Kaya Karena Selembar Sampah

Kaya Karena Selembar Sampah
Bab 37. Mata-Mata Osama


__ADS_3

Bab 37


Sandra sekarang sering menangis karena merindukan Daniel. Sudah satu minggu dirinya tidak bertemu dengan sang suami. Untuk mengobati perasaan akan kehadiran kekasih hatinya, dia selalu memakai baju milik laki-laki itu. Mau itu kaos, kemeja, jaket, atau setelan traning. Dengan menghirup wangi yang ada pada benda itu bisa mengobati rasa rindu meski hanya sedikit.


Dilan dan Dina merasa kasihan kepada istri bos mereka. Wajahnya yang selalu ceria kini terlihat sendu. Senyum dan tawa yang sering mereka lihat, sekarang hilang entah ke mana.


"Apa Nathan sudah memberi tahu bagaimana keadaan si Bos sekarang?" tanya Dina sambil berbisik.


"Belum. Mungkin keadaan dia saat ini belum ada waktu yang luang untuk mengabari kita. Nathan itu harus 24 jam non-stop mengawasi Daniel dari kejauhan," jawab Dilan pelan.


Selama Daniel berada di markas kelompok mafia Red Hair, Nathan menyamar agar bisa masuk memantau keadaannya di sana. Tempat itu sangat luas dengan fasilitas lengkap. Tempat tinggal model apartemen untuk semua anggota, tempat hiburan, tempat belanja, rumah sakit, sekolah tingkat TK sampai SMA, gelanggang olahraga, dan tempat latihan ketangkasan mau itu untuk belajar menembak, beladiri, atau stimulasi peperangan. Itulah kenapa anggota kelompok Red Hair banyak memiliki orang-orang hebat dan ahli di bidangnya.


Nathan bisa leluasa tinggal di sana dengan memakai identitas kenalannya yang dulu berada di bawah kepemimpinan Daniel sebagai ketua kelompok. Biasanya tiap kelompok terdiri dari 25 orang. Nathan bisa dengan mudah tahu semua tempat yang ada dia markas karena dia dulu sering diajak oleh Daniel ke sana. 


Kini laki-laki itu, sedang menunggu kedatangan Daniel di kamar mewah miliknya. Mendengar suara pintu dibuka Nathan yang sedang bersembunyi dibalik gorden langsung waspada. Begitu melihat yang masuk adalah Daniel, dia merasa senang. Lalu, laki-laki itu keluar dari persembunyiannya untuk menemui pemilik kamar.


"Daniel," bisik Nathan yang sudah membuka penyamarannya. Rambut palsu dan tahi lalat palsu.


Mendengar ada yang memanggilnya, laki-laki itu pun langsung membalikan badan. Senyum senang langsung terukir menghiasi wajah Daniel saat melihat salah seorang sahabat baiknya.


"Nathan? Bagaimana bisa kamu masuk ke sini?" tanya Daniel sambil mendekat lalu memberikan salam ala mereka.


Kedua laki-laki itu pun saling bercerita apa yang sudah terjadi selama 8 hari ini. Daniel yang rindu kepada Sandra dan bayi mereka, membuat dirinya ingin segera kabur dari markas.

__ADS_1


"Kamu jangan terlalu khawatir. Istrimu dalam keadaan baik-baik saja, hanya saja dia sangat merindukan dirimu. Mungkin itu karena tidak ada yang memeluknya saat tidur," ucap Nathan sambil tertawa.


Daniel senang mendengar kalau Sandra dalam keadaan baik. Dia takut kalau kelompok Black Eyes bisa menemukan istrinya.


"Berarti Damian dan Arthur belum tahu di mana Sandra tinggal saat ini, 'kan?"


Nathan menghela napas. Dia tidak bisa bohong kalau kelompok Black Eyes sudah tahu di mana Sandra tinggal saat ini. Itu terjadi karena Sindy menghubungi kepala pelayan keluarga Li untuk membuatkan kalkun bakar untuk Sandra yang sedang ngidam. Saat itu panggilannya bisa dilacak oleh kelompok lawan.


"Ayahmu sudah menempatkan beberapa orang hebat di sekitar apartemen untuk menjaga istri dan calon anakmu," kata Nathan.


Mendengar penuturan temannya ini, membuat Daniel menatap dengan penuh curiga. Tanpa berpikir panjang dia pun mengarahkan pistolnya secara tiba-tiba kepada Nathan.


"Apa kamu sudah menjadi mata-mata Papa?" tanya Daniel.


Tadi Osama bilang kalau punya seorang informan yang bisa memberikan banyak informasi penting dan akurat. Tentang orang yang tahu tentang kehamilan Sandra saja bisa dihitung jari.


Daniel pun memukul perut Nathan untuk melampiaskan kekesalannya. Dia tahu kalau temannya ini bertindak begini demi dirinya.


"Aku akan menuntut kamu nanti. Maka bersiap-siaplah!" desis Daniel dengan senyum miring merasa puas saat melihat temannya itu meringis.


***


Ruang kerja di gedung perusahaan Li, di mana saat ini Leon sedang berada di bawah ancaman kedua adiknya. Laki-laki berusia sekitar 45 tahunan itu masih duduk dengan tenang. Dia tidak takut dengan pistol yang sedang mengarah kepadanya.

__ADS_1


"Walau kita tidak satu ayah, tetapi kita masih satu ibu," kata Leon dan membuat kedua laki-laki lainnya merasa terhina kalau mereka terlahir karena ibu mereka bukan wanita baik-baik.


Wajah Arthur semakin mengeras dan ingin segera menarik pelatuk pistol miliknya. Sementara Damian masih terlihat shock. Ini bukan masalah ibu yang sudah mengandung dirinya, tetapi ayahnya yang sering dia tuntut untuk memberi apa yang dia mau, ternyata bukan ayah kandungnya.


"Apa kamu tahu kenapa ibu sampai berselingkuh? Itu karena ayah terlalu gila kerja dan tidak memberikan perhatian kepada istrinya," tuduh Arthur yang masih tidak terima kalau dirinya terlahir akibat dari kesalahan ibunya.


Damian membenarkan ucapan Arthur. Dulu saja dia sangat susah jika ingin pergi liburan atau bermain bersama Jimmy Li. Hanya saat di hari ayah saja dia bisa berangkat dan pulang sekolah dengan sang ayah, berbeda dengan teman-teman yang setiap hari di antar oleh ayah dan di jemput oleh ibu mereka.


"Itu hanya alasan saja. Buktinya Sindy masih setia dan pandai mencari peluang di sela kesibukan aku. Ayah masih mending punya waktu untuk keluarga di hari Minggu. Sementara aku hampir 7 hari kali 24 jam terus disibukan dengan bekerja," bantah Leon.


Arthur dan Damian terdiam, memang hanya sehari mereka bisa menghabiskan waktu. Di hari Minggu adalah waktu bagi keluarga berkumpul dan melakukan kegiatan bersama. Rumah tangga Arthur hancur karena dia selalu menghabiskan waktu dengan bekerja dan istrinya tidak suka. Sementara itu, Damian rumah tangga hancur karena wanitanya suka foya-foya dan berselingkuh karena kurang perhatian. Mereka berdua tidak memiliki anak dari pernikahan itu.


"Jangan bergerak!" tiba-tiba saja beberapa orang berseragam polisi masuk ke sana sambil mengacungkan pistol ke arah Damian dan Arthur.


Kedua kakak beradik itu saling lirik. Mereka sudah terkecoh oleh kakak mereka. Sekarang ruangan kerja itu sudah dikepung dan sulit untuk melarikan diri. Tadi Leon diam-diam mengirimkan sinyal gawat kepada rekannya yang seorang polisi. Untuk mengulur waktu laki-laki itu mengajak bicara keduanya.


"Licik seperti bisa," ucap Arthur dengan tatapan penuh benci.


"Bukan licik, tapi cerdik. Itulah aku," balas Leon lalu menyeringai.


Dor! Dor!


***

__ADS_1


Apakah Arthur dan Damian akan bisa lolos? Ikuti terus kisah mereka, ya!



__ADS_2