
Abbas bangkit, melepas baju yang ia kenakan. Menampilkan otot-otot perut yang baru-baru ini ia upgrade.
Menuju kamar mandi, mengguyur kepalanya yang terasa panas acapkali pikirannya melayang kembali ke masa lalu.
Lagi, ia memegang dadanya, merasakan detak yang sama seperti setahun silam. Abbas semakin dilema, cobaan apa lagi ini, Tuhan?
Lelaki itu sama sekali tak bisa memahami, ia merasa seolah dipermainkan oleh takdir. Membuka luma lama, bisa melihat tapi tak bisa menggapai.
"Kenapa harus sama bang Andre? Sialan!" serunya mencengkram rambut kasar.
Samar, bulir bening itu luruh bersamaan dengan derasnya air shower yang mengalir. Tergugu, ia menyesal tak dapat meraih bintangnya.
Setengah jam, ia keluar dari kamar mandi. Mengelap rambutnya yang tetap ia panjangkan sebahu.
Ia masih ingat betul, dalam senda gurau masa lalu. Gadis itu pernah berkata, "Rambut panjang kamu lucu, kayak singa." Lepas tawa Naina tanpa berpura-pura.
Semenjak itu, ia bertekad untuk tetap menjaga panjang rambutnya. Baginya, itu hal terindah yang tersisa dalam ingatan.
Sebelum kejadian busuk yang ia sesali, kembali terngiang di sudut memori. Abbas terduduk, menatap nanar keluar jendela kamar.
Menerawang jauh ke pekatnya langit yang mengandung awan hitam, gerimis mulai turun, mengingatkan kembali kenangan masa itu.
Sore itu, di kafe yang telah mereka sepakati. Abbas duduk menunggu Naina di pojokan, menatap jalanan dari balik kaca. Takut jika gadisnya terjebak gerimis yang mendera secara tiba-tiba.
Lima menit, gadis itu menyembul diantara pelanggan yang berlari masuk untuk berteduh. Melangkah mendekat seraya mengibaskan surai hitamnya yang basah.
Walau terpaut umur dua tahun, Abbas tak pernah peduli. Bahkan gadis yang duduk di depannya kini, masih sangat pantas dikira umur delapan belas tahun. Memikirkannya, membuat lelaki itu tersenyum simpul.
"Mau pesan apa?" tawar Abbas memulai pembicaraan.
"Coffe latte."
"Coffe latte dua," ucap Abbas pada pelayan yang lewat.
"Kenapa gak mau dijemput? Kan jadi basah."
Abbas terdiam, menatap gadis yang tengah fokus pada gawainya itu. Banyak sekali yang ingin ia tanyakan selama tak bertemu. Tetapi lelaki itu bingung harus memulai dari mana.
Dua coffe latte tiba, uapnya mengudara mirip seperti anak krakatau. Naina menatap Abbas sekilas, entah apa maksud sorot mata itu.
Sesuai permintaan Abbas, sore ini ia hanya ingin ditemani melewati senja, gadis itu hanya mengangguk setuju.
Gerimis mulai menghilang, menyisakan mega yang tampak kuning kemerah-merahan. Beberapa burung gereja berterbangan, mencari sarang untuk bermalam.
Langit berubah gelap, Abbas mengajak Naina menuju pasar malam. Dekat, mereka hanya perlu berjalan kaki ke arah selatan.
Banyak penjual asongan, cemilan juga manisan. Ada beberapa pertunjukan juga penjual pakaian. Ramai sekali.
Naina tampak berbinar, senyumnya mengembang tanpa ia sadari. Abbas yang melihat itu pun turut gembira.
"Wah! Ada mesin capit boneka!" seru gadis itu senang.
"Ayo ke sana!" ajak Abbas menggandeng Naina tanpa sadar.
Gadis itu tak menolak, entah tak sadar atau bagaimana, yang jelas Abbas begitu bahagia hanya dengan menggenggam tangan Naina.
__ADS_1
"Duh, sedikit lagi padahal!"
Jatuh, boneka itu terus terjatuh untuk ke sekian kali. Naina tak menyerah, ia masih berkutat di depan mesin dengan fokusnya.
Abbas terkekeh geli melihat tingkahnya, lucu. Pada percobaan ke lima puluh, akhirnya gadis itu menyerah. Ia tampak frustasi.
"Biar aku coba," ucap Abbas menghibur.
Sekali, dua kali, gagal terus. Pada percobaan ke tiga, akhirnya sebuah boneka teddy bear berhasil ia dapatkan.
ah! Keren, kamu berhasil!" seru Naina girang, persis seperti anak kecil.
"Nih, buat kamu."
"Beneran? Makasih ya," ucapnya senang.
Lelaki itu tersenyum, ada haru yang menelusup ke dalam dadanya. Seandainya waktu berhenti seperti ini saja, pasti ia bisa lebih lama bersama Naina.
Lelah bermain, keduanya menuju kedai minuman terdekat. Dua botol air mineral mereka pilih. Kemudian melanjutkan hunting.
"Ayo ke sana!" Abbas menarik tangan Naina.
"Pak, jagung bakarnya dua ya!" pinta Abbas setelah mereka memilih tempat duduk.
Naina hanya menurut, tempat penjual jagung ini termasuk sepi dan lengang, sedikit terpisah dari keramaian pasar malam. Sangat cocok untuk bersantai.
"Nai, kamu tahu kan kita gak seumuran?" tanya Abbas menatap manik hitam itu dalam.
"Hmm," jawab Naina berdehem.
Naina mengalihkan pandang, tampak pipinya bersemu merah. Ada getar halus yang merasuki dadanya.
Jagung bakar tiba, memecah kecanggungan di antara keduanya. Malam itu, adalah momen yang indah bagi Abbas.
Malam kian larut, Abbas mengajak Naina pulang. Mereka kembali ke parkiran kafe mengambil kendaraan. Segera, motornya melesat membelah jalanan.
Udara malam semakin dingin menyapu wajah keduanya, Naina mengeratkan pegangan karena motor semakin cepat melaju.
"Abbas, jangan kenceng-kenceng dong!" teriak Naina mengalahkan desau angin.
"Tenang! Kan ada aku," sahutnya ringan.
"Tapi aku takut!"
"Jangan takut! Aku selalu ada bersamamu! Pegangan!"
"Kyaaa!"
Motor melesat bak pembalap, sekitar lima belas menit akhirnya mereka berhenti di sebuah gang.
Gadis itu turun dengan tergesa, jantungnya berdegup kencang karena takut.
"Nai, jangan ngambek dong!"
Abbas menahan lengan gadis itu, menariknya dalam pelukan. Naina memberontak, ingin melepaskan diri. Tetapi lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Sebentar saja, Nai," ucapnya lemah.
Abbas mencoba menyalurkan rasa rindu yang telah lama terpendam, beberapa saat kemudian, ia mengurai pelukan.
Menangkupkan kedua tangannya ke pipi sang gadis. Menatap lekat ke manik matanya, wajahnya semakin mendekat, memangkas jarak diantara ke duanya.
Deru napasnya menerpa wajah Naina, gadis itu tampak tenang, tinggal beberapa inchi lagi untuk kedua bibir itu bersatu.
"Stop! Ini gak ada dalam perjanjian," ucap Naina menempelkan jari telunjuk di bibir Abbas.
Lelaki itu terhenyak, mundur beberapa langkah. Ada sorot kecewa di binar mata elangnya.
"Nai, napas aku kok sesak banget ya?" ucap Abbas memegangi dadanya.
Wajah Naina berubah cemas, gadis itu mendekat dan memeriksa suhu badan Abbas.
"Kenapa bisa?" tanyanya khawatir.
"Karena separuh napasku ada di kamu," ucap Abbas tersenyum menggoda.
"Ish! Kamu ini!" sungutnya merasa dibohongi, kesal tapi tersentuh juga.
Naina berbalik dan melangkah pulang, Abbas menatap punggung gadis itu menjauh, hilang di belokan gang.
Mimpi indah, Nai!" serunya senang.
Klap!
Tiba-tiba lampu padam, seluruh jalan dan rumah tampak gelap gulita.
"Argh!" teriak Naina mengejutkan Abbas.
Lelaki itu segera berlari menyusul, mencoba memicingkan mata, mengandalkan cahaya bulan yang minim untuk menemukan gadisnya.
"Nai, kamu di mana?"
Abbas melihat seseorang terduduk, gemetar memeluk lutut. Ia langsung mengenali bahwa itu Naina. Segera ia tarik ke dalam pelukkannya. Mencoba menenangkan.
"Kamu takut gelap?" tanya Abbas saat Naina sudah tenang.
Mengurai pelukan. Gadis itu mengangguk, Abbas bingung harus bagaimana. Sesaat dalam keheningan, ia menawarkan diri untuk menemani.
Naina menunjukkan rumahnya, keduanya masuk dan meraba mencari lilin. Setelah menyala, mereka duduk di ruang tamu menatap pendar cahaya yang bergoyang mengikuti angin.
Abbas mencoba menahan diri untuk tak memeluk Naina lagi, tapi melihat tatapan gadis itu tampak kosong. Masih tampak syock.
Abbas tak tahan lagi, direngkuhnya Naina dalam pelukannya, dia diam saja. Membuat getar dalam dada Abbas begejolak tak menentu.
Entah setan dari mana yang menguasainya, hampir saja Abbas kehilangan kendali malam itu.
.
Abbas melempar handuk kasar, kenangan itu benar-benar membuatnya kesal. Gara-gara kebodohannya. Naina masih membencinya hingga kini.
"Sialan!"
__ADS_1