Kaya Karena Selembar Sampah

Kaya Karena Selembar Sampah
Bab 50. Mencari Pendonor


__ADS_3

Bab 50


Sandra membuka matanya dan melihat ke sekeliling. Saat ini dirinya sedang berada di sebuah ruang rawat inap. Saat dia mengalihkan penglihatannya ke arah kiri, terlihat ada Dina yang sedang terbaring. Jam dinding sudah menunjukan pukul 11 siang. Entah berapa jam wanita itu berbaring di atas brankar. Semalam dia tidak sadarkan diri saat mendengar suaminya mengalami gagal ginjal. Sebelah ginjalnya terkena tembakan. Tentu saja perempuan itu takut setengah mati jika suaminya meninggal.


"Kamu sudah sadar?" tanya Sindy begitu keluar dari kamar mandi.


Wanita setengah paruh baya itu berjalan mendekati putri semata wayangnya. Lalu dia memeluk tubuh yang terlihat sangat rapih.


"Ma, bagaimana keadaan Daniel?" tanya Sandra dengan lirih.


"Dia masih dalam pengawasan dokter," jawab Sindy.


Wanita itu baru tahu keadaan yang menimpa menantunya tadi pagi. Dia juga ikut sedih mendengar kalau laki-laki itu harus kehilangan satu ginjal. Saat ini Leon sedang mencari pendonor yang cocok untuk Daniel.


Sebenarnya tadi dokter sempat memeriksa ginjal milik Dilan, mungkin saja cocok dengan Daniel. Namun, takdir belum memihak. Ginjal laki-laki itu tidak cocok untuknya.


"Carikan dokter terhebat, Ma. Aku tidak mau kehilangan suamiku!" pinta Sandra dalam tangisannya.


"Kita semua sedang berusaha mencari pendonor," ucap Sindy.


Pintu terbuka dan Leon masuk dengan muka lusuh. Laki-laki itu sejak kemarin sibuk ke sana ke mari mencari ginjal untuk sang menantu. Bahkan dia belum tidur sekejap pun sejak semalam. Untuk jenazah Damian dia membiarkan setelah tahu yang membawanya itu Arthur. 

__ADS_1


"Bagaimana, Pa? Apa ada pendonor yang cocok?" tanya Sindy.


"Ya. Hanya saja orang itu bisa tiba ke sini paling cepat nanti malam dan kemungkinan operasi bisa dilakukan besok," jawab Leon.


Sandra dan Sindy merasa senang mendengar itu. Setidaknya kemungkinan Daniel untuk hidup masih memiliki peluang besar. Orang-orang yang sejak muda suka meminum alkohol mau apapun jenisnya pasti ginjal dan liver akan mengalami masalah meski itu sedikit. Jika dia pemabuk pastinya organ dalam mereka rusak. Seberapa besar kerusakan itu beda-beda tiap orangnya. Termasuk Daniel suka minuman beralkohol.


"Dia orang sehatkan?" tanya Sandra tiba-tiba karena dia takut jika nanti Daniel malah terjangkit penyakit.


"Ya, dia orang yang selalu menjaga makanan dan minumannya. Makanya dia mempunyai tubuh yang sehat," jawab Leon dengan senyum tipis.


"Kenapa orang seperti itu mau memberikan ginjalnya kepada kita? Kita jangan gegabah menerima bagitu saja," tanya Sindy khawatir.


Laki-laki itu mau mengeluarkan uang sebanyak itu sebagai ucapan terima kasih karena selalu menjaga putrinya. Jika sampai Daniel mati, maka Sandra pun pasti akan kehilangan separuh nyawanya. Dia tidak mau melihat sang putri menjadi seperti itu.


"Bagaimana dengan keadaan dia?" tanya Leon sambil mengarahkan dagunya kepada Dina.


"Dia belum siuman. Kasihan sekali dia, kini hidup sebatang kara," jawab Sindy dengan tatapan nanar.


"Dia akan ikut dengan aku, Ma," ujar Sandra.


Istri Daniel ini tidak mau kalau istri dari orang yang sudah ikut menyelamatkan dirinya hidup sebatang kara. Selain itu mereka juga sudah berteman.

__ADS_1


Dina baru sadar setelah tengah hari lewat. Dia mendatangi kamar jenazah untuk melihat suaminya. Wajah yang biasanya terlihat tampan dan selalu tersenyum kepadanya, kini menjadi pucat pasi dan kaku.


"Kenapa kamu meninggalkan aku dan bayi ini? Dia belum melihat wajahmu, begitu juga dengan dirimu yang belum melihat wajah anak kita ini," ucap Dina sambil menyentuh wajah yang terasa dingin.


"Seandainya saja di dalam perut ini tidak ada anak kita, pastinya aku akan ikut dengan kamu. Aku tidak mau ditinggal sama kamu. Bukannya kamu sudah berjanji kalau kita akan sehidup semati dan membesarkan anak ini bersama-sama?" Dina bicara dalam isak tangis.


Marco berdiri di belakang Dina. Lalu menyentuh pundaknya dengan lembut. Dia ke sana untuk mengurus jenazah Dilan. Meski tadi Leon mengatakan kalau dia yang akan mengurus pemakaman laki-laki itu.


Osama menyuruh Marco untuk menguburkan Dilan di samping makam Alex, orang kepercayaan Daniel. Laki-laki tua itu ingin nantinya sang anak bisa berziarah ke makam teman-temannya secara bersamaan.


"Kamu bukan wanita lemah. Makanya Dilan memilih dirimu sebagai pasangan hidupnya. Dia pasti akan sedih jika melihat kamu seperti ini. Sekarang sudah saatnya kamu bangkit, besarkan anak itu dengan baik. Bahkan harus lebih hebat dari ayahnya nanti," ucap Marco dan Dina pun membenarkan hal itu.


"Izinkan aku untuk ikut saat melakukan penyerangan ke markas Black Eyes!" pinta Dina.


"Tidak. Tugas kamu adalah menjadi penjaga dan tameng Nona Sandra. Kamu tahu 'kan kalau dia akan banyak dan sering diincar oleh musuh," ucap Marco dan Dina pun mengangguk.


"Untuk urusan Black Eyes itu akan menjadi urusan kami. Tugas kamu adalah keselamatan nyawa calon ahli waris dari Tuan Daniel," lanjut Marco.


***


Apakah Daniel akan cepat pulih dan membalaskan kematian sahabatnya? Ikuti terus kisah mereka, ya!

__ADS_1


__ADS_2