
Naina bangkit dari duduknya, memeriksa pintu masuk. Nihil. Tak ada siapa pun di sana. Ia mulai meragukan firasat yang baru saja ia rasakan.
'Ah, mungkin perasaanku saja karena banyak yang terjadi akhir-akhir ini,' batin Naina.
Gadis itu kembali duduk di bangkunya, mengambil sebuah novel yang ia bawa dan mulai membacanya.
Di sisi lain, sepasang mata itu beranjak menjauh. Ia sudah cukup puas hanya dengan melihatnya dari kejauhan untuk saat ini.
Tak terasa waktu sudah beranjak siang, Naina turun dan menemui Andre di kantornya. Pas sekali karena lelaki itu baru saja selesai dari urusannya.
"Maaf ya, membuatmu menunggu lama," ucap Andre menatap Naina lekat.
Gadis itu tersenyum simpul, "Gak masalah kok."
"Ayo, temani aku makan siang," ajak Andre seraya menarik lengan Naina.
Naina menurut saja, berjalan beriringan menuju parkiran, Andre segera mengambil mobil, sedang Naina menunggu di pintu keluar.
"Kak," bisik suara tepat di belakang telinganya.
"Astaga, kamu!" teriak Naina kaget.
"Apaan sih, Kak. Segitu kagetnya liat ketampananku ya," ucap Abbas dengan percaya diri.
Ish, sok narsis banget sih," sungut Naina.
"Kok sendirian, nungguin aku ya."
"Ngaco."
Naina tampak geram, Abbas justru semakin tersenyum menggoda. Ia mengerling pada gadis itu yang hanya ditanggapi acuh tak acuh.
Tin!
Suara klakson mobil menginterupsi, muncul wajah Andre yang tampak kesal melihat Abbas terus mendekati Naina.
"Ayo."
Andre menarik Naina masuk, sedangkan matanya terus mengawasi adiknya. Abbas tak peduli dengan tatapan membunuh dari sang kakak.
Mobil pun melesat meninggalkan Abbas. Di dalam kendaraan, Andre terus fokus menyetir. Keheningan menyelimuti. Naina pun tak tahu bagaimana untuk menjelaskan.
Lima belas menit kemudian, mereka memasuki area kediaman keluarga Kurniawan. Naina sedikit terkejut, tak menyangka lelaki itu akan mengajaknya makan siang di sini.
"Ayo, Mama memintaku makan siang di rumah" jelas Andre seraya membuka pintu mobil untuk Naina.
Gadis itu mengangguk serta menerima uluran tangan Andre. Bergandengan memasuki ruang tamu, di sana hanya beberapa pembantu yang menyapa. Masuk ruang makan, ternyata keduanya sudah ditunggu Nyonya dan Tuan Kurniawan.
Tak lupa, salah satu penyedap suasana. Ayesha. Gadis itu sudah duduk manis di sebelah sang Nyonya.
"Siang, Pa, Ma."
"Ayo duduk," sambut Tuan Kurniawan ramah.
Andre dan Naina duduk bersebelahan, tak lupa tangan lelaki itu menggenggam erat jemari Naina. Membuat sepasang mata menatap benci.
__ADS_1
"Siapa dia, Ndre?" tanya Nyonya dengan raut yang tak bisa dipahami.
Dia Naina, Ma. Pacar Andre," jawab lelaki itu tenang.
Tuan Kurniawan hanya mengangguk-angguk, ia tak begitu peduli. Sedangkan Ayesha tampak sibuk main mata dengan sang Nyonya.
"Ndre, ikut mama sebentar," ucap Nyonya Kurniawan dengan wajah dingin. Seraya beranjak meninggalkan ruang makan.
"Tunggu sini, ya."
Naina mengangguk. Andre mengusap punggung tangannya kemudian segera menyusul mamanya.
"Putuskan gadis itu!" titah sang Nyonya dingin.
"Itu bukan urusan, Mama. Kalau itu semua karena Ayesha mengancam, Andre masih bisa bantu perusahaan keluarga, Ma."
"Keluarga kita terlalu banyak berhutang budi dengan keluarga Ayesha, tak semudah itu memutus hubungan," ucap sang Nyonya melemah.
"Mama tenang aja, Andre sudah diskusi sama Papa, pasti ada jalan keluarnya, Ma."
Nyonya Kurniawan menitikkan air mata, ia tak ingin memaksakan jodoh anak sulungnya. Namun, ancaman Ayesha sungguh mengusik hatinya.
Keduanya kembali ke ruang makan, melanjutkan acara yang sempat tertunda. Semua menikmati hidangan dalam diam.
"Papa sudah selesai," ucap Tuan Kurniawan seraya bangkit dari kursinya.
Nyonya Kurniawan pun mengekori suaminya, meninggalkan meja makan yang kini berubah menjadi arena bersitegang anak muda.
"Andree," ucap Ayesha menggelayut manja.
Naina yang sedari tadi diam kini tampak kesal, sudah saatnya ia beraksi. Ditepisnya tangan Ayesha kasar, membuatnya mendelik marah.
Akhirnya terjadilah aksi tarik-menarik memperebutkan Andre. Lelaki itu tak tahan lagi, ia menghempaskan tangannya kuat hingga keduanya terlepas.
"Cukup, Ayesha. Jangan membuatku semakin muak melihatmu," ucap Andre seraya menggaet Naina keluar rumah.
"Huh," dengus Ayesha.
Naina menoleh ke belakang dan menjulurkan lidahnya, membuat Ayesha melepas sepatu dan melemparkannya. Tetapi sayang, sepatu mahalnya hanya mengenai tembok. Membuat Naina terkikik geli.
Mobil mereka segera melesat menjauh, di dalam, sesekali Andre tertawa sendiri. Membuat Naina keheranan.
"Apa yang lucu?" tanya Naina penasaran.
"Kamu."
"Aku?" tanya Naina dengan raut bingung.
"Iya, kamu. Ada saja trikmu untuk membuat Ayesha geram."
"Ah, itu."
Naina tersenyum malu, ternyata lelaki yang tampak cuek itu memerhatikan tingkahnya sedari tadi.
"Kita mau ke mana?" tanya Naina mengalihkan perhatian.
__ADS_1
"Kencan."
"Hah? Kencan?" tanya Naina melongo.
"Bukannya kamu masih ada kerjaan?" tanya gadis itu lagi.
"Sudah beres, tadi sengaja aku selesaikan sekaligus biar bisa kencan sama kamu," jawab Andre tersenyum senang.
Keduanya berhenti di minimarket terlebih dahulu, beberapa daging, sayur, buah dan minuman kaleng mereka beli.
Piknik di puncak. Itulah rencana kencan mereka hari ini. Sesampainya di puncak, Andre menyewa beberapa alat memasak dan pemanggang dari rental villa terdekat.
Semilir angin begitu sejuk, membuat keduanya hanyut dalam kegembiraan. Acara masak-memasak di ruang terbuka sangatlah menyenangkan bagi Naina.
"Andre, gimana nih? Kecapnya lupa beli pas di minimarket tadi," tutur Naina lesu.
"Biar aku beli, kamu tunggu sebentar ya."
"Baiklah."
Menuruni bukit menuju parkir mobil, tak sengaja Andre melihat mobil yang familiar. Tetapi mungkin saja hanya mirip, ia pun tak begitu menghiraukan dan melesat menjauh.
Di sisi lain, ada sepasang mata yang mengawasi Naina. Beberapa potret diabadikan oleh sosok misterius itu.
Lagi, Naina merasa ada yang mengawasinya. Ia menoleh ke segala arah, tetapi tak ada yang mencurigakan. Hanya ada sepasang lansia yang juga piknik tak jauh dari lokasinya.
Beberapa menit kemudian, Andre tiba dan segera bergabung dengan sang pujaan. Semilir angin yang menerbangkan beberapa helai surai Naina membuatnya terpana. Cantik, batinnya.
"Yey, sudah matang!" seru Naina gembira.
"Eh, jangan megang pipi!" seru Andre membuat Naina terdiam.
Lelaki itu mengusap pipi Naina yang terkena arang, tak sengaja mata mereka beradu pandang. Mengalirkan getar-getar tak kasat mata.
Naina mengalihkan pandang, menutupi pipinya yang mulai bersemu merah.
"Makasih," ucapnya malu-malu.
"Iya. Ayo makan!"
Kencan mereka sukses hari ini, diakhiri dengan menyaksikan sunset yang tampak kuning kemerah-merahan. Semerah hati yang tengah berbunga disiram kebahagiaan.
Menjelang malam, keduanya bersiap pulang. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sesekali Andre menoleh ke belakang. Ia merasa seolah ada yang membuntuti.
Ternyata tak hanya Andre, gadis di sampingnya juga tampak resah melihat dari balik kaca mobil.
Andre memicingkan mata, sengaja mobil ia belokkan ke jalan lain, ternyata tak hanya satu. Ada dua mobil yang mengikuti. Geram, Andre menginjak gas mempercepat laju kendaraannya.
Naina memejamkan mata, tampak ketakutan karena tangannya terus gemetar. Andre tak kehabisan akal, ia melaju menuju area taman bermain.
Menghentikan mobilnya asal dan berlari ke dalam kerumunan pengunjung. Tampak satu mobil berhenti mendadak, entah dengan yang satunya.
Seorang lelaki berjaket hitam keluar dari kemudi, melihat sekeliling dan menendang ban mobil dengan kesal. Tampak ia membanting setir kemudian menghilang di balik pekatnya malam. Wajahnya samar sebab penerangan di area parkir cukup suram.
Andre dan Naina bernapas lega, keduanya saling memandang kemudian menggeleng bersamaan. Jelas keduanya sama sekali tak bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi dan siapa lelaki itu.
__ADS_1