
Seperti biasa pagi itu Dewa berada di panti, tapi kali itu ia tidak membawa makanan. Ia hanya menitipkan amplop berisi uang pada Buk Tam.
"Bu maaf hari ini dewa gak bawa sarapan karena dewa buru-buru mau keluar kota selama beberapa hari. Ini ada sedikit uang untuk membeli keperluan anak-anak selama aku di sana. Aku titip anak-anak ya Buk...," ucap Dewa tidak tega.
Bu Tam heran melihat dewa kenapa tiba-tiba pamit dan berkata seperti itu seakan-akan mau pergi lama.
"Emang Dewa mau pergi berapa lama? jangan lama-lama Wa... kasian anak-anak," ucap Bu Tam.
"Iya Buk, Dewa janji akan segera pulang untuk anak-anak. Dewa pamit dulu ya Buk," ucap Dewa mengakhiri pembicaraan.
Saat itu masih pukul 6 anak-anak masih banyak yang belum bangun hanya sebagian anak-anak saja yang sudah bangun mereka memeluk Dewa satu persatu.
"Kami bakal kangen sama Bang Dewa, cepat pulang ya Bang...!" ucap salah satu anak.
"Iya Dek, kalian jaga diri baik-baik ya gak usah bandel kasian Buk Tam," nasehat Dewa.
"Iya Bang," jawab mereka serentak.
"Setelah abang pulang nanti, abang janji akan membeli hadiah buat kalian, tapi ingat gak boleh nyusahin Buk Tam. Kalian arus nurut sama kata-kata ya," ucap Dewa berpesan.
"Iya," serentak anak-anak menjawab. Meraka melambaikan tangan ke arah Dewa. Dewa pun membalas lambaian anak-anak sambil tersenyum.
Dewa tidak kuat harus meninggalkan anak-anak panti itu hati nya sangat teriris melihat anak-anak itu.
Ia pun segera pergi dari tempat itu dengan kesal nya.
Dewa sudah di telpon Laura untuk segera menjalankan misi nya untuk hari pertama nya. Laura akan memperkenalkan Dewa pada ayah dan ibu Laura. Dewa mengiyakan ucapan Laura ia segera menemui nya di tempat yang sudah di tentukan Laura.
__ADS_1
Di sebuah kafe tempat yang mereka janjikan Laura sudah menunggu di sana dengan tidak sabarnya. Ia menunggu Dewa di parkiran kafe itu.
Dewa pun datang setelah 10 menit sesudah Laura sampai. Dewa merasa terpaksa namun ia sudah telanjur mengiyakan jadi ia harus menuruti apa pun kemauan Laura sesuai perjanjian.
Saat itu Laura membawa mobil BMW mewah untuk Dewa. Dewa kaget gak tau harus berbuat apa ia terdiam melihat Laura mengelilingi nya dengan mobil itu saat itu dia masih berada di atas motor kesayangan nya.
"Dewa... sebaiknya kamu simpan saja motor mu itu di museum sebagai barang antik. Motor kayak begituan udah jadul cobain ini mobil baru dan mewah," seru Laura memamerkan.
Dewa hanya memandangi Laura dengan sinis nya.
Gini-gini motor ku banyak jasa nya gak kayak kamu cuma bisa nya pamer. batin Dewa.
"Ayo Dewa cobain!" tawar Laura masih mengelilingi Dewa.
Dewa di paksa untuk menaiki mobil tersebut. Akhirnya ia naik juga dan menepikan motornya.
"Iya suka sih, tapi aku lebih suka lagi saat memakai motorku " Dewa menantang membuat Laura panas hati.
"Motor jelek begitu di banggakan apa hebatnya!" cetus Laura. "sudah lah gak usah banyak ngeyel kamu pake mobil ini dan tunjukan pada semua keluarga ku kalau kamu adalah pacar ku yang kaya raya."
"Hem, terserah kamu saja!" ucap Dewa tidak tertarik pada ucapan Laura.
"Ngomong-ngomong ini mobil punya siapa?" tanya Dewa basa-basi.
"Apa maksud mu bertanya begitu sudah tentu mobil ini milik ku," ucap Laura terseyum sinis. "kamu tidak percaya kalau mobil ini milikku?"
"Percaya kok sangat percaya!" sahut Dewa.
__ADS_1
"Ya sudah lah, ayo kita berangkat!" ajak Dewa yang sudah tidak tahan dengan sikap Laura.
Di tempat lain.
Pagi itu Bella mendatangi kantor Dewa namun tidak di dapati adanya Dewa di sana ia pun bingung harus mencari kemana. Semua rekan kerjanya tidak tau keberadaan Dewa. Bella kecewa dengan sikap Dewa yang tidak tertutup pada nya selama ini.
Sepulang dari kantor Bella singgah ke rumah Dewa.
Mama Dewa yang tau anak nya bekerja hari itu ikut bingung dan panik memikirkan Dewa. Nomor nya juga tidak aktiv.
"Sebenarnya Dewa kemana ya Tan," tanya Bella pada ibu Dewa. "di telpon tak diangkat di chat pun tak di balas."
Tampak ibu Dewa geleng kepala ia sedih memikirkan keberadaan anak nya entah dimana.
"Tante tidak usah kuatir ya, bella akan mencari Dewa secepatnya Tante... Bella pamit ya," ucap nya.
Ibu Dewa pun menginjin Bella dan berharap semoga Bella bisa menemukan anak nya. Secepatnya ia berlalu dari tempat itu karena mau mencari Dewa di panti.
Tidak lama kemudian Bella sudah sampai di panti ia langsung menemui ibu panti. Ibu panti menyambut kedatangan Bella dengan ramah dan anak-anak juga menyambut Bella dengan gembira. Bella memberikan oleh-oleh pada anak-anak panti. Mereka menerima nya dengan senang. Bu Tam menyuruh anak-anak untuk segera bermain karna ia akan berbicara pada Bella soal Dewa.
Buk Tam menceritakan semua nya pada Bella. Bella pun kaget tidak habis pikir kenapa Dewa tidak mengabari soal kepergian nya itu. Bella semakin kecewa pada Dewa. Harapan nya kini pupus padahal hari itu Bella akan memberitahu Dewa kalau Bella punya rasa pada nya.
Semakin lama semakin rindu hati Bella pada Dewa sudah satu minggu mereka tidak berhubungan. Papa Alek akan segera menikahkan Bella dengan Rasya. Seorang pria dingin dan arogan itu.
Semalam Papa Alek mengajak Bella ke rumah calon besan nya Pak Jerikho ayah nya Rasya. Bella semakin tertekan dengan keputusan Papa nya karna usia Bella sudah 25 tahun, surat wasiat terakhir kakek nya akan segera di laksanakan yaitu apabila Bella tidak menikah juga di umur 25 tahun maka ia akan di nikahkan dengan kerabat ayah nya. Untuk mendapatkan pewaris tunggal keturunan Papa Alek yang akan mewarisi perusahaan nya.
Bella semakin panik karena tidak ada pilihan lain lagi kecuali menikah dengan Rasya. Pacar tidak punya yang ada hanya mantan. Mantan yang selalu meminta Bella untuk balikan.
__ADS_1