Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
Belum Menyerah


__ADS_3

Kekasih Bayaran Bagian 82


Oleh Sept


Selama di ruang meeting Winda sepertinya banyak pikirkan. Sampai ia tidak fokus beberapa kali, hingga Kadek mengirim pesan singkat ke nomor Winda.


[Lo kenapa?]


Winda hanya membalas dengan emot senyum. Tapi Kadek yakin, temannya ini punya masalah.


[Datang telat, lo nggak seperti biasanya. Apa ada maalah sama suami lo?]


[Gak ada sangkut pautnya sama suami gue. Suami gue mah oke]


Winda mengirim balasan sambil melirik Kadek, tidak lupa ia melempar senyum tipisnya pada sahabatnya itu.


[Jangan bilang masalah bokap lo yang ga ada ahlak itu?]


[Kita bahas nanti, fokus rapat!]


Setelah membalas, wajah Winda berubah mengeras. Entah mengapa ia merasa tidak nyaman dan sangat terganggu sekali. Padahal dulu telpon dari ayahnya adalah sesuatu yang ia inginkan. Tapi setelah penolakan mereka, membuat Winda memendam rasa sakit dalam hatinya.


Tidak terasa meeting akhirnya selesai, saat semua pergi hanya menyisahkan Winda dan Kadek.


"Lo ada masalah apa?"


Winda menggeleng.


"Jangan sembunyikan sesuatu dari gue, katanya! Ada apa?"


"Bukan apa-apa, Dek. Hanya saja ada yang ganjel dalam kepala gue."


"Karena suami lo?"


"Kan udah gue bilang, suami gue baik banget. Ga ada kaitannya sama dia."


"Fix ... pasti bokap lo!" celetuk Kadek yakin.


Winda yang mendengar dugaan Kadek, hanya menghela napas panjang.


"Ya udah, gue duluan ya, Dek."


"Hemm. Inget, ada apa-apa bilang gue! Kalau butuh jasa ngelabrak orang. Panggil gue!" ujar Kadek lantang. Dan Winda hanya tersenyum miris.


"Trim's, Dek!"


Winda pun berlalu, dia keluar seorang diri. Dan saat sudah di lobby perusahaan, ia menghubungi balik nomor ayahnya.


"Hallo," sapa Winda di telpon.

__ADS_1


Meski sudah tersambung, tapi malah tidak ada suara. Ruhut terpaku, tidak bisa mengatakan apapun. Seketika lidahnya keluh.


"Hallo," panggil Winda lagi.


Karena tidak dijawab, Winda pun mematikan ponselnya.


'Harusnya aku gak usah telpon balik,' batin Winda kemudian memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku bajunya.


Wanita itu pun kembali fokus bekerja, kalau penting pasti ayahnya itu menghubungi, pikirnya.


***


Baru pukul 3 sore, ponsel Winda dipenuhi spam chat dari Kavi.


[Pulang jam berapa?]


[Aku bosan sendirian!]


[Sepertinya aku gak sanggup kalau 6 bulan! Bisa di discount, kan?]


[Sibuk ya?]


[Windaaa!]


[Aku OTW, sekarang!]


Winda tersenyum geli membaca chat beruntun dari suaminya itu. Ia tadi fokus kerja, HP masuk laci. Begitu diperiksa, eh banyak chat sari Kavi. Pukul 4 sore, mungkin macet karena jam 4 kemudian baru Kavi telpon sudah ada di lobby.


"Bentar ya, aku beresin meja dulu," ucap Winda di telephone.


KLEK


Saat Winda membereskan berkas di mejanya, Kadek datang.


"Mau pulang? Masih satu jam!" tanya Kadek yang melihat Winda sudah memakai tas Gussi miliknya.


"Kerjaan gue udah beres. Suami udah jemput. Waktunya kencan!" jawab Winda sengaja memanas-manasi Kadek.


"Menikah belum sebulan aja sombong, Kita lihat nanti ... satu tahun, lima tahun!" celetuk Kadek.


"Makin mesra donggg ...! Buruan lo nikah, gak nyesel deh!"


"Cihhh!" Kadek mendesis kesal, tapi dengan nada bercanda.


"Gue duluan ya!"


"Hemmm! Jangan lupa, cepet bikin ponakan buat gue!"


"Pasti!"

__ADS_1


"Gilaaa!"


Keduanya terkekeh.


"Udah ya, udah ditunggu honey bunny ...!"


"Prettt!"


KLEK


Winda langsung keluar dengan wajah sumringah. Baru kali ini ia pulang kerja begitu semangat, biasanya pasti lemes dan capek. Dan saat ia akan turun ke lantai bawah, kebetulan ada pak Yudhistira di dalam lift.


"Masuk saja!" titah Yudhistira ketika Winda enggan untuk masuk bersamanya.


"Permisi!" Winda pun masuk.


"Sekali lagi, selamat atas pernikahannya."


"Iya, terima kasih banyak, Pak."


"Apa kamu berencana resign? Aku lihat dia dari keluarga konglomerat, pengusaha sukses," celetuk pak Yudhistira.


Winda sampai heran, tumben bosnya itu sedikit kepo. Padahal duda itu selalu dingin.


"Oh, itu. Masih banyak proyek yang saya tangani, Pak. Saya mau bertanggung jawab sampai selesai."


"Bagus itu! Meski suamimu kaya, kamu harus tetap produktif. Sebab jika hal buruk terjadi, kamu masih bisa berdiri sendiri."


Winda hanya mengangguk pelan. Kenapa pak Yudhistira jadi sok peduli. Padahal duda itu terkenal laki-laki tercuek di perusahaan.


"Dan perusahaan masih butuh kamu!" sambung pak Yudhistira.


Winda hanya tersenyum tipis. Dan sesaat kemudian pintu terbuka. Winda mempersilahkan pak Yudhistira duluan.


"No, ladies first!" ucap duda berwajah dingin tersebut.


Winda pun keluar dengan canggung, dan tidak jauh dari sana ia sudah melihat Kavi yang duduk sambil memainkan ponsel. Saat Winda melangkah beberapa meter, tiba-tiba pak Yudhistira memanggil dirinya.


"Win!"


Merasa namanya dipanggil, Winda pun berbalik. Ia kemudian menatap bosnya itu.


"Iya, Pak."


"Jika ada masalah, hubungi saya. Saya sepenuhnya belum menyerah."


DEG


Bersambung

__ADS_1


No! Ini bukan cerita pembinor. Mundur Pak ... mundur. Masih banyak ikan di laut. Tapi rumput tetangga memang selalu lebih hijau. Janda memang menggoda, tapi istri orang lebih menantang. Aduh, jangan oleng!



__ADS_2