
Bab 24
Ini pertama kalinya bagi Daniel makan bersama di satu meja bersama keluarga Li. Ini juga atas keinginan Sandra, tadi dia mengancam tidak akan sarapan jika tidak bersama suaminya.
"Makan yang banyak," kata Leon sambil melirik ke arah putrinya.
Daniel diam-diam memperhatikan ketiga anak dari Jimmy Li. Cara mereka memengang sumpit, sendok, dan memasukan makanan ke mulut. Bagi laki-laki itu hal yang sering dianggap sepele justru bisa menjadi titik awal dalam mendapatkan informasi.
Hasil pengamatan selama sarapan, Leon makan dengan tangan kanan tetapi cara memegang sumpit agak berbeda dengan orang pada umumnya. Arthur makan dengan tangan kiri dan Daniel curiga kalau orang itu memang kidal. Cara memasukkan makanannya ke mulut itu lidahnya sedikit terjulur keluar. Begitu juga dengan cara makan Damian, tetapi dia tidak kidal. Kesamaan lainnya adalah saat mereka minum di gelas cangkir. Jika pada umumnya orang minum di sisi dekat pegangan, tetapi mereka berdua minum pas di atas pegangan. Menurut Daniel itu cara minum yang aneh.
"Kenapa kamu melihat kami seperti itu?" tanya Arthur yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Daniel.
Orang-orang pun kini mengalihkan perhatian kepada Daniel. Mereka memandang rendah perbuatan laki-laki itu karena sudah tidak sopan menatap lekat orang yang sedang makan.
"Cara makan dan minum kalian aneh," jawab Daniel to the poin.
Kepala pelayan yang sejak tadi berdiri di dekat pintu pun penasaran dengan ucapan Daniel. Meski dia selalu berdiri di ruangan itu, tetapi tidak pernah memperhatikan cara mereka makan.
"Maksud kamu?" Kali ini Damian yang bertanya.
__ADS_1
"Cara makan kalian berdua berbeda dengan orang pada umumnya, tidak sama seperti Tuan Leon," balas Daniel dengan santai.
"Hei! Aku ini kidal jadi wajar kalau makan dengan menggunakan tangan kiri," bentak Arthur yang mulai kesal oleh tingkah Daniel.
"Bukan kidal yang aku maksud, tetapi kalian berdua memasukan makanan dengan lidah terjulur," kata Daniel dan itu membuat orang-orang kembali terkejut.
Selama ini tidak ada yang memperhatikan cara mereka makan. Namun, perbuatan Daniel yang tidak sopan itu malah memberikan informasi yang sangat penting. Kepala pelayan pun sampai tersentak karena mendengar ucapan Daniel barusan. Bagi dia itu tidak asing ada orang makan dengan cara seperti itu. Dulu salah satu temannya juga makan dengan cara seperti itu, bahkan sering jadi bahan ejekan rekan-rekan kerja di kediaman keluarga Li ini.
"Terserah bagaimana cara kami makan. Karena itu tidak merugikan dirimu dan kita juga tidak memintamu untuk melihat cara kami makan," tukas Arthur.
***
'Semenjak dia hamil mood-nya sering sekali berubah-ubah. Apa semua perempuan seperti ini saat hamil?' tanya Daniel dalam hatinya.
"Temani aku sebentar di kamar kakek. Kamu boleh pergi jika aku sudah tidur nanti," kata Sandra dengan tangisan manja.
Mau tidak mau Daniel menuruti keinginan sang istri. Mereka rebahan di atas ranjang biasanya Jimmy Li tidur. Bagi Daniel kamar ini tidak asing, kerena dia sering menghabiskan waktu di sini bersama tuannya dahulu.
Daniel teringat saat pertemuan pertama kali dengan Jimmy. Dia yang hidupnya luntang lantung menyelamatkan laki-laki tua itu saat hendak menyebrang. Kebetulan hari itu Jimmy pergi seorang diri tanpa ditemani oleh pengawalnya. Semenjak itu mereka sering bertemu dan membicarakan banyak hal. Jimmy selalu membawakan makanan yang enak untuk Daniel dan membicarakan keluh kesahnya sambil menemani pemuda itu makan.
__ADS_1
Cara pandang dan berpikir Daniel yang kritis dan cepat tanggap sangat disukai oleh Jimmy Li, maka dia pun menganggapnya menjadi sopir pribadi sekaligus orang kepercayaan. Laki-laki tua itu pun sering meminta pendapat saat dia menemui jalan buntus. Dari sanalah Jimmy tahu kalau Daniel adalah orang yang hebat dalam urusan berbisnis. Pujian sering dilayangkan kepadanya, karena itulah Jimmy Li memberikan amanat untuk terus memantau dan ikut mengurus perusahaan yang nantinya akan menjadi milik Sandra.
Daniel mengambil pigura foto yang terletak di atas nakas. Di sana ada foto Jimmy Li bersama dengan Sandra. Dia melihat bagian belakang pigura itu agak mengembung yang memandakan ada lebih dari satu lembar foto di dalam pigura itu.
Dengan hati-hati Daniel pun membuka bagian belakang pigura dan ada beberapa foto berjatuhan dari sana. Seperti dugaannya di sana memang ada lebih dari selembar foto.
Orang di foto itu adalah Jimmy Li bersama ketiga putranya dari sejak kecil sampai dewasa. Daniel merasa curiga kenapa tidak ada Rebecca di sana. Padahal istrinya meninggal setelah Sandra berusia lima tahun.
'Apa hubungan mereka tidak harmonis, ya?' batin Daniel.
Di dalam kamar tidur itu tidak ada satupun foto mendiang istri Jimmy Li. Foto mereka berdua hanya ada satu di ruang depan.
'Selama 3 tahun bersama, kenapa aku baru sadar akan kejanggalan ini, ya? Dulu aku sempat mengira kalau Tuan Jimmy Li itu seperti ayahku yang tidak mau melihat foto ibu, karena selalu membuatnya marah. Kalau seperti itu seharusnya tidak ada satupun foto mengenai Nyonya ... bahkan aku tidak tahu siapa namanya. Nanti aku harus bertanya kepada Sandra,' kata Daniel dalam hatinya.
"Aku harus cepat pergi ke kantor, 30 menit lagi akan ada pertemuan," gumam Daniel.
Saat Daniel berjalan di koridor, terlihat Arthur dan Damian buru-buru masuk ke ruang kerja yang dulu dipakai oleh Jimmy Li kini dipakai oleh Leon. Dia merasa curiga kalau kedua orang itu akan melakukan sesuatu di dalam sana. Maka Daniel pun mengendap-endap mendekati pintu berukir naga itu.
"Apa yang sedang direncanakan oleh mereka? Aku harus mencari tahu, tapi bagaimana caranya?" gumam Daniel sambil berpikir.
__ADS_1
***