
Kekasih Bayaran Bagian 96
Oleh Sept
Angin berhembus kencang, menyibak tenda yang didirikan di atas sebuah makam baru yang masih basah. Tidak banyak yang datang, hanya beberapa orang. Kemudian semuanya perlahan pergi, meninggalkan keluarga inti yang masih menatap gundukann tanah basah berlapis kelopak bunga-bunga segar yang semerbak tersebut.
"Kalau kamu bantu ayahmu sejak awal, ini tidak akan terjadi!" ujar Kumala sambil mencengkram nisan almarhum suaminya.
Kavi langsung melotot, tangannya mengepal. Menahan marah sejak tadi karena ulah Kumala yang terus mengintimidasi istrinya.
"Biar, Kav ...!" Winda menggeleng. Tidak mau Kavi menangapi Kumala yang hanya bisa marah-marah seperti orang setres tersebut.
"Ini Keterlaluan, Win!" desis Kavi yang tidak terima istrinya terus saja diserang secara verbal oleh Kumala.
"Aku bilang biarkan, dia memang begitu!" ucap Winda, meminta Kavi tidak terpancing. Ia sudah lelah, lelah hati, badan, pikiran. Rasanya tidak punya tenaga untuk adu argument bersama ibu tirinya itu. Buang-buang tenaga dan waktu.
Kavi pun menghela napas panjang, rasanya gemas sekali. Winda terlalu lembek pada keluarga yang bahkan sama sekali tidak menganggap dia ada. Dan karena langit semakin gelap akibat awan mendung yang tiba-tiba muncul karena terbawa angin, Kavi mengajak mereka kembali ke hotel. Ya, selama di Medan Kavi dan Winda memutuskan tidur hotel.
Sedangkan masalah rumah, Kavi sudah menghubungi tim kuasa hukum, menyewa pengacara untuk Kumala. Karena permintaan Winda, maka rumah itu akan diselesaikan oleh Winda dan suaminya. Sedangkan yang lain, Kavi tidak mau tahu. Bukannya pelit ataupun perhitungan. Hanya saja, melihat sikap Kumala yang masih saja jahat pada Winda, membuat Kavi malas berurusan dengan mereka yang menyakiti wanita yang paling ia kasihi.
Seperti saat ini, saat mereka berjalan meninggalkan makam. Kumala masih saja melontarkan banyak makian pada Winda. Meskipun Winda tidak membalas dan memilih diam. Hatinya sedang merasakan kehilangan, tidak ada waktu untuk berdebat.
"Bi, jangan contoh anak durhaka itu!" Kumala menunjuk wajah Winda dengan murka. Membuat Kavi kesal dan langsung merangkul Winda. Meninggalkan pemakaman dan Kumala yang sejak tadi membuatnya menahan napas karena kesal.
"Sebelum aku bertindak, cepat Kita tinggalkan tempat ini. Aku gak jamin bisa menahannya lagi!" ujar Kavi kemudian bergegas masuk ke dalam mobil. Sedangkan Kumala, wanita itu masih sibuk mengumpat Winda dengan frustasi. Ia meneriaki Kavi dan Winda saat mobil itu melaju kencang.
"Maa ... jangan begini, Ma!" Anak gadisnya malu karena mereka malah jadi bahan tontonan peziarah yang kebetulan sedang ke malam.
"Jangan larang-larang Mama!" sentak Kumala, membuat putrinya seketika diam.
***
Esok harinya.
Setelan checkout, Winda menemui Berbi yang ia suruh datang ke hotel.
"Jangan putus kuliahnya," ucap Winda dengan hati yang berat. Ia menarik tangan Berbi dan meletakkan amplop coklat tebal di tangan gadis yang masih duduk di bangku kuliah itu. Winda seperti melihat dirinya yang dulu. Tanpa ayah, harus berdiri di kakinya sendiri.
"Kenapa Mbak Winda baik sama Berbi? Bukankah Mbak benci sama keluarga kami?" tanya gadis tersebut.
Winda menghela napas dalam-dalam, kemudian menggeleng.
__ADS_1
"Belajar yang sungguh-sungguh, Bi. Jika butuh sesuatu, hubungi Mbak."
Berbi menundukkan wajah dalam-dalam, ia merasa tidak enak. Apalagi setelah apa yang terjadi.
"Terima kasih banyak, Mbak. Berbi nggak tahu harus minta tolong sama siapa lagi, terima kasih."
"Jaga mamamu baik-baik, Mbak akan balik ke Jakarta hari ini. Titip makam ayah, karena Mbak mungkin jarang datang ke sini."
Kali ini Berbi yang mengangguk, rasanya ia sangat malu. Tapi hanya Winda lah yang bisa membantu keluarganya. Sebab mereka sudah terlanjur terlilit hutang karena ulah ibunya.
"Ayo, Sayang!" seru Kavi yang terlihat dingin saat Berbi menatapnya. Kavi seakan familiar dengan tatapan itu. 11 12 dengan cara bu Fenita menatapnya.
"Kami pergi dulu, Bi!" ucap Winda untuk yang terakhirnya.
Setelah berpamitan, Kavi dan Winda pun pergi meninggalkan Berbi yang diam terpaku sambil menggenggam amplop pemberian Winda. Ditatapnya dari belakang, dua orang yang membuatnya iri.
"Beruntung sekali mbak Winda punya suami super tajir, ganteng lagi," gumam Berbi lirih.
Gadis itu kemudian menatap tangannya, sebuah senyum langsung tergambar sempurna di wajahnya. Tidak ada raut kehilangan setelah ayahnya wafat. Benar-benar anak Kumala.
***
Jakarta
"Winda ... aku gak mau kamu larut dalam kesedihan seperti ini," keluh Kavi yang menjalani hari-hari dengan istri yang selalu murung setelah pulang dari Medan.
Winda tersenyum, tapi senyum yang dipaksakan. Terlihat sekali dia tidak bahagia. Dan Kavi pun tidak tahu harus bagaimana agar istrinya kembali ceria. Mungkin Winda butuh waktu, sebab kehilangan seseorang tidak bisa seperti tidak terjadi apa-apa.
***
Tiga minggu kemudian
Pagi itu Winda sedang dibantu bik Inah berkemas, mereka akan ke Paris besok. Biasanya orang akan liburan apalagi bulan madu, pasti gembira dan sumringah, tapi tidak dengan Winda. Wajahnya pucat, matanya sayu, terlihat tidak bersemangat.
"Nanti berapa hari, Non?" tanya bik Inah yang iseng. Karena Winda hanya diam saja saat mereka berkemas.
"Non," panggil bik Inah yang malah tidak direspon.
"Non Winda?"
Winda langsung mendongak. "Iya, Bik?"
__ADS_1
"Nona sakit?" tanya bik Inah.
Winda langsung menggeleng. "Nggak."
"Mau Bibi bikinkan sesuatu?" tawat wanita paruh baya tersebut.
"Nggak usah, Bik."
Bik Inah pun manggut-manggut mengerti, dan setelah semua beres, ia pun pamit pergi. Karena harus beres-beres yang lain.
"Bibi permisi ya, Non. Nanti panggil Bibi kalau perlu sesuatu."
"Iya," jawab Winda singkat tanpa menatap.
Di tempat lain, Kavi sedang menuju ke rumah. Ia pulang lebih awal, karena tidak mau kelelahan. Besok ia akan ke Paris, honeymoon. Semoga bisa merubah mood Winda yang akhir-akhir ini anjlok tersebut.
Begitu ia sampai, Kavi langsung masuk dan mencari istrinya. "Bik, istri saya mana?" tanya Kavi saat melihat bibi membersihkan ruang tamu.
"Ada, Tuan. Di kamar, sejak tadi belum keluar."
Kavi mengeryitkan dahi, kemudian berjalan ke kamar utama.
"Sayang, windaaa!" panggil Kavi kemudian membuka pintu. Dilihatnya Winda terbaring sambil memeluk guling.
'Sekarang jadi sering tidur begini? Padahal dia si paling gak bisa diem!' batin Kavi.
"Sayang ...!" Kavi duduk di tepi ranjang, kemudian menyentuh pipi Winda. Sudah agak kurus, tidak seperti saat bertemu.
"Aku pulang," bisik Kavi.
Winda yang tidur, matanya megerjap. Alisnya menyatu, kemudian mendorong Kavi yang terlalu dekat.
"Ish!" Kavi mendesis kenapa langsung didorong begitu. "Suaminya pulang itu disambut, bukan didorong-dorong!" celetuk Kavi kemudian memajukan bibirnya. Siap mendarat di kening Winda seperti biasanya. Namun, saat sudah sejengkal jaraknya, Winda kembali mendorong dan langsung membekap mulutnya sendiri.
"Gak lucu, Windaaa!" desisnya kesal.
Sedangkan Winda, ia langsung turun dari ranjang dan meninggalkan Kavi yang tertegun.
"Kamu sakit?" tanya Kavi yang menyusul Winda ke kamar mandi.
Bersambung
__ADS_1