
Kekasih Bayaran Bagian 74
Oleh Sept
Peringatan!
Yang belum punya KTP, buku nikah, lebih baik skip ke bab berikutnya. Terima kasih, demi kesucian hati dan pikiran pembaca sekalian.
***
"Kavi! Jangan mulai lagi!"
Winda mendorong Kavi dengan sikunya hingga bisa lepas. Dan Kavi hanya meringis sakit kemudian kembali memeluk. Kali ini ia peluk Winda dari depan. Hingga terlihat jelas wajah segar Winda yang habis mandi.
"Dengarkan aku dulu." Kavi kemudian memegang kedua tangan wanita tersebut. Kemudian mengecupp secara bergantian jari jemari kekasihnya itu. Wajahnya terlihat berseri-seri. Kavi seperti habis memenangkan jackpot besar.
"Kamu ini kenapa? Datang-datang udah aneh-aneh!" protes Winda.
"Dengarkan dulu, kamu pasti seneng."
Alis Winda mengeryit, diikuti dengan dahinya yang mengkerut.
"Apa?"
Bukannya menjawab, Kavi malah menarik Winda dan langsung mengangkat tubuh itu tinggi sambil berputar-putar bahagia.
"Mama setuju ... mama udah kasih lampu hijau ke Kita!" ucap Kavi dengan heboh.
"Benarkah?" jelas Winda tidak bisa percaya begitu saja.
Kavi pun mengangguk, kemudian mengatakan apa yang terjadi beberapa saat lalu. Di mana ia habis menelpon Hanum. Masih tidak percaya, ia pikir Kavi ngarang.
"Jangan bercanda, Kav. Ini nggak lucu!"
Pria itu menggeleng, kemudian melepaskan Winda.
Bukkkk ...
Kavi malah melemparkan tubuhnya ke ranjang yang ada di kamar itu.
"Kita nikah Windaaa ... mama sudah setuju!"
Winda hanya geleng-geleng kepala, menyaksikan aksi di luar kebiasaan Kavi.
"Serius tante setuju?" tanya Winda kemudian sambil duduk di tepi ranjang.
"Hemm ... mama malah menyuruh Kita langsung pulang. Dan sepertinya kamu harus minta cuti tambahan.
Winda tertegun, ia sampai lupa masih memiliki banyak tanggungan kerjaan di tempatnya bekerja saat ini.
"Cuma seminggu, Kav. Dan kita udah pakai dua hari."
Kavi langsung memasang muka masam, tapi Winda malah jahil. Dengan iseng ia mengelitik Kavi, biar laki-laki itu tidak marah. Karena Winda masih belum mengambil keputusan, akan resign atau mengurangi pekerjaan secara berkala.
"Jangan pegang-pegang, Windaa!" protes Kavi.
Winda tidak mengindahkan seruan Kavi, malah gencar mengelitik pria itu hingga Kavi jadi tidak tahan.
"Aku bilang jangan pegang-pegang," ucap Kavi kemudian mencengkram kedua pergelangan tangan Winda.
"Idih! Lepasin!"
"Kamu yang pegang duluan!"
"Apa sih, cuma gelitikin aja."
"Tapi kena itu, Winda!"
Seketika Winda langsung menjaga jarak, ia berjalan cepat ke koper dan mengambil baju ganti. Melihat betapa saltingnya Winda, menyisahkan kepuasaan tersendiri bagi Kavi.
'Kamu punya rasa takut juga rupanya? Ish ... bagaimana nanti kalau kita menikah, Winda?' gumam Kavi dalam hati.
***
Sesaat kemudian
__ADS_1
Winda muncul dengan baju santai, keduanya lalu makan malam bersama. Selesai makan malam, mereka cukup lama berbicara di balkon kamar hotel. Sekedar membicarakan rencana masa depan mereka berdua. hingga malam semakin larut dan Winda sudah beberapa kali meguap, membuat Kavi memutuskan kembali ke kamarnya.
"Ya udah, met istirahat ya."
"Hemm."
"Have a nice dream!"
Cupp
Bibir itu kini sudah lancar sekali mendarat tanpa aba-aba. Dan Winda pun sepertinya sudah mulai merasa terbiasa.
"Udah sana!" Winda mendorong tubuh Kavi yang sepertinya ingin mencoba menciumm lagi.
"Oke .. oke ... besok bangun pagi-pagi. Aku pesan ticket paling pagi."
Winda mengangguk sambil tersenyum.
***
Bandara Kualanamu International airport
Benar kata Kavi, pagi ini mereka sudah ada di Bandara. Seolah tidak sabar pulang dan ketemu sang mama. Kavi ambil penerbangan paling pagi. Sepertinya ia juga sudah tidak sabar belah durian.
Winda juga sudah tidak terlihat murung pasca kejadian di rumah Pak Ruhut. Mungkin karena ada Kavi, yang selalu lengket seperti permen karet, membuat Winda lupa akan rasa sedihnya. Kavi memberikan warna tersendiri, membuat kesedihan Winda memudar menjadi bahagia karena merasa dicintai. Setidaknya, ia merasa ada satu orang saja yang membuatnya merasa berarti.
Seperti saat ini, keduanya sudah dalam pesawat di firs class. Kembali saling bercerita, menggenang kejadian yang sudah-sudah. Saat awal pertama kali mereka bertemu.
"Kav, aku masih heran dan bertanya-tanya. Waktu ... emmm saat pertama kali aku melihatmu di ruangan bu Fenita."
Kavi yang ingat moment konyol itu, langsung terkekeh.
"Oh, itu."
"Ish ... kenapa tertawa?"
"Tidak. Bukan apa-apa."
"Berapa lama kalian pacaran?" tanya Winda kemudian, ia malah jadi kepo.
"Kamu pikir aku percaya? Lalu kenapa kamu menciummnya? Di kantor pula!" protes Winda. Sepertinya cemburunya sudah telat. Karena kejadian itu sudah beberapa tahun silam.
Kavi menggeleng.
"Siapa yang menciumm??? Kami tidak pernah melakukan apa yang kamu tuduhkan. Lagian gadis yang pertama kali aku ciumm juga cuma kamu."
Seketika Winda tersenyum getir. "Kamu pikir aku percaya?"
"Terserah ... yang perlu kamu tahu, waktu itu aku hanya sedang menggoda bu Fenita agar ia mau tanda tangan di berkas-berkasku."
"ASTAGA!"
Melihat Winda yang kaget, Kavi pun nyengir bak unta Arab.
***
Jakarta
Tidak terasa setelah beberapa jam di udara kini keduanya sudah tiba di Bandara International SH. Begitu keluar dari terminal kedatangan, Winda dan Kavi sudah dijemput oleh Hanum. Ya, Hanum dan Gadhi langsung menjemput sendiri anak mereka.
"Itu, mama. Ayo, Win!" Kavi reflek memegang tangan Winda. Langsung mengajak Winda berjalan mendekati sang mama dan sang papa yang sudah menunggu.
"MAA!"
Kavi langsung memeluk Hanum, kemudian ganti memeluk papanya.
"Kemarilah!" Habis memeluk Kavi, Hanum kemudian menatap Winda yang diam seperti patung. Dan barulah Hanum memintanya mendekat, Winda baru berani melangkah.
"Kamu cantik sekali sekarang? Pantes Kavi tidak bisa move on." Sepertinya Hanum mencoba mencairkan suasana.
Winda hanya tersenyum tipis, masih canggung.
"Ya sudah, ayo kita pulang!" ajak Gadhi sambil merangkul Kavi, putranya. Sepertinya Gadhi cukup senang, karena melihat Kavi yang wajahnya sangat sumringah. Beda sekali saat beberapa tahun di Jerman. Wajah itu dingin dan minim ekspresi.
***
__ADS_1
Mereka semua langsung ke kediaman Gadhiata Ratama Prakash. Kavi tidak membiarkan Winda menginap di hotel.
"Ma ... Winda sekarang sebatang kara. Kavi mau menikah sederhana. Nanti giliran resepsi, terserah sama pihak WO."
"Kamu buru-buru sekali," celetuk Gadhi.
"Gak apa-apa, mama terserah pada kalian."
Winda tertegun, kemudian menatap Kavi.
"Ya sudah, besok Kavi atur semuanya. Kita nikah di rumah ini ya?"
Gadhi tersenyum getir. Heran, kenapa titisannya itu ngebet sekali?
"Harus pelan-pelan, Kav!" ucap Gadhi kemudian.
"Jangan tergesa-gesa, kasian Winda," tambah Gadhi.
"Biar, Pa. Lebih cepat lebih baik," sela Hanum kemudian melempar senyum pada Kavi. Membuat pria itu pindah duduk dan langsung memeluk Hanum.
"Makasih banyak, Ma."
Gadhi cuma bisa geleng-geleng kepala.
***
D-Day
Winda beberapa hari tinggal di sana, dia tidur di ruang tamu. Dan kali ini merasa diterima oleh keluarga itu. Tidak peduli dengan latar belakangnya.
Seperti sekarang, Hanum bahkan membatu memakaikan veil di rambut Winda.
"Kamu cantik, Tante titip Kavi, ya." Hanum kemudian memeluk Winda, sepertinya sudah ikhlas jodoh Kavi siapa.
"Iya, Tante."
"Jangan tante. Sekarang panggil Mama."
Mata Winda langsung perih, ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Eh ... jangan nangis. Nanti make up luntur!" canda Hanum sambil megusap pipi Winda, calon menantunya.
Tap tap tap
Tim bagian WO datang, memeriksa apa pengantin sudah siap.
"Apa bisa Kita mulai, Nyona?" tanya bagian WO menatap Hanum.
Hanum mengangguk, kemudian mengantar Winda keluar. Rumah mereka yang megah sudah disulap seperti gedung pernikahan. Bunga-bunga ditata rapi. Meksipun sederhana, jelas Hanum mau sesuatu yang wah untuk putranya.
Ia memanggil Tim dekor khusus, untuk menyulap rumahnya menjadi tempat akad yang elegant. Meksipun tidak di gedung.
Yang hadir pun hanya kalangan terbatas, mereka ingin sesuatu yang private. Lain cerita saat di gedung nanti. Mungkin Winda juga akan mengundang teman-temannya yang ada di Bali.
***
Saat ini acara sudah dimulai, Winda jalan perlahan menuju meja di mana Kavi sudah menanti kedatangan wanita tersebut.
'Kamu cantik!' gumam Kavi.
Ia melempar senyum saat Winda sudah duduk di sisinya. Dan tidak butuh waktu lama mereka menjadi pasangan suami istri yang sah, karena Kavi mengucap ijab kobul dengan tepat karena sudah latihan semalaman.
....
....
"Bagaimana, Saksi? Sah?"
"SAH!"
"SAH!"
Alhamdulillah.
__ADS_1