
Kekasih Bayaran Bagian 63
Oleh Sept
Setelah menjadi bahan tontonan, mereka berdua meninggalkan tempat bersejarah tersebut. Mungkin akan menjadi tempat penuh kenangan untuk mereka bedua di masa depan. Di mana tempat itu menjadi saksi bisu Kavi melamar Winda di depan umum.
Sekarang keduanya sudah ada di dalam mobil, Kavi yang menyetir mobil milik Winda. Sedangkan mobil Kavi sendiri akan dibawa oleh kaki tangannya.
"Masih siang, jangan pulang ke apartment dulu. Kita harus merayakan hari ini!" ucap Kavi sambil melirik spion saat memasuki jalan besar.
"Hemm!" Winda tidak banyak komentar. Sebab ia sekarang malah berjibaku dengan pikirannya sendiri.
'Kenapa aku tadi menerimnya? Bagaimana ini? Bagaimana dengan orang tuanya? Winda ... kamu kenapa bodohhh sekali, kenapa malah terbawa suasana?'
"Win! Winda!" panggil Kavi yang melihat Winda duduk di sebelahnya tapi seperti melamun.
"Hemm ... ya?"
"Kenapa melamun?"
"Aku? Tidak." Winda mengelak, padahal sudah tertangkap basah oleh pria tersebut.
"Sudahlah, apa yang kamu pikirkan? Dan untuk masalah Wali, aku akan segera mencari ayahmu."
'Wali? Apanya? Wali apa?' batin Winda.
"Kenapa mendadak? Kita bisa jalani dulu, kan?"
Kavi menggeleng. "Bagimu mungkin mendadak, tapi tidak denganku."
Winda langsung diam. Sebab ia tahu maksud Kavi. Tapi ia pura-pura tidak paham.
"Asal Kita bersama, semuanya akan mudah. Mengenai ayahmu dan orang tuaku."
Baru kali ini Winda mendengarkan kata-kata Kavi dengan mode serius. Ia dengarkan, pahami dan mencoba percaya pada kata-kata pria itu. Padahal sebelumnya ia selalu menganggap perkataan Kavi bagai angin belaka.
__ADS_1
"Untuk masalah Ayahku, ayahku mungkin tidak peduli lagi, Kav."
"Kita bisa bicarakan ini setelah menemuinya. Dia tetap ayahmu."
"Aku hanya bersikap realistis saja, bahkan pemakaman ibu saja dia sudah tidak peduli. Aku tidak berharap banyak, tapi setidaknya dia datang melihatku," ucap Winda menatap jendela. Tidak mau melihat Kavi, tidak mau pria itu melihatnya menangis.
Perlahan ia usap pipinya yang basah. Mengingat keluarganya, hanya bersisi duka yang dalam. Kavi yang melihat Winda mulai berani mengeluarkan perasaan di depannya, meski itu adalah ekspresi kesedihan, tidak masalah. Itu artinya Winda mulai terbuka, mulai nyaman, karena mau berbagi cerita dukanya. Dengan lembut ia meletakkan kotak tisu di atas pangkuan Winda.
"Menangislah, jangan pernah berlagak kuat di depanku. Kamu bebas jadi dirimu sendiri saat di depanku."
"Aku tidak menangis! Ini hanya debu!" elak Winda masih setengah gengsi.
'Ish! Tetap saja keras kepala!' batin Kavi. Kemudian sebelah tangannya mengusap kepala Winda yang membelakanginya.
"Maaf Winda ... Maaf karena tidak di sampingmu ketika kamu berada di masa paling sulit. Aku turut sedih mendengar kabar kematian ibumu waktu itu. Maaf ... aku pria pengecut, yang tidak bisa memilih. Aku kasih di LN waktu itu. Ada kejadian buruk yang membuat aku menghilang lama."
Winda langsung tertarik, ia juga penasaran. Mengapa Kavi hilang 3 tahun dan tiba-tiba muncul lalu mengusiknya.
"Selama ini kamu ke mana?" Winda yang tadi berpaling, kemudian kini menatap Kavi yang masih duduk di balik kemudi.
Winda pun kecewa, karena tidak mendapat jawaban yang ia mau.
"Kita bahas yang lebih penting sekarang. Besok kita terbang ke Medan, akan aku temui ayahmu."
Winda membetulkan posisi duduknya. "Memangnya kamu tahu ayahku di mana?"
Kavi tersenyum tipis. "Tidak sulit mencari informasi temtangmu, Win."
"Kamu menguntitku, Kav?"
"Hemm!"
"Astaga."
"Jangan heran, bagaimana mungkin aku yang baru pulang dari Jerman langsung menyusul ke Bali?"
__ADS_1
'Oh ... selama ini dia di Jerman. Tapi untuk apa?' Winda bertanya-tanya dalam hati.
"Jadi kamu di Jerman, pantas ... aku tidak mendengar apapun tentangmu," ucap Winda lirih.
Kavi tersenyum miris. "Tapi aku selalu mencari tahu tentangmu ... dan itu, si duda ... ish. Berani dia, mana mungkin aku mengalah setelah sekian tahun aku menunggu!" desis Kavi kesal.
Winda langsung menatap Kavi. 'Apa dia tahu tengang pak Yudhistira? Dari mana? Pasti Kadek ember!' tebak Winda dalam hati.
"Kamu memata-mataiku, Kav?"
"Tidak! Aku hanya sedang menjaga apa yang seharusnya jadi milikku! Maaf ... mungkin aku sangat telat. Tapi aku sangat senang, karena kamu selalu kesepian. Kenapa tidak mencoba berkencan dengan banyak pria? Sudah pasti banyak yang antri. Apa kamu gak bisa move dariku?" tanya Kavi dengan percaya diri sekali.
Winda langsung bengong, penyakit narsis pria ini tidak pernah sembuh. Dasar pria PD sok abis. Tapi Winda menyukai pria ini, dan benar jika jauh dari Kavi ia merasa kosong. Apa itu kesepian? Tapi Winda jelas gengsi. Jelas ia tidak mau mengakui terang terangan. GENGSI dong.
"Aku hanya fokus berkarir. Jangan terlalu percaya diri. Mana mungkin aku punya waktu memikirkanmu. Bahkan kamu bukan siapa-siapa. Kenapa aku harus membuang waktu memikirkan pria tidak jelas sepertimu!" cetus Winda dengan wajah datar.
CHITTTT
Mobil mereka berhenti mendadak, Kavi menepi dan menginjak pedal rem.
"Ya ampun! Kenapa ngerem mendadak?" sentak Winda marah karena kaget. Mobil yang melaju kencang tiba-tiba berhenti seketika di tepi jalan.
"Pria tidak jelas? Ish ... Kenapa kamu jual mahal sekali?"
Winda panik karena Kavi melepaskan seatbelt.
"Mau apa kamu, Kav! Ini di jalan!" setelah bicara, Winda langsung menutup mulut dengan kedua tangan. Ia tahu, pria itu pasti akan menempelkan bibirnya karena ia salah ucap. Bersambung
Baca juga karya yang lain, semoga suka sambil nunggu up. Terima kasih bestie.
__ADS_1