Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
3


__ADS_3

"Naina, kamu masih membenciku?"


Naina tampak panik, tangannya terulur kebelakang, berusaha menghubungi siapa pun di seberang sana.


Suasana kian mencekam kala lelaki itu hendak melangkah kembali, ia terus menatap Naina dalam diam. Membuat detak jantung gadis itu semakin bergemuruh.


"Jangan mendekat!" teriak Naina lagi, ia sangat ketakuan sampai lututnya gemetar. Gadis itu hampir menangis.


Seolah tak mendengar cicitan Naina, lelaki itu terus melangkah hingga tiba-tiba sebuah bogem mentah melayang di sudut bibirnya.


Andre kembali secepat kilat, usai mendapat telepon dari Naina dan mendengar suara yang janggal. Firasatnya buruk.


Lelaki itu terhuyung, berusaha berdiri tegap kembali tetapi segera mendapat pukulan bertubi dari Andre.


"Naina! Aku sudah sangat baik padamu!" desis lelaki itu.


"Aku akan ingat kejadian malam ini!" serunya seraya menghilang di balik pekatnya malam.


Andre segera mendekati Naina yang terduduk lemas tanpa energi. Seluruh tubuhnya gemetar, ia terus meracau dengan tatapan kosong.


"Di-dia ke-kembali ... tidak! Tidak!"


"Naina! Tenanglah! Kamu sudah aman!"


Andre memeluk Naina erat, menenangkan gadis itu, terlihat jelas ia tampak syock berat.


Andre berusaha menarik Naina bangkit, tapi tiba-tiba ia jatuh pingsan membuat lelaki itu panik dibuatnya.


Segera ia bopong Naina menuju mobil yang ia tinggalkan begitu saja dengan mesin menyala, pelan, diletakkannya gadis itu di jok belakang. Melesat menuju rumah sakit terdekat.


.


Sudah dua jam, gadis itu belum juga sadar. Seolah ia memang enggan untuk membuka matanya. Andre duduk di samping ranjang, menggenggam lembut jemari gadis itu.


Tiba-tiba ponselnya bergetar, sebuah panggilan mengusiknya. Segera ia angkat.


"Halo, Ma."


"Andre! Kamu di mana? Mama kan sudah bilang harus datang ke acara ulang tahun adikmu, gimana sih!"


"Ada urusan mendesak, Ma."


"Apalagi kali ini? Pekerjaan? Mama kan sudah bilang, kamu resign saja dari perusahaan itu, lanjutkan bisnis keluarga kita."


Andre terdiam saat Mamanya mengungkit resign lagi, enggan menjawab pertanyaan yang sama.


"Pokonya besok makan siang kamu harus pulang! Mama gak mau tahu!"


Tut....


Panggilan diputus sepihak, Andre menghela napas kasar, ia tahu persis rencana Mamanya. Mau tak mau besok harus pulang jika sang Ratu sudah memberi titah mutlak.


Andre kembali duduk, menatap wajah Naina yang tertidur dengan tenang. Pikirannya berkecamuk, siapa sebenarnya lelaki itu sampai membuat gadis pemberani ini sangat ketakutan.

__ADS_1


Andre menjaga Naina sepanjang malam, membuat ia tak sadar terlelap di sisi ranjang.


Tepat saat matahari mulai menyingsing, perlahan kelopak mata itu terbuka, menampilkan pijar kejora yang menerawang sekitarnya.


Naina kaget mendapati dirinya di rumah sakit, saat hendak duduk, ia baru sadar Andre menggenggam tangannya erat. Gadis itu tersenyum samar, sedikit lega karena lelaki dihadapannya datang tepat waktu.


"Kamu sudah sadar?" serak Andre bertanya khas orang bangun tidur.


"Kamu yang bawa aku ke sini?"


Bukannya menjawab, gadis itu justru balik bertanya. Membuat Andre terkekeh senang melihat Naina tampak jauh lebih baik.


"Bagaimana perasaan kamu?"


"Sudah lebih baik."


Hening, Andre sangat ingin menanyakan perihal lelaki semalam. Namun, Naina baru saja pulih. Ia pun mengurungkan niatnya.


"Sarapan."


Seorang suster jaga memecah keheningan, ia mengantar sarapan pagi untuk Naina. Andre tersenyum berterimakasih pada suster itu.


Naina menatap ke luar jendela, tatapanya masih sedikit kosong. Andre mendekat, menyodorkan mangkuk berisi bubur nutrisi.


Naina menggeleng lemah, bibirnya masih pucat karena tak bertenaga, Andre menarik wajah gadis itu agar menghadapnya. Ditatapnya manik itu penuh arti.


"Sarapan sendiri atau mau aku suapin?" tanya Andre memberi pilihan.


"Sarapan sendiri."


Andre dengan telaten mengelap pipi dan juga nampan, ia mengambil alih, mulai menyuapi Naina. Gadis itu diam saja, menerima perlakuan tulusnya.


Usai sarapan, Naina bersikeras ingin pulang. Ia tak betah berada di rumah sakit dengan selang ditangannya.


"Tunggu sampai infusnya habis ya? Tunggu sampai siang baru aku antar pulang, okey?"


Gadis itu mengangguk lemah, kembali berbaring dan menatap kosong pada jendela. Pikirannya melayang ke kejadian lima tahun silam.


Lelaki itu, adalah sosok yang paling ia percayai. Tetapi itu dulu, sebelum kejadian mengerikan itu terjadi. Naina menggeleng kuat, menepis bayangan sosok itu.


Hanya saja Naina tak menyangka, secepat itu lelaki itu dibebaskan dari penjara atas perbuatannya. Sungguh ia tak habis pikir, bagaimana pria itu bisa menemukannya.


Pikiran Naina berkecamuk, sebuah bulir hangat mengalir membasahi pipi, ia sangat membenci lelaki itu. Sampai kapanpun.


"Naina, kamu boleh bercerita jika tak kuat menahannya, bersandarlah padaku, kamu tidak sendiri," ucap Andre menggenggam jemari gadis itu erat.


"Namanya Alex ... Alexander. Dia lelaki ********! Yang tega menghianati kepercayaanku, dia ... dia."


Kian deras air matanya mengalir, Andre merengkuh Naina dalam pelukan, mengusap punggung gadis itu pelan, memberi kekuatan. Ia pinjamkan dadanya untuk bersandar, menumpahkan segala beban.


"Dulu, dia adalah penyelamat, aku mengenalnya di tempat pertama mendapat pekerjaan di coffe shop."


"Dia sudah seperti kakak, merangkul saat kedua orangtuaku meninggal, Alex memberi tempat tinggal dan kasih sayang yang hilang."

__ADS_1


"Tetapi semua berubah semenjak ia mulai kecanduan judi. Dia bahkan menculikku, mengurung di rumah kosong dan hendak menjualku pada rentenir karena hutang judinya yang banyak."


"Aku sangat membencinya, sangat! Gara-gara dia, hampir saja diriku dilecehkan, hiks hiks."


Andre terus mendengarkan kisah pilu Naina dengan terenyuh, begitu banyak yang harus dilewati gadis itu, dalam hati ia berjanji akan melindungi Naina mulai saat ini.


Naina terus menangis, menangis hingga ia lelah dan tertidur di ranjangnya. Andre mengusap pipi gadis itu perlahan.


Kamu tidak sendiri, Naina. Sekarang sudah ada aku. Kamu harus kuat."


Andre mengecup kening Naina sekilas, ia menitipkannya pada suster jaga karena harus segera meluncur ke kediaman Kurniawan.


"Aku segera kembali."


.


Andre memasuki halaman keluarga Kurniawan, belum turun dari mobil, ia sudah melihat Mamanya berdiri menunggu di teras. Seorang perempuan centil menggelayut di sampingnya, siapa lagi jika bukan Ayesha.


Gadis itu tak mau menyerah meski sudah ada kejadian kemarin, kali ini apa yang ia adukan pada Mamanya? Batin Andre malas.


"Siang, Ma."


"Ayo masuk."


Acara makan siang hanya ada Mamanya dan Ayesha. Seperti dugaan. Ini jebakan lagi.


"Andre, sampai kapan kamu cueki Ayesha seperti ini? Dia gadis yang baik dan pantas buat kamu, ajak dia keluar dong, Nak."


"Ma ...,"


"Gak ada tapi-tapi, gak ada alasan apapun," potong Mamanya.


Ayesha tersenyum miring penuh kemenangan, Andre mendengkus kasar.


Usai makan siang, Ayesha mengekori Andre menuju mobil. Ia hendak kembali ke rumah sakit, tempat Naina berada.


"Kamu!"


"Apa? Selagi ada mama kamu, semua pasti bisa," ujar Ayesha menantang.


Andre terpaksa menuruti gadis itu karena sang mama melihat dari jendela, Ayesha tersenyum senang dan masuk ke dalam mobil.


Mobil segera meluncur menjauhi kediaman, di tengah jalan, mobil berhenti.


Turun!" titah Andre.


"Apa?" tanya Ayesha tak percaya.


"Aku bilang turun, Ayesha! Kamu mungkin bisa memperalat mamaku karena relasi keluarga. Tetapi kamu harus ingat! Karirku tak terpengaruh meski kamu memutus hubungan bisnis!" desis Andre tak sabar.


Ayesha turun dengan geram, sumpah serapah ia lontarkan. Ia kesal karena Andre tak bekerja di bisnis keluarganya. Ia punya kehidupan sendiri. Gadis itu tersenyum kecut. Mencari cara baru.


.

__ADS_1


Andre segera berlari menuju bangsal tempat Naina, tapi ia terkejut karena mendapati ruangan itu sudah kosong. Ia mencoba menghubungi nomor gadis itu, tetapi tak ada jawaban sama sekali.


"Sial!" Seru Andre seraya berlari.


__ADS_2