
Kekasih Bayaran Bagian 101
Oleh Sept
Kawasan longsor, sedia jas hujan atau mantel dan paling penting harus ada KTP. Yang belum memiliki kartu identitas resmi, mohon melipir. Ada razia umur. Dan sangat cocok dibaca mereka yang sudah menikah, agar RTnya tambah awet, hangat, bucin dan menggelora. Unfaedah. Lol!
***
'Tahu begini dari kemarin aku paksa saja, ish!' batin Kavi yang sudah di atas Winda. Ia mengeluh, karena pada dasarnya kalau dipaksa ternyata Winda mau juga.
Ia tersenyum kecut saat melihat ekspresi istrinya yang memejamkan mata tersebut. Seperti menahan sesuatu.
"Kamu juga pengen, kan?" bisik Kavi kemudian membuat mata yang terpejam itu langsung membuka sempurna.
Winda tidak bisa menjawab, sebab setelah Kavi bertanya, pria itu langsung melahapnya dengan lembut.
"Aku kangen banget sama kamu, masa kamu gak kangen sama ini?" tanya Kavi lagi saat melepaskan bibir istrinya yang terasa manis itu. Sepertinya Winda habis makan sesuatu.
"Bagaimana, mual tidak?" Pria itu terus bertanya, ingin memastikan Winda tidak apa-apa.
Bumil yang sedang hamil 2 bulan itu hanya menggeleng pelan, kemudian tangannya terulur untuk menyentuh wajah Kavi. Kalau dipikir-pikir, benar juga. Ia memang merindukan saat-saat seperti ini. Saat di mana bertukar keringat.
Kavi pun mengerakkan kepalanya, membiarkan Winda mengusap pipinya yang sedikit ditumbuhi bulu-bulu lembut.
__ADS_1
"Sepertinya harus dicukur," celetuk Winda yang langsung merusak moment.
"Ish, pikir belakang ... mau cukur yang lain?" goda Kavi dengan mengerlingkan mata.
Pipi Winda langsung merona. Malu, dan isi kepalanya sudah terisi sesuatu yang membuat traveling. Rasanya lama juga ia tidak melihat bakso dobel.
"Kenapa pipimu jadi merah begitu?" Kavi gencar membuat istrinya malu-malu kucing.
"Pasti karena blush on," sela Winda yang mencari alasan.
"Jangan malu-malu, seperti anak perawan saja!" ucap Kavi sambil menahan senyum dan membuat Winda langsung mencubit kismis pria tersebut.
"Aduhhh!"
***
"Kita lihat aja nanti!" gumamnya lalu pergi.
Sementara itu, tidak jauh dari sana ada suster yang menatap dari jauh.
"Itu adik non Winda kok aneh ya?" gumamnya kemudian melanjutkan pekerjaannya lagi. Karena tidak mau mengurus urusan majikan.
Sementara di dalam kamar, majikan yang dimaksud, malah sedang asik melakukan olah raga malam.
__ADS_1
***
Di dalam kamar utama. Kali ini lampu masih menyala, karena takut salah sasaran. Bukannya apa-apa, ini karena Kavi sangat hati-hati. Takut akan terjadi kelalaian jika ia bermain dalam gelap. Winda sedang hamil, kembar tiga pula. Pria itu ingin bermain dengan mode lembut dan hati-hati.
Sampai Winda tidak sabar, karena bibirnya terus meminta Kavi lebih cepat.
"Jangan, Sayang. Nanti anak-anak Kita kesakitan!"
Ingin tertawa tapi juga kesal, karena tidak sabar, Winda langsung meminta Kavi ganti posisi.
"Gantian," ucap Winda yang membuat Kavi terhenyak.
"Jangan aneh-aneh, Sayang. Anak-anak aku nanti kenala-kenapa." Kavi tidak mau, ia akan tetap di atas. Ia akan mengontrol keadaan.
"Nggak apa-apa!" ujar Winda kemudian mendorong da da bidang yang ditumbuhi bulu-bulu lembut tersebut. Seketika Kavi langsung jatuh ke sisi yang lain, dan Winda langsung mengambil alih.
'Astaga! Ada apa dengannya? Bukankah dari kemarin dia yang menolak? Kenapa malam ini begitu bersemangat?' batin Kavi kemudian tersentak saat Winda mengeluarkan jurus yang membuat monopterus langsung tegang.
Bersambung
Klik profile Sept, temukan 18 judul cerita yang sudah di publish di sini. Terdiri dari bermacam genre. Kalian tinggal pilih mau baca yang mana. Semoga terhibur, dan maaf jika banyak kekurangan, typo, kesalahan lain yang tidak disengaja. Namanya manusia, pasti tidak sempurna. Hehehe, ngeles.
__ADS_1