Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
19


__ADS_3

Hari ke empat, pagi sekali keluarga Kurniawan sudah berkumpul di depan pintu ruang ICU, termasuk Abbas. Naina hanya bisa menatap nanar dari kejauhan. Tak berani mendekat.


Gadis itu menajamkan pendengaran, mencoba mencuri dengar apa yang disampaikan oleh dokter itu.


"Kami mohon maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Kalau sampai besok pasien tidak ada kemajuan, kami terpaksa harus melepas alat bantu yang melekat di tubuh pasien," ujar dokter dengan prihatin.


"Apa maksudnya ini dokter? Anak saya tidak bisa diselamatkan lagi?" tanya Nyonya jatuh, lemas.


"Mari kita tunggu sampai besok pagi," ucap dokter itu mengakhiri pembicaraan.


Semua wajah tampak tegang, Nyonya Kurniawan menangis histeris di pelukan suaminya. Ayesha tak ada perubahan ekspresi, wajahnya datar seperti papan.


Sedangkan Abbas, juga tampak syock mendengar penuturan dokter. Meskipun bersaing, ia juga tak ingin saudaranya mati.


Naina yang mendengar itu langsung terduduk di lantai, lemas, seolah semua tulangnya lolos begitu saja. Bulir bening mulai berebut keluar, mencipta jalur, membasahi pipinya. Hatinya merasakan sakit, sakit yang teramat.


'Lelucon apa ini Tuhan? Kenapa! Kenapa mengambil setiap orang yang berharga dari sisiku? Kenapa!' batin Naina serasa dihujami jarum bertubi-tubi.


Menangis tersedu, menekuri lantai rumah sakit yang seolah tengah mencemoohnya gadis cengeng. Naina tak peduli, ia tak peduli tatapan orang lalu lalang yang menatapnya heran.


Sedari pagi, kedua orangtua Andre bergantian berjaga, mereka jauh-jauh menyusul ke Yogyakarta bukan untuk kabar duka. Mereka tak pernah mengharapkan ini. Hati sepasang suami istri itu terluka melihat anak sulungnya tak berdaya.


Nyonya Kurniawan terus menerus menangis di sisi ranjang, mengucap janji manis apapun yang sanggup ia penuhi.


"Sayang, bangunlah, Nak. Mama janji gak akan maksa kamu lagi, mama gak akan mencampuri urusan jodoh kamu, tapi mama mohon ... bangun ya, Nak," isaknya parau.


Tuan Kurniawan memegang bahu sang istri, memberi kekuatan yang masih tersisa. Sebagai seorang ayah, ia juga amat tersiksa.


Siapa? Siapa yang rela anaknya terbaring sekarat seperti ini? Lelaki paruh baya itu berusaha sekuat tenaga menahan airmatanya.


Sejak kabar pagi itu terucap, sejak saat itu pula Ayesha pulang ke Bogor. Ia berdalih ada urusan perusahaan yang mendesak. Padahal, sejujurnya ia sudah malas berpura-pura.


Gadis glamour itu memilih pergi, menunggu kabar dari kejauhan. Tak mau bersusah payah menjaga seorang mayat hidup, baginya.


jatuh, lemas.


"Mari kita tunggu sampai besok pagi," ucap dokter itu mengakhiri pembicaraan.


Semua wajah tampak tegang, Nyonya Kurniawan menangis histeris di pelukan suaminya. Ayesha tak ada perubahan ekspresi, wajahnya datar seperti papan.

__ADS_1


Sedangkan Abbas, juga tampak syock mendengar penuturan dokter. Meskipun bersaing, ia juga tak ingin saudaranya mati.


Naina yang mendengar itu langsung terduduk di lantai, lemas, seolah semua tulangnya lolos begitu saja. Bulir bening mulai berebut keluar, mencipta jalur, membasahi pipinya. Hatinya merasakan sakit, sakit yang teramat.


'Lelucon apa ini Tuhan? Kenapa! Kenapa mengambil setiap orang yang berharga dari sisiku? Kenapa!' batin Naina serasa dihujami jarum bertubi-tubi.


Menangis tersedu, menekuri lantai rumah sakit yang seolah tengah mencemoohnya gadis cengeng. Naina tak peduli, ia tak peduli tatapan orang lalu lalang yang menatapnya heran.


Sedari pagi, kedua orangtua Andre bergantian berjaga, mereka jauh-jauh menyusul ke Yogyakarta bukan untuk kabar duka. Mereka tak pernah mengharapkan ini. Hati sepasang suami istri itu terluka melihat anak sulungnya tak berdaya.


Nyonya Kurniawan terus menerus menangis di sisi ranjang, mengucap janji manis apapun yang sanggup ia penuhi.


"Sayang, bangunlah, Nak. Mama janji gak akan maksa kamu lagi, mama gak akan mencampuri urusan jodoh kamu, tapi mama mohon ... bangun ya, Nak," isaknya parau.


Tuan Kurniawan memegang bahu sang istri, memberi kekuatan yang masih tersisa. Sebagai seorang ayah, ia juga amat tersiksa.


Siapa? Siapa yang rela anaknya terbaring sekarat seperti ini? Lelaki paruh baya itu berusaha sekuat tenaga menahan airmatanya.


Sejak kabar pagi itu terucap, sejak saat itu pula Ayesha pulang ke Bogor. Ia berdalih ada urusan perusahaan yang mendesak. Padahal, sejujurnya ia sudah malas berpura-pura.


Gadis glamour itu memilih pergi, menunggu kabar dari kejauhan. Tak mau bersusah payah menjaga seorang mayat hidup, baginya.


Esok adalah penentuan, menjelang malam, Abbas mendatangi kedua orangtuanya bersama Naina.


Nyonya kurniawan menatap Naina dengan tatapan entah, pikirannya kalut. Sedangkan Tuan Kurniawan hanya duduk terdiam, menekuri lantai.


"Ma, Pa, tolong izinin Naina buat ketemu Bang Andre untuk terakhir kali," pinta Abbas memelas.


Nyonya dan Tuan Kurniawan saling pandang, kemudian mengangguk bersamaan. Sang Nyonya tahu, bahwa putra sulungnya mencintai gadis itu. Ia hanya bisa berharap, Naina bisa membuat Andre sadar kembali.


"Pergilah," lirih Nyonya.


Naina mengucapkan terimakasih dan memasuki ruangan bersama Abbas. Keduanya mendekati Andre yang terkulai lemas di ranjang.


"Gue tinggal dulu ya, lo jagain abang gue, dan buat lo, Bang. Jangan bikin anak orang nangis mulu," ucap Abbas menatap sang kakak yang hanya membisu.


Abbas melangkah keluar, memberi ruang untuk keduanya. Dia cuma berharap, semoga semua lekas baik-baik saja.


Sepeninggal Abbas, Naina menatap Andre dengan nanar, pelan ia genggam tangannya. Menyalurkan kehangatan.

__ADS_1


"Ndre, kapan kamu mau bangun? Udah mau lima hari loh, kamu gak kangen aku? Hiks," isaknya lirih.


Detik demi detik terasa amat lambat, malam yang kelam dengan tangis yang mewarnai. Gadis itu sesenggukan, mencium punggung tangan Andre.


Tepat pukul dua dini hari, Naina masih terjaga. Malam akan semakin berlalu, dan tanda-tanda kehidupan semakin membeku. Kalut menanti reaksi Andre yang hanya terdiam, membisu.


Kantuk mulai menyergap, Naina terus bertahan untuk begadang. Ini adalah momen terakhir, ia ingin mnghabiskan sisa malam dengan Andre.


Lagi, Naina mencoba mengajak bicara, berharap Andre dapat mendengarnya. Meski kenyataannya begitu menyayat hati.


"Kamu inget gak, pas kita di losmen, waktu itu kamu nanya 'kan, aku mau jadi istri kamu apa enggak? Kalau kamu bangun, aku bakal jawab deh, please ... makanya kamu harus bangun, Ndre."


Pagi itu, tepat pukul empat pagi. Langit telah membolak-balikkan takdir atas sebuah tekad bernama cinta.


Jemari yang terasa dingin itu perlahan bergerak, balik menggenggam jemari Naina. Gadis itu tercengang, merasa keajaiban berpihak padanya.


Pelan tetapi pasti, kelopak yang hampir seminggu itu tertutup rapat, kini terbuka untuk pertama kali. Menatap wajah sembab gadis yang menjadi penghuni hati.


Naina berseru girang, memanggil dokter jaga. Keluarga Kurniawan tampak mengucap syukur, tetapi sedetik kemudian berubah menjadi tangis pilu.


Tubuh Andre tiba-tiba kejang, semua jemarinya terasa kaku. Seluruh orang selain tenaga medis diminta keluar. Tindakan akan segera di lakukan.


Entah apa yang terjadi, Naina tergugu, merasa dipermainkan oleh langit. Tipis harapannya. Tak lagi sanggup ia meminta.


Derai airmata menyelimuti semua yang ada di sana, sesak, pilu dan rasa takut ditinggal keluarga maupun orang tercinta.


Kematian memanglah tak dapat ditebak, sungguh ironi kala kita yang tadinya bersama dan baik-baik saja, kini berputar seratus delapan puluh derajat menjadi penuh luka.


Satu jam yang teramat kejam pun berlalu, seorang tenaga medis keluar dari balik pintu. Menatap sendu pada seluruh pasang mata yang membisu.


"Saudari Naina? Tolong ikut kami," pintanya membuka pintu.


Naina mendongak, secepat kilat mengusap bulir di sudut mata. Gegas ia berlari, dekat saja. Tapi terasa ber mil-mil jauhnya karena sesak yang ia rasa.


Sepasang kejora itu berbinar, menatap siapa yang tengah tersenyum padanya. Gadis itu mendekati ranjang pasien. Tangisnya pecah memenuhi ruangan.


Kini, gadis itu menyadari satu hal, hati yang dulu mati, takkan selamanya mati. Adakalanya, luka yang menganga itu dapat terobati. Cinta, memang menyembuhkan, tetapi juga melukai.


"Andreee!" serunya tertahan

__ADS_1


__ADS_2