
Kekasih Bayaran Bagian 105
Oleh Sept
Seharian Kavi tidak keluar dari kamar, mereka seperti pengantin baru. Menghabiskan banyak waktu hanya di dalam kamar. Sampai Berbi kesal, menanti kesempatan tapi tak kunjung datang.
"Mereka ini seperti tidak kenal waktu! Mengapa terus-terusan di dalam kamar?" gerutu gadis itu dengan jengkel.
Sampai malam tiba, ia mendapat telpon dari Kumala.
"Iya, Ma." Berbie berbicara di telpon dengan sang mama.
"Masih di rumah anak sialannn itu?"
"Hemm ... ada apa, Ma? Bi bakalan pulang besok."
"Kirim uang ke rekening Mama sekarang, kamu pasti dapat uang kan dari dia?"
Berbi menahan kesal. "Itu uang kuliah, Ma!"
"Mama gak mau tahu! Mama butuh sekarang, di rumah sudah ada yang nagih hutang."
"Nagih apa lagi? Kan semua sudah dulunasin sama Winda?"
"Tahu apa kamu, Mama tunggu pokoknya!"
Tut Tut Tut
"Ma ... Mama." Berbi mendesis kesal kemudian menghentakkan kaki karena geram.
***
Pagi harinya, Berbi bangun telat karena semalam tidak bisa tidur. Saat ia bangun, rumah sangat sepi.
"Ke mana semua orang?" Berbie melihat seluruh ruangan, tidak ada orang.
Tidak lama kemudian, bik Inah datang membawa belanjaan.
__ADS_1
"Ke mana semua orang?" tanya Berbi dengan nada bossy.
"Tuan muda sudah ke kantor, non Winda sedang di depan di kebun bunga. Non Berbi mau Bibik buatkan sesuatu?"
"Gak usah!" jawabnya galak kemudian keluar rumah.
Ia harus minta uang lagi pada Winda, jika tidak maka mamanya akan marah-marah. Ia sampai muak, tapi bagaimana lagi. Sejak papanya meninggal, mereka seperti puing di tengah laut yang terombang ambing ombak tak jelas.
"Oh ... sudah bangun?" sapa Winda. Ia bersikap seolah tidak ada apa-apa, toh hari ini adiknya itu akan meninggalkan rumahnya.
"Ehem!" Berbie berdehem.
"Jam berapa balik?" tanya Winda mulai memancing.
'Siall! Dia mengusirku?' Berbi mengumpat kesal dalam hati.
"Hemm ... ada sesuatu yang ingin Berbi katakan."
"Katakan saja."
Winda tertegun sesaat, kemudian menatap gadis yang sudah berani merayu suaminya.
"Uang? Untuk apa? Bukankah uang kuliahmu sudah aku berikan?"
Berbi menundukkan wajahnya menahan kesal. Situasi seperti ini sangat menjengkelkan.
"Ada masalah keuangan di rumah."
"Ehem ...!" ganti Winda yang berdehem. Kemudian ia mencoba bicara lebih tegas, tega gak tega harus tega.
"Maaf, Bi ... mengenai kebutuhan tante atau apapun itu, itu sebenarnya bukan urusanku. Aku membantu biaya kuliahmu pun karena sebagai kemanusian saja, karena kita saling kenal. Bukan karena aku pelit, hanya saja ... masalah tante sepertinya tidak jadi tugasku. Setelah apa yang terjadi di masa lalu."
Wajah Berbi mengeras, "Kenapa? Apa Mbak masih dendam karena papa lebih milih mamaku?"
Ganti Winda yang menahan kesal. "Papa bukan memilih mamamu, tapi tante hadir di antara kami dan sudah merusak segalanya. Aku dulu seusiamu mencoba berdiri di kakiku sendiri. Aku bahkan tidak melakukan apapun yang bisa merugikan orang lain. Jadi tolong, sadar posisimu. Hanya karena aku lunak, bukan berarti kau juga mau menggoda suamiku!"
JLEB
__ADS_1
"Suami mbak? Maksudnya?"
"Aku tahu, sudah ... jangan mengatakan apapun. Berapa yang kau butuh? Katakan! Dan jangan pernah lagi menganggu kami!"
Sakit hati, tanpa mengatakan apapun, gadis itu langsung berbalik dan masuk ke dalam rumah.
"Sombong sekali, hanya karena menikahi pria kaya, dia merasa di atas angin!" ujar Berbi marah-marah sambil memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tas.
"Kita lihat saja, aku doakan perusahaan suamimu BANGKRUT!" rutuk Berbi marah-marah di dalam kamar.
***
Ruang tamu.
Winda sudah duduk dengan memegang amplop coklat. Ketika Berbie keluar kamar, ia langsung berdiri dan menghampiri gadis penggoda itu.
"Bawa ini, dan tolong jangan ganggu kami lagi."
"Aku nggak butuh uangmu!" cetus Berbi marah.
"Kamu yakin? Aku lihat tante sangat suka sekali dengan uang."
"Jaga bicaramu!" sentak Bernie kasar. Sekarang sifat aslinya langsung kelihatan.
"Bagus ... Aku suka dirimu yang asli, dari pada memakai topeng dan pura-pura baik tapi menikamm dari belakang!" sindir Winda.
Reflek karena sangat marah, Berbi mendorong tubuh Winda sangat keras.
BRUKKKK ....
BERSAMBUNG
IG Sept_September2020
Fb Sept September
__ADS_1