tiga tahun itu menggelengkan kepala. Dia tahu ibunya tidak akan memberikan izin untuk pergi ke sana.
Terlihat Osama melambaikan tangan ke arah adiknya. Diana pun datang menghampirinya.
"Kita pergi ke sana saat papa dan mama pergi ke pabrik," bisik Osama dan Diana merasa sangat senang.
"Kita pergi berdua?" tanya Diana.
"Ya, ajak Kak Jimmy. Nanti kalau papa dan mama marah, biar Kak Jimmy saja yang dimarahi," jawab Osama.
Kedua anak kecil yang cerdik itu pun tertawa cekikikan. Selama ini mereka selalu lolos dari kemarahan Daniel dan Sandra. Sementara itu, Jimmy hanya menghela napas pasrah. Dia terlalu sayang sama adiknya, jadi akan selalu menjaga dan melindungi mereka.
TAMAT
***
Terima kasih sudah membaca karya aku ini. Ambil nilai baiknya dan jangan tiru keburukan dalam cerita ini. Sampai bertemu di karya aku yang lainnya.
__ADS_1