
Kekasih Bayaran Bagian 94
Oleh Sept
"Bagaimana, sudah dipikirkan belum kita mau ke mana? Yakin hanya mau ke Paris?" tanya Kavi sambil membelai rambut Winda yang kini ada dalam pangkuannya.
"Hemmm ... iya, di sana saja. Memangnya kamu mau ke mana?"
"Aku? Terserah kamu, asal ada kamu aku sih gak keberatan," jawab Kavi, tangannya masih sibuk membelai rambut serta sesekali mengusap pipi Winda yang lembut.
"Kenapa ini lembut sekali, kenyall seperti agar-agar," celoteh Kavi sambil mencubit pipi istrinya.
"Ish!" Winda mendesis kemudian menggeleng pelan. Kavi senang sekali mencubit hidung dan pipinya akhir-akhir ini.
"Aku bukan Kezia, jangan gitu. Kayak anak kecil saja!" protes Winda sambil menatap manja.
"Bukan anak kecil, hanya saja kamu bikin aku gemas!" Kavi mau mencubit lagi, tapi Winda langsung memegang tangannya.
"Jangan macam-macam, nanti aku remass balik, pusing kamunya!" Winda mengancam dan sama sekali tidak membuat Kavi takut. Pria itu malah tersenyum dan memajukan bibirnya.
"Lakukan ... aku malah seneng," ucap Kavi tanpa malu.
Winda pun menahan napas panjang, sepertinya ia salah mengancam Kavi. Sebab pria tersebut malah senang.
Tok tok tok
Ketika lagi asik berduaan di dalam ruang kerjanya, ada yang datang sambil mengetuk pintu.
"Siapa itu? Kan sudah aku katakan tidak boleh menganggu."
"Buka aja," seru Winda kemudian bangkit. Ia ke kamar kecil dalam ruangan itu untuk memeriksa penampilannya.
__ADS_1
"Aku lihat dulu!" Kavi lantas memeriksa siapa yang datang, padahal sudah diberi peringatan, ia tidak mau diganggu.
Ternyata yang datang malah sekretarisnya.
"Ada apa?" tanya Kavi dingin.
"Maaf, Tuan. Ada satu berkas yang harus tuan periksa dan tanda tangani."
Sekretaris Kavi tersebut menyodorkan sebuah map warna kuning.
"Baiklah, nanti aku periksa!" ujar Kavi dan bersiap menutup pintu.
"Tuan, Tunggu! Itu harus sekarang."
Kavi mendesis, menahan kesal. "Ish!"
"Masuk!" titahnya kemudian.
Kavi pun duduk di meja kerjanya, kemudian memeriksa sekilas. Lalu dengan cepat menandatangani berkas tersebut.
"Terima kasih, Tuan. Maaf menganggu."
"Hemmm!"
Sekretaris Kavi melirik Winda yang baru keluar dari kamar kecil. Membuat wanita itu merasa canggung karena tatapan sekretaris suaminya itu.
Setelah sekretaris Kavi pergi, Winda langsung bicara. "Sayang, aku pulang saja. Kamu sibuk sepertinya."
"Sibuk apa, nggak. Udah beres."
"Aku gak enak ikut ke kantor. Lagian ngapain juga. Udah ya, mending aku pulang," bujuk Winda.
__ADS_1
"Oke!"
Kavi lalu memakai jasnya lagi.
"Nggak usah dianter, aku naik taksi aja!" Winda mencegah suaminya bangun dan dikira akan mengantar dirinya.
"Siapa yang mau nganter, gak lah. Aku ikut pulang sekalian!" ujar Kavi santai.
Winda hanya bengong. "Oke, aku gak jadi pulang!"
Kavi pun tersenyum lepas.
***
Pukul 4 sore
Perusahaan Global Tourshine Groups terlihat masih sibuk, banyak karyawan yang masih berkutat dengan pekerjaan mereka masing-masing. Sedangkan si pasangan Pak boss, mereka sedang bersiap untuk pulang.
"Kita jalan dulu, jangan langsung pulang. Kalau pulang sekarang, pasti Kezia langsung mengambil alih!" ucap Kavi.
"Ngalah dong sama anak kecil, ponakan sendiri juga."
"Pokoknya Kita jalan dulu, pulang-pulang kalau Kezia sudah tidur," ucap Kavi dengan nada bercanda.
"Astaga."
Akhirnya mereka jalan-jalan beneran, ke sebuah mall yang tidak jauh dari kantor. Di sana mereka melakukan apa saja yang seperti orang-orang pacaran lakukan. Bergandengan tangan seperti truck gandeng yang tidak terpisah, makan di kafe suap-suapan, minum es cream, dan melakukan hal lain yang belum mereka lakukan. Maklum, mereka baru merasakan pacaran setelah menikah.
Winda baru mengajak Kavi pulang ketika langit mulai gelap. Puas seharian bersama-sama membuat keduanya sangat bahagia hari ini. Namun, ketika dalam perjalanan pulang, sebuah panggilan masuk membuat kebahagian yang Winda rasakan hari ini langsung pecah.
Bersambung
__ADS_1
IG Sept_September2020