
Andre mengerjapkan matanya, melirik jam beker di nakas seraya mengernyit.
"Baru pukul lima, siapa yang berisik sepagi ini?" desisnya.
Ia bangkit sambil mengucek mata, menetralkan penglihatannya. Pelan ia buka pintu kamarnya.
Tampak lampu di dapur tengah menyala, berarti sda seseorang di sana. Andre berjalan mendekat untuk memeriksa.
"Naina? Kamu masak?" tanya Andre mendapati gadis itu tengah sibuk membereskan perkakas.
"Eh, kamu udah bangun. Iya, aku bikin nasi goreng. Cobain deh," ucapnya tersenyum.
Andre melihat ke arah meja makan, dua piring nasi goreng sudah terhidang rapi. Tak lupa telur dadar di atasnya. Tampak lezat dan menggugah selera.
Satu hal, yang membuat lelaki itu tergoda. Gadis itu menggambar bentuk hati menggunakan saus di atas telurnya.
"Kamu lagi godain aku, Nai?" ucap Andre percaya diri duduk di depan meja makan.
"Maksud kamu?" tanya Naina tak paham.
"Tuh, gambarnya," ucap Andre mengkode dengan ekor mata.
"Mana ada, itu aku gambar karena katanya kalau masak itu harus pake perasaan. Biar rasanya enak," kilah Naina salah tingkah.
"Hahaha, iya deh, iya," sahut Andre terkekeh geli.
"Dih, dibilangin gak percaya. Nih cobain," ucap Naina seraya menyendok nasi dan menyuapkannya ke Andre.
Lelaki itu tampak terkejut, kedua bola mata mereka beradu pandang. Ada getar halus menelusup qalbu.
"Enak."
"Iya dong, kan masaknya pake perasaan," ucap Naina bangga.
Tawa Andre meledak yang dibalas dengan cubitan Naina di pinggangnya. Lelaki itu mengaduh kesakitan. Kini, gadis itu tersenyum puas.
Naina melanjutkan kegiatanya berberes, ia tampak lebih sehat. Tetapi ada yang mengusik penglihatan Andre. Gadis itu terus bolak-balik di depannya.
"Nai?"
"Apa?"
"Jangan jalan terus dong, sini duduk manis di hatiku," celetuk Andre yang justru membuat tawa gadis itu meledak.
Andre menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil cengengesan. Memikirkan apa yang salah dari ucapannya.
"Lucu banget sih, kamu belajar gombal dari mana coba, bukan gaya kamu banget, haha."
__ADS_1
"Itu bukan gombal, Nai. Aku serius."
Naina justru semakin tak percaya pada kata-katanya, lelaki itu galau. Padahal ia memang sama sekali tidak sedang menggombal. Semua itu tulus dari hatinya, tapi malah disalah artikan oleh pujaan hatinya.
"Hah, aku makan aja deh," ucap Andre pasrah.
Naina terkekeh, kemudian duduk di depannya. Mengambil sendok dan mulai ikut makan bersama Andre. Keduanya pun makan dalam diam.
Pukul enam, mereka sudah siap berangkat. Perjalanan ini akan memakan waktu selama kurang lebih dua belas jam.
Mobil melaju pelan, menembus padatnya kota Bogor. Naina melihat keluar jendela, banyak sekali pedagang kaki lima sepanjang jalan.
Waktu terasa berjalan dengan cepat, Naina tanpa sadar terlelap karena lelah. Mobil mulai memasuki kawasan Jawa Tengah. Sesekali Andre memijat bahunya yang terasa lelah.
Melewati senja, mereka sudah sampai di Jogja. Andre menuju penginapan yang sebelumnya sudah ia pesan. Mobil berhenti di depan rumah khas kejawen yang terbuat dari kayu jati.
Bangunannya terlihat kokoh dan unik. Orang sekitar menyebutnya losmen. Bukan tak mampu menginap di hotel besar, hanya saja mereka ingin menikmati keasrian lokal. Lokasinya pun tak jauh dari pusat kota Yogyakarta.
"Nai, bangun, kita udah sampai nih," ucap Andre menggoyangkan lengan Naina.
"Hmm."
Gadis itu hanya bergumam, kemudian menggeliat. Tidurnya sangat lelap sampai tak sadar dengan panggilan Andre.
Tak kunjung bangun juga, Andre membuka pintu mobil dan memanggil seorang pelayan untuk membantu membawa barang ke kamar.
Sedangkan ia mulai menggendong gadis itu, Naina diam saja. Andre sempat berpikir, 'dia ini pingsan apa tidur sih?' batinnya.
Lelah, ia berbaring di kasur sebelahnya. Badanya terasa ngilu dan pegal, ia belum pernah menyetir sejauh ini. Kalau pun ada urusan ke luar kota, ia tak pernah menyetir sendiri. Selalu ada supir dari perusahaan yang menemani.
.
Menjelang malam, Naina terbangun. Ia sedikit terkejut mendapati dirinya di kasur. Tapi ia lega karena masih berpakaian lengkap.
Naina menatap Andre yang tertidur pulas, masih lengkap dengan baju, bahkan sepatunya. Lelaki itu tampak kelelahan.
"Andre yang angkat aku ke kamar? Duh, malu banget, pasti aku berat," desisnya pada diri sendiri, ia segera bangkit dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Usai mandi dan berganti pakaian, gadis itu merasa lebih segar. Tapi perutnya berbunyi karena keroncongan. Naina mencoba membangunkan Andre.
"Ndre, bangun dong."
Lelaki itu tak bergerak, Naina tak menyerah, ia mencoba menggoyangkan lengan Andre lagi. Gadis itu cemberut karena gagal, ia duduk di tepian ranjang.
Ia menatap wajah Andre yang tengah tertidur pulas, sangat tampan dengan hidung mancung dan alis tebal. Bibirnya yang tipis terlihat menggoda. Gadis itu menggeleng mengusir pikirannya yang mulai iya-iya.
"Udah puas liatnya?" ucap Andre perlahan membuka matanya.
__ADS_1
"Hah!" Naina kaget dan bersiap berdiri.
Namun, tangannya ditarik Andre tiba-tiba, sehingga gadis itu terjatuh tepat di atas pelukan Andre.
"Andree! Awas ih."
"Bentar aja, Nai."
Naina berhenti memberontak, ia menerima pelukan Andre. Terasa hangat dan menenangkan. Tetapi sedetik kemudian ia sadar dan segera bangkit menjauh.
"Cepet bangun dong, udah malem nih," ucap Naina salah tingkah.
Andre bangun dan duduk, menatap sayang pada Naina.
"Iya, udah bangun nih, aku mandi dulu ya," sahutnya bangkit meraih handuk dan menuju kamar mandi.
Naina terduduk lemas di depan meja kaca, mencoba menetralkan detak jantungnya yang bermaraton karena ulah Andre.
Perlahan ia mulai memoleskan make up tipis di wajahnya. Biar gak kucel amat, batinnya.
Naina sudah siap untuk jalan-jalan malam, Andre keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk. Gadis itu mengalihkan pandang karena malu.
'Duh, kok rasanya kayak bulan madu aja ya? Ish, apa sih. Dasar aku!' batin Naina tak karuan.
Wangi shampo menguar sampai ke penciuman Naina, gadis itu sedikit merinding dibuatnya.
"Nai, kamu kenapa?"
Tepukan ringan mendarat di pundaknya, membuatnya kaget dan tersadar dari lamunan. Wajahnya memerah karena malu. Entah sejak kapan, ternyata lelaki itu sudah berpakain lengkap.
"Ayo cari makan," ucap Andre menyadarkannya.
Naina mengangguk dan mengekor di belakang Andre.
"Nai, jangan di belakang dong," ucap Andre menarik tangan gadis itu agar berjalan sejajar dengannya.
Mereka mengambil mobil dan meluncur ke sebuah rumah makan yang cukup terkenal di sana. The House Of Raminten, nama restoran ini sangat unik, begitu juga dengan desainnya yang bergaya kebarat-baratan.
Namun, jangan salah. Menu yang disajikan tetaplah khas masakan tradisional yang banyak diminati, sangat cocok dengan lidah orang jawa.
Andre dan Naina memasuki restoran, gadis itu tampak kagum melihat suasana restoran yang sangat unik dan tradisonal.
Saat pertama masuk, mereka mencium aroma yang tak biasa, ternyata pemilik restoran memakai sesajen kembang dan dupa sebagai pewangi ruangan.
Mereka memilih tempat duduk di pinggir, di setiap meja disediakan pentungan kecil untuk memanggil pelayan. Naina ingin mencobanya yang langsung mendapat anggukan dari Andre.
Seorang waitres datang, saat melihat para pelayan yang menggunakan kemben dan jarik. Lagi-lagi Naina terpukau, masih sangat melestarikan khas adat dan kebudayaan. Menurutnya itu sangat keren.
__ADS_1
Nasi rawon dan sego kucing menjadi menu pilihan mereka, sedangkan minumannya mereka memilih wedang sereh.
Keduanya menyantap hidangan dengan tenang, puas makan. Mereka melanjutkan perjalanan menuju Malioboro