Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
Perjalanan Dewa menuju kota tempat tinggal nya.


__ADS_3

Saat itu hari semakin terang cuaca makin cerah karena matahari tepat berada diatasnya kepala.


Tidak terasa sudah setengah hari lama nya Dewa berada di bus dan saat itu ia sudah sampai di kota nya. Dewa melangkahkan kaki ringan nya turun dari sebuah mobil bus itu sambil tersenyum melihat dunia luar.


Kini Hatinya merasa lega sebab ia sudah lolos dari jeratan Laura yang mencoba mengelabui nya. Dewa sudah berusaha untuk menyakinkan keluarga dan keluarga Laura sudah percaya kalau Dewa adalah pacarnya. Laura sudah terbebas dari perjodohan namun Laura masih mendesak Dewa untuk selalu menuruti semua kemauan nya sampai ia memiliki Suami sesungguhnya.


Rasanya itu mustahil bagi Laura karena Laura sendiri yang memang sengaja tidak mau menikah karena kelainan jiwa. Laura hanya tertarik pada sesama jenis tidak untuk lelaki. Jika demikian sampai kapan pun ia tidak akan pernah bisa menikah. Dewa menganggap semua itu hanya akal-akalan nya saja untuk menipu dirinya. Oleh sebab itulah Dewa melarikan diri dari Laura. Jika aku terus menuruti semua kemauan Laura maka sampai kapan pun misi itu tidak akan pernah selesai karna Laura tidak mungkin menikah dengan seorang pria. Hanya keajaiban yang dapat mengubah semua takdir nya.


Setelah bermimpi tentang Bella di malam itu ia semakin yakin kalau Bella membutuhkannya saat itu ia pun nekat kabur.


"Maafkan aku Laura bukan maksud aku menipu mu sudah cukup aku membantu mu selama ini, aku juga tidak mau tergantung pada mu. Kehidupan ku punya diriku sendiri aku berhak mencari cara buat mewujudkan semua mimpi ku. Selamat tinggal Laura...!" ucap Dewa sendiri nya.


Kini Dewa sudah berada di dalam bus yang menuju kotanya. Senyum mengembang di bibirnya karna sebentar lagi ia akan bertemu dengan Bella seseorang yang istimewa di hatinya.


"Bella... Aku sungguh merindukan ku aku harap kamu juga begitu Bella...," lirihnya sambil melayangkan pandangan di luar.


Dewa memandang di ujung jalan dan menoleh ke belakang tiba-tiba ia tertawa mengingat semua kejadian di apartemen dengan para anak buah Laura. "Mereka pasti masih enak tidur sekarang kasian juga. Maaf kan kejahilan ku!" Dewa tidak dapat menahan tawa nya hingga Pria tua yang duduk bersebelahan dengannya memandang heran dan menganggap Dewa tidak waras karena tertawa sendiri. Pria tua itu menggeser posisi duduknya menjaga jarak dari Dewa.


Ia memperlihatkan wajah Dewa dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dewa pun meliriknya.

__ADS_1


"Apa anda baik-baik saja?" ucap Dewa memberanikan dirinya untuk bertanya.


"Yah aku baik-baik saja," ujar pria tua itu dengan nada datar. "Maaf ada apa sebenarnya apa ada yang lucu kenapa anda dari tadi tertawa sendiri?" tanya pria tua itu.


"Hem, tidak ada apa-apa kok!" Dewa tertawa lagi masih enggan bercerita dengan orang yang baru di kenal nya itu.


"Oya Bapak mau kemana?" tanya Dewa.


Pria tua itu langsung mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Dewa.


"Saya Kakek Sanders hendak ke kota D.


"Oh senang bertemu dengan Kakek saya Dewa. Tujuan kita sama Kek, kalau boleh tau kakek turun dimana nanti?"


Sedikit pun Dewa tidak curiga kalau orang yang diceritakan itu adalah Bella. Mereka asyik mengobrol tentang diri masing-masing. Entah apa sebabnya mereka tiba-tiba cepat akrab hingga Dewa di ajak untuk ikut menghadiri acara pernikahan cucunya juga. Dewa pun dengan senang hati menerima ajakan sang kakek itu.


Saatnya Bus menepi dan berhenti semua penumpang harus turun karena mereka sudah tiba di tempat tujuan. Bus pun mau istirahat di pangkalan mereka. Dewa dan Kakek Sanders ikut turun dari Bus tersebut. Tiba-tiba Dewa memperhatikan raut wajah kakek Sanders yang tampak seperti orang kebingungan, Dewa pun bertanya.


"Sepertinya Kakek cari seseorang ya?"

__ADS_1


"Iya Kakek cari orang yang akan jemput kakek. Ia berjanji akan jemput di sini," ujar Kakek.


"Kenapa kita tidak bareng aja Kek?" ucap Dewa tiba-tiba. "Jarak desa yang akan kita datangi kan tidak jauh dari sini kita pesan ojek online saja," usul Dewa.


Kakek itu ragu karena sudah berjanji akan di jemput oleh adiknya. Tapi dari tadi adiknya belum juga menjemput nya. Dewa pun tidak tega mau pulang meninggalkan kakek itu. Dewa mengajak kakak untuk naik ojek saja.


"Percuma saja Nak, kakek tidak tau rumah adik kakek itu karna ini lah hari pertama kakek datang ke sini," jelas kakek.


"Aduh gimana ya?" ucap Dewa bingung.


Kakek Sanders kebingungan bagaimana cara nya menghubungi adiknya karna Ponsel nya juga mati. Dewa juga tidak punya ponsel untuk membantu menghubungi keluarga kakek tersebut. Dewa berpikir sejenak bagaimana caranya membantu Kakek Sanders.


"Hah, dari pada bingung bagaimana kalau kita makan dulu saja!" ajak Kakek Sanders pada Dewa.


Dewa memegang perutnya Kebetulan banget aku lapar batin nya.


"Boleh deh Kek, makasih saya tau dimana tempat makan yang enak di sekitar sini," ujar Dewa.


"Ya sudah ayo!" sahut kakek.

__ADS_1


Mereka pun pergi mencari tempat makan yang dikatakan Dewa itu, sebuah rumah makan yang sederhana namun memiliki ciri khas tersendiri.


Semua makanan di situ serba enak. Kakek Sanders mengacung jempol ke arah Dewa sepertinya ia sangat menyukai makanan di situ. Sementara mereka makan Dewa meminjam changer pada pemilik rumah makan itu. Beruntung changer nya cocok dengan ponsel kakek.


__ADS_2