
Bab 84
Jantung Nikolas berdetak kencang. Laki-laki itu kini sedang bersembunyi di atas lemari pakaian. Tubuhnya mepet ke tembok dalam keadaan meringkuk. Terdengar ada beberapa langkah orang yang masuk ke ruang ini.
"Apa salah satu pelaku ada yang bersembunyi di sini?" tanya salah seorang petugas keamanan kepada rekan kerjanya.
"Iya, aku rasa seperti itu. Lihat saja pintunya bisa dibuka dengan mudah karena tahu sudah rusak. Sebaiknya kita mencari dia dengan seksama, jangan buat kekacauan."
Kelima orang berseragam itu membuka satu persatu tempat yang diduga menjadi persembunyian penjahat. Mereka membuka pintu toilet dengan kuat, padahal tidak ada di sana.
Setelah lebih dari lima menit akhirnya orang-orang itu meninggalkan kamar apartemen. Ini membuat Nikolas tenang. Meski begitu dia belum bisa ke luar dari tempat persembunyiannya.
'Aku harus bisa bertahan dari jebakan mereka, agar bisa meloloskan diri' batin Nikolas.
***
Alessio dan asistennya juga berhasil bersembunyi dari kejaran para aparat keamanan. Tadi mereka sempat terjadi baku tembak dan beberapa pihak keamanan terkena tembak.
Kedua orang itu bersembunyi di saluran udara. Mereka tidak bisa berkutik saat banyak sekali pasukan tiba-tiba datang menyerbu.
"Siapa yang sudah membuat strategi perencanaan untuk melakukan penyerangan malam ini?" gumam Alessio.
"Aku dengar ini rencana Nikolas dan Arthur," jawab sang asisten.
__ADS_1
"Mereka bodoh melakukan penyerangan di tempat yang kekuatan militer di tingkatkan seperti ini. Aku rasa anggota lawan ataupun kawan senang dengan keadaan sekarang ini. Bisa dibilang kelompok mereka sama-sama merasakan kekalahan," lanjut sistemnya Daniel.
Alessio membenarkan ucapan orang yang menjadi kaki tangannya sudah sekitar 3 tahun ini. Meski dia bukan perancang strategi yang hebat, tetapi untuk bisa mengalahkan musuh dirinya selalu berjuang keras.
"Sepertinya kita harus cari cara yang tidak terlalu mencolok agar bisa meloloskan diri dari sini," ucap Alessio dan dibenarkan oleh asistennya.
***
Pagi hari Daniel mendapatkan laporan dari Nathan kalau saat ini Leon sedang dalam keadaan kritis. Mertuanya itu mendapatkan banyak luka dan mengakibatkan kekurangan banyak darah.
"Lalu, bagaimana dengan keadaan Sandra?" tanya Daniel sedikit panik.
Sejak beberapa hari belakangan ini, perasaan Daniel tidak tenang. Dia terus merasa gelisah hanya dengan memikirkan keadaan istri dan calon bayi mereka.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Arga merasa heran.
"Itu karena Tuan Osama bilang kalau kedua ibu hamil malah bersenang-senang bersama di sana. Tidak tahu kalau semua orang mengkhawatirkan mereka," jawab Nathan.
Daniel pun tertawa terkekeh mendengar itu. Sudah tepat baginya untuk meminta bantuan kepada sang ayah untuk menjaga istri tercinta dan istri mendiang sahabatnya.
"Katanya lagi hari ini mereka akan pergi ke taman bunga atau rumah kaca. Aku tidak begitu hapal. Mereka juga berniat membawa banyak bekal dan tuan Osama juga diajak serta," lanjut Nathan.
"Nathan aku titip kedua mertua aku. Aku usahakan secepatnya untuk bisa pulang," kata Daniel meminta kepada temannya.
__ADS_1
"Ya, aku akan menjadi menjaga mereka untukmu. Aku juga berharap kamu bisa kembali dalam keadaan jauh lebih hebat. Ingat musuh yang akan kamu hadapi itu penuh dengan orang-orang yang licik," tukas Nathan dari seberang sana.
Daniel mengakhiri panggilan telepon dengan Nathan. Setelah dini hari tadi dia mendapatkan pelajaran dari Guru Fang, rasa percaya diri Daniel semakin meningkat. Kini dia akan latihan dengan Ryu.
Daniel dan Ryu memilih latihan di dekat air terjun. Daniel sudah paham akan mengendalikan tenaga dalam setelah digembleng oleh Guru Fang tadi. Mengatur seberapa banyak kecil atau besar tenaga yang harus dia keluarkan.
"Bagaimana penglihatan Anda sekarang?" tanya Ryu.
"Jauh lebih baik setelah semalam mendapatkan pengobatan akupuntur lagi oleh tabib Meimei," jawab Daniel.
"Bagus. Sekarang semua panca indera Anda sudah normal sepertinya," ucap Ryu sambil tersenyum tipis.
"Kalau normal kembali itu belum sampai 100 persen, tetapi sudah jauh lebih baik dibandingkan saat aku baru datang ke sini," balas Daniel jujur.
"Apa Anda sudah siap untuk latihan antara hidup dan mati?" tanya Ryu.
"Apa? Kenapa latihannya harus sampai mempertaruhkan antara hidup dan mati?" Daniel balik bertanya.
"Anda akan tahu kenapa latihan ini dinamakan latihan antara hidup dan mati," jawab Ryu dengan seringai lebar.
***
Apakah Daniel akan mampu melewati latihan terakhirnya di Pegunungan Mugen? Ikuti terus kisah mereka, ya!
__ADS_1