
Kekasih Bayaran Bagian 102
Oleh Sept
Belum memiliki KTP sebaiknya skip, terima kasih.
***
Hanya satu permainan, Kavi tidak mau nambah. Meksipun masih ingin, sebab ia tidak mau terjadi sesuatu pada cucu Hering tersebut.
"Sayang," panggil Kavi sembari memainkan rambut Winda yang rebahan di da danya.
"Hemm."
"Itu kapan dia balik?"
"Dia? dia siapa?"
"Itu!"
"Oh, Berbi. Mungkin lusa balik. Kenapa?"
"Aku mau jujur, tapi jangan marah!"
"Kenapa lagi? Yang lalu sudah berlalu."
"Kamu gak tahu saja, apa yang dia lakukan padaku!" protes Kavi.
Winda langsung terkekeh, biasanya wanita yang diapa-apakan si pria. Ini kok malah suaminya yang mengadu. Lagian bukannya Berbi baru sehari di sini, kapan mereka bertemu, Winda malah bertanya-tanya dalam hati.
"Aku serius!" Kavi kemudian melepaskan tangannya dari rambut Winda.
"Iya, ada apa? Katakan!"
"Gadis itu menggodaku," ucap Kavi jujur.
Winda yang semula tersenyum, kemudian langsung diam seribu bahasa.
"Aku tidak bohong!" tambah Kavi yang menanti respon Winda.
"Ya ... besok jangan pulang." Winda menghela napas panjang. Kemudian melingkarkan lengannya di pinggang Kavi yang masih berbaring setengah duduk.
__ADS_1
"Jangan pulang bagaimana? Ya kamu suruh dia pergi!" ujar Kavi marah.
"Pulang saja ke rumah mama, nanti aku susul."
Kavi yang tadi gusar seketika tenang. "Nginep di rumah mama?"
"Hemm."
"Trus anak itu?"
Winda hanya diam, kemudian merapatkan pelukan.
"Aku capek banget, aku mau tidur." Winda yang memang sudah lelah, memilih memejamkan mata. Ia sudah mengira, ia hanya ingin memberikan Berbie kesempatan jadi orang baik, orang yang lurus. Ternyata ia salah, sekali sampah tetaplah sampah.
Tidak marah, sebab Winda tahu bagaimana Kavi luar dalam. Rasanya ia sangat yakin, Kavi tidak mungkin tergoda. Suaminya itu pria paling setia yang pernah ia kenal. Jadi, mereka tidak akan ribut hanya karena senggolan kecil dari seekor ulat bulu.
"Sudah tidur?" tanya Kavi berbisik.
"Sayang ...!"
Kavi memijit pelipisnya, cepat sekali istrinya itu tidur. Pasti kecapekan karena minta di atas. Ia kemudian heran, mengapa Winda sangat tenang, bahkan emosinya sangat stabil. Sepertinya ada yang salah dengan istrinya itu.
***
Winda terbangun, saat membuka mata ia lalu menoleh ke sebelah. Hampir sebulan lebih mereka tidak tidur satu ranjang, malam ini mereka berbagi ranjang kembali. Bibirnya mengulas senyum saat mendengar dengkuran halus Kavi.
Bumil yang sedang menggandung calon bayi kembar tiga itu kemudian mengamati wajah Kavi dengan dalam.
"Maaf, Kav."
Winda sepertinya merasa bersalah, karena sebulan ini tidak memberikan service gara-gara ngidam parah. Benar-benar tidak bisa kena aroma parfum sedikit saja. Kalau ada wangi-wangian yang menyengat, ia langsung mual. Tapi aneh, malam ini sepertinya semuanya menjadi sangat berkurang.
Bahkan ia malah tidak mau jauh-jauh dari Kavi, seperti sekarang ini. Winda menarik selimut, berbaring sambil melingkarkan lengannya lagi di tubuh kekar Kavi.
"Sudah bangun, jam berapa ini?" tanya Kavi yang terbangun karena Winda yang bergerak-gerak.
"Masih gelap, ayo tidur lagi!" seru Winda kemudian memeluk erat.
Kavi tersadar, ia sedang tidur di atas ranjang bukan sofa. Perlahan matanya terbuka.
"Masih mual?" pertanyaan pertama keluar dari Kavi yang baru bangun tidur. Dan Winda menggeleng pelan.
__ADS_1
"Syukurlah." Pri itu lega, kemudian meraih Winda, memeluknya erat.
Sesaat kemudian, dua orang itu malah tetap terjaga. Sama-sama tidak bisa tidur lagi.
"Sudah tidur?" tanya Kavi.
"Belum."
"Kenapa?"
"Gak ngantuk."
"Aku buat ngantuk mau?"
Winda langsung tersenyum.
"Kamu tersenyum?" tanya Kavi kemudian melepaskan pelukannya, ingin menatap Winda lekat-lekat.
"Apa yang kamu tertawakan?" desak Kavi karena pipi Winda malah merona.
"Hayoooo! Mikir apa?"
Winda menggeleng, "Nggak!"
Wanita itu mencoba untuk tidak tertawa, sebab tanpa sengaja ia tadi merasakan sesuatu yang keras di sana.
"Aku tahu," bisik Kavi dan langsung menyesap lembut bibir Winda.
Winda pun kaget karena langsung diserang tanpa aba-aba. Tapi karena ulah lidah tidak bertulang itu, Winda pun terhasut. Mulai terbawa arus, mungkin ia juga rindu moment seperti ini. Saat-saat di mana mereka mandi keringat tengah malam sampai lupa waktu.
Kavi melepaskan Winda sejenak, memberikan kesempatan untuk mengambil napas. Kemudian kembali menangkup wajah Winda dengan penuh perasaan, mendekatkan wajahnya pelan lalu HAP!
Seperti tadi, Winda mau di atas. Ia begitu aktive hingga membuat Kavi tidak percaya. Kenapa Winda jadi seaktraktive begini? Lebih panas sebelum hamil. Ya, apalagi perutnya sedikit mengembung, tambah seksihhh sekali pikir Kavi.
Gerakan Winda membuat Kavi tidak berdaya, belum apa-apa tubuhnya sudah lemas.
"Jangan loyo dulu, ya!" Winda tersenyum mengejek.
Kavi seolah terpecut dengan ledekan istrinya itu. Ia pun membalik keadaan, membuat Winda mengeliatt seperti cacing kepanasan saat lidah yang tidak bertulang kembali bereaksi di tempat-tempat paling rawan dan sangat berbahaya. Bersambung
Yang sudah punya pasangan, siapkan cangkul. Unfaedah. Lol.
__ADS_1