
Bab 79
Pertarungan baku tembak di antara kelompok Black Eyes dengan Red Hair masih berlangsung sengit di koridor lantai 17 yang diduga tempat Sandra berada saat ini.
Kelompok mereka sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Mereka ingin sukses dengan misi atau tugas yang sedang sedang mereka emban berjalan dengan sesuai harapan.
Dor! Dor!
"Musuh mulai berdatangan ke lantai ini!" teriak salah seorang anggota Red Hair mengingatkan kepada teman-temannya.
Mereka yang naik dengan lift bisa berhasil naik ke lantai atas. Berbeda dengan orang-orang yang naik lewat tangga darurat. Baru naik ke beberapa lantai saja sudah mati tertembak.
"Kalian habisi dulu musuh yang berjaga di tangga darurat!" perintah Nikolas lewat earphone kepada anak buahnya.
Laki-laki itu menyadari kalau mereka sudah masuk ke dalam jebakan yang dibuat oleh kelompok Red Hair. Dia yakin kalau target saat ini tidak ada di dalam bangunan itu.
"Si*al! Kita salah perhitungan, jadi sekarang kita terperangkap di dalam sarang musuh," umpat Nikolas.
"Jadi, ada kemungkinan istrinya Daniel itu berada di kediaman keluarga Li?" tanya salah seorang anggota Black Eyes kepada Nikolas.
"Ya, semoga saja dia ada di sana. Akan semakin mengesalkan dan menjadi kerugian bagi kelompok kita jika wanita itu juga tidak ditemukan di rumah itu."
Dor! Dor!
JEP! JEP!
"Aaaaa!"
Mereka kembali saling melancarkan serangan. Orang-orang dari kedua belah pihak banyak yang mati terkena tembakan.
__ADS_1
Sementara itu, Alessio merasa ada yang aneh dengan keadaan ruang di apartemen milik Daniel. Dia melihat lampu yang menyala itu masih sama dengan yang tadi siang.
"Hei, apakah hal biasa bagi orang-orang di sini menyalakan lampu di siang hari meski ruangan itu mendapatkan banyak cahaya matahari?" tanya Alessio.
"Tentu saja tidak. Lampu-lampu juga akan di padamkan jika tidak ada orang di rumahnya," jawab rekan Alessio yang merupakan anggota Black Eyes.
"Lalu, kenapa kamu tidak menyadari ada hal yang aneh dengan apartemen yang sedang kita awasi itu?" bentak Alessio menahan amarahnya.
Orang itu terdiam dan merutuki kebodohannya. Tadi dia menyadari lampu-lampu itu. Namun, tidak memberi tahu akan hal ini kepada atasannya.
"Kita pergi dari sini! Target tidak ada di sana."
Alessio langsung membereskan semua perlengkapan senjata miliknya. Dia akan pergi ke kediaman keluarga Li. Laki-laki itu berpikir jika tidak ada di sini, berarti ada di sana.
***
Arthur dan anak buahnya langsung bergerak di waktu yang sudah mereka sepakati bersama. Dia menembaki orang-orang yang bertugas menjaga rumah orang tuanya. Setelah tahu kalau lawan menggunakan rompi anti peluru, dia akhirnya menyerang di bagian kepala lawan.
Dor! Dor!
Dor! Dor!
"Kalian berjaga di tempat yang sudah aku perintahkan!" titah Arthur kepada anak buahnya.
Laki-laki itu pun menerobos masuk ke dalam kediaman keluarga Li. Betapa terkejutnya dia saat melihat Leon memegang senjata AK-47 di ruangan itu.
Drrrrrt! Drrrrr!
Leon menembakan lebih dari ratusan peluru dalam waktu satu menit. Anggota Black Eyes yang belum menyadari akan sambutan dari tuan rumah, tentu saja terkejut dan kalah cepat dalam menarik pelatuknya.
__ADS_1
"Aaaaa!" teriak para anggota Black Eyes.
Orang-orang itu terkena tembakan berondong yang dilontarkan pistol milik Leon. Mereka langsung jatuh tersungkur dan tidak bernyawa.
"Selamat datang di tempat kematian kalian!" ucap Leon dengan penuh kemarahan.
Mendengar suara tembakan tadi, membuat Leon terbangun. Lalu, dia melihat akan adanya serbuan mendadak dari pihak yang menjadi lawan. Banyak orang yang dia duga sebagai anggota Black Eyes memasuki halaman rumahnya. Suami dari Sindy juga melihat ada sang adik di antara orang-orang yang menyerbu masuk.
"Dasar pengacau!" gumam Leon saat melihat Arthur.
Leon dan Arthur saling berhadapan. Terlihat jelas permusuhan dari mereka berdua. Semenjak kematian Tuan Jimmy Li, keduanya menjadi musuh yang ingin saling membunuh.
Terdengar suara tembakan saling bersahutan di halaman depan rumah. Suara teriakan kesakitan dan umpat kasar saling bersahutan di malam yang tadinya sunyi.
Leon sudah bersiap jika terjadi hal seperti ini. Penyerbuan yang dilakukan oleh kelompok mafia ke kediamannya bukanlah hal yang pertama. Dulu juga pernah terjadi saat mereka mencuri blue print bangunan pabrik.
"Katakan tujuan kamu datang ke sini mau apa?" tanya Leon sambil mengarahkan moncong pistol miliknya ke arah Arthur.
"Mau menjenguk keponakan kesayangan aku dan menemui kakakku tersayang," jawab Arthur.
Terlihat senyum mengejek terukir di wajah Leon. Sebenarnya dia ingin tertawa mendengar ucapan adiknya ini.
'Benar ucapan Marco kalau rumahnya akan didatangi oleh kelompok Black Eyes. Untung saja Sindy sudah aku ungsikan terlebih dahulu,' batin Leon.
"Sayang sekali kamu tidak bisa bertemu dengan keponakan kesayangan kamu itu," ucap Leon dengan wajah mengejek.
Arthur cukup terkejut dengan pengakuan Leon. Maka dia pun tersenyum kecut, karena berharap bisa melampiaskan kemarahannya dengan membalas dendam dengan membuat Daniel menderita atas kematian Sandra dan anaknya.
'Malam ini seharusnya aku bisa membalaskan kematian Damian. Ternyata targetnya tidak ada di sini. Apa dia memang berada di apartemen? Baguslah, di sana ada Nikolas yang akan menghabisinya,' batin Arthur.
__ADS_1
***
Apakah Leon dan Arthur akan saling membunuh sesama saudara? Ikuti terus kisah mereka, ya!