
Bab 85
Daniel merasakan tubuhnya akan hancur. Ryu tidak main-main kali ini. Belum lagi mereka bertarung di sungai yang membuat gerakannya terasa berat. Di kedua tangan dan kakinya diberi pemberat juga.
"Kalau kekuatan kamu masih seperti ini, aku yakin Ken akan dengan mudah mengalahkan dirimu," ucap Ryu yang sedang memasang kuda-kuda.
Napas Daniel memburu dan dadanya terasa agak sakit saat dipakai untuk bernapas. Sudah satu jam dia jadi bulan-bulanan Ryu.
'Aku tidak menyangka kalau Ryu begitu kuat seperti ini,' batin Daniel.
Daniel kembali mencoba menyerang Ryu, lagi-lagi gerakannya kalah cepat. Tubuh dia terlempar ke tengah sungai yang agak dalam dan tenggelam.
'Benar juga latihan kali ini beberapa kali rasanya aku akan mati,' batin Daniel yang mencoba berenang naik ke permukaan.
Kepala Daniel muncul dari dalam lalu menarik napas dengan rakus karena pasokan oksigen di paru-parunya sudah habis. Dia melihat Ryu masih dalam posisi siap kembali untuk melancarkan serangan.
__ADS_1
"Tunggu! Biarkan aku bernapas sejenak," kata Daniel saat melihat Ryu akan menyerang menggunakan tongkatnya.
Ryu pun masih dalam posisinya dan memberi isyarat agar Daniel kembali ke tempatnya. Sekitar dua menit dia diam, lalu dilemparkan tongkat yang ada di tangannya itu kepada lawan untuk digunakan sebagai senjata.
"Tongkat aku kayaknya tenggelam atau hanyut terbawa arus sungai tadi," ucap Daniel setelah menerima senjata yang sama dari Ryu.
'Gila, tongkat milik Ryu berat sekali. Perasaan tadi tongkat yang aku gunakan jauh lebih ringan. Pantas saja tubuhku rasanya mau hancur begini terkena senjatanya,' batin Daniel.
Ryu kembali melakukan pukulan ke arah Daniel dengan tangan kosong. Dia menggunakan tenaga dalam saat melancarkan serangannya.
Meski Daniel melawan Ryu dengan bantuan menggunakan tongkat, tetap saja serangan dia tidak bisa mengalahkannya. Justru Daniel kembali terkena pukulan dan tendangan.
Daniel mencoba meresapi ucapan gurunya ini. Memang sejak tadi dia berpikir bagaimana caranya agar bisa mengalahkan Ryu. Setelah mendapatkan serangan bertubi-tubi dan membuat tubuhnya babak belur membuat laki-laki itu ingin memberikan pembalasan kepada lawannya.
"Kamu belum bisa mengolah emosi membunuhmu. Jika tingkat ilmu kamu sudah jauh lebih tinggi, justru emosi akan sangat diperlukan. Dengan catatan harus mampu menaklukkan diri sendiri. Jika tidak, itu akan menjadi bumerang untuk kamu dan bisa-bisa membunuh diri sendiri secara perlahan," jelas Ryu
__ADS_1
Daniel pun kembali konsentrasi. Dia sudah mempelajari kekuatan alam dan menenangkan jiwa. Laki-laki itu pun menutup matanya. Merasakan keberadaan lawan hanya dengan melalui energi yang mereka pancarkan. Dia bisa melihat energi dari tubuh Ryu sangat besar sekali.
'Bagaimana caranya agar punya energi sebesar itu?' tanya Daniel dalam hatinya.
Daniel merasakan Ryu berlari ke arahnya kemudian tendangkan kaki kanan ke arah pinggangnya dan di waktu yang bersamaan pukulan pun dilancarkan ke arah pipi kiri dengan menggunakan tangan kiri. Namun, dengan sigap dia menahan semua serangan itu dengan kedua tangannya.
"Bagus! Konsentrasi terus. Jika kamu terus meningkatkan kekuatan seperti ini, maka tidak perlu bertahun-tahun melakukan latihan agar bisa mengalahkan Ken," ucap Ryu.
"Dia itu sekuat apa?" tanya Daniel.
"Jika kamu bisa mengalahkan aku dengan mudah, maka ada kesempatan juga untuk mengalahkan Ken," jawab Ryu.
'Apa? Latihan lawan tanding seperti ini saja aku tidak bisa mengalahkan Ryu, bagaimana jika nanti aku harus melawan Ken saat kami berhadapan? Aku harus benar-benar harus menjadi kuat untuk menghancurkan Peter dan kelompok Black Eyes,' batin Daniel.
'Hanya dengan membuat Maria mati, maka Peter pun akan mengalami kehancuran. Ini salah satu cara untuk membalaskan dendam untuk Dilan dan Dina,' batin Daniel.
__ADS_1
***
Apakah latihan Daniel bisa berjalan dengan lancar dan segera kembali kepada Sandra? Ikuti terus kisah mereka, ya!