
Setelah kepulangan keluarga Rian di rumah nya. Malam itu Bella merasa lega akhirnya ia akan menikah dengan Rian bukan dengan Rasya si pria balok es itu. Bella menatap layar ponselnya dengan wallpaper Rian dan dirinya itu. Tiba-tiba terlintas di pikiran nya ingin mengobrol dengan Juan.
Bella pun menelpon Juan. Bella menceritakan semua nya pada Juan. Juan kaget mendengar cerita Bella dan ia tidak terima keputusan konyol sahabat nya itu.
📞"Bella aku ini sahabat dari kecil mu, aku peduli dengan mu. Aku tidak mau lihat kamu di kecewakan lagi Bella. Aku juga tau lelaki yang mana yang baik dan yang tidak baik buat mu. Pokoknya aku tidak menyetujui kalau kamu menikah dengan Rian, titik!" ucap Juan lantang.
📞"Lho emang kenapa apa kamu mau kalau aku menikah dengan pria nyebelin itu?" tanya Bella tidak mengerti pada Juan.
📞"Gak juga harus dengan dia sih Bella,"
📞"Terus sama siapa lagi Juan...? harus sama kamu?" Bella kesal.
📞"Hah, ada-ada saja kamu bukan! bukan dengan aku. Aku sudah menganggap mu adik bagaimana mana mungkin aku menikahi adik ku sendiri Bella, ada-ada saja. Aku yakin Dewa mencintai mu dengan tulus. Pirasat ku mengatakan kalau dia jodoh yang baik buat mu!" terang Juan.
📞"Dewa?" Bella kaget.
📞"Iya Dewa! dan bukan yang lain...!" Juan ngegas.
__ADS_1
📞"Itu tidak mungkin Juan! kamu lihat bagaimana perlakuan nya padaku? dia pergi tanpa pamit padaku, tidak sama sekali memikirkan perasaan ku Juan, Apa lelaki baik seperti itu?" Bella tiba-tiba sedih mata nya mulai berkaca-kaca ingat tentang Dewa.
📞"Kamu jangan ngaco Juan, jangan buat aku jadi ragu!" lirih Bella.
📞"Bella maaf aku, bukan nya aku mau menghasut mu tapi kamu pikirkan lagi dengan matang kamu tanya hati nurani mu, apa Rian memang yang terbaik. Ingat Bella kamu pernah di kecewakan Rian bagaimana rasanya? sakit kan? aku kuatir dia akan memperlakukan mu begitu lagi. Pliss Bella pikirkan dengan baik lagi, aku mohon...," pinta Juan dengan sangat.
📞"Keputusan itu sudah bulat Juan, Papa dan keluarga Rian juga sudah menentukan hari dan tanggal kalau kami akan menikah secepatnya," ucap Bella lemah.
Bella pun menyudahi pembicaraan nya sebab tidak mampu berkata-kata lagi. ia langsung mematikan ponsel nya tanpa pamit pada Juan. Jujur ucapan Juan menbuat nya ragu akan rencana pernikahan nya itu. Bella menutupi wajah nya dengan kedua telapak tangan nya ia mengerang dan berteriak kencang memikirkan semua ucapan Juan. Bella tidak tau harus berbuat apa karena Dewa pun tanpa kabar berita pergi entah kemana selama itu ia tidak menghubungi Bella lagi.
"Bagaimana bisa aku menikah dengan orang yang tidak jelas keberadaannya bagaimana dia dengan cewek lain? apa aku harus mengharap kan nya?
Bella jadi teringat Dewa saat-saat bersama Dewa ia mencoba memerangi pikirannya sendiri namun tetap tidak bisa ia melihat bayangan Dewa seolah ada di depannya. Untuk mengobati rasa rindunya pada Dewa, Bella memeluk boneka pemberian Dewa yang di beri nama Dewa itu.
"Dewa? kamu dimana saat ini aku membutuhkan mu Dewa... kenapa kamu tiba-tiba menghilang? kamu tau aku akan segera menikah Dewa. Katakan sekali pada ku kalau kamu tidak mencintai ku agar aku bisa tenang Dewa pliss, katakan saat ini Dewa! Aku butuh penjelasan dari mu." Bella menatap boneka itu seolah itu Dewa.
Tidak terasa air mata Bella sudah bercucuran di atas wajah boneka Bear yang lucu itu. Bella menangis dengan kesal nya hingga larut malam entah kapan ia terlelap tanpa disadarinya dalam keadaan masih memeluk boneka kesayangan nya itu.
__ADS_1
Di tempat lain.
"Bella...!" ucap Dewa yang saat itu juga dalam keadaan tidur tiba-tiba tersentak dari tidur nya ternyata ia bermimpi Bella memanggil nama nya.
"Ada apa dengan Bella kenapa ia menangis sambil memanggil namaku... aku harus menemui Bella. Yah aku kuatir keadaan nya sekarang!" ujar nya sambil beranjak dari tempat tidurnya.
"Kenapa aku begitu bodoh mengganti Ponsel ku saat itu! Ini semua karna ulah Laura. Aku lupa mengambil kartu nya sekarang ponsel ku entah dimana aku tidak ingat lagi." Dewa memandang ponsel mahal pemberian Laura itu ia berteriak karena emosi tidak ada nomor Bella di kontak nya. Ia melempar ponsel pemberian Laura itu hancur berantakan di lantai.
"Aku harus pulang malam ini juga!" ucap nya dengan sendiri nya.
Dewa bergegas pergi meninggalkan apartemen itu. Tapi dari jauh Laura memergokinya tengah menyetop taksi. Laura pun menyusul mobil yang ditumpangi Dewa.
"Brengsek! untung saja aku keluar kalau tidak mungkin dia sudah lolos. Mau kemana dia? apa dia sudah berani kabur dari pekerjaan nya!" aku tidak akan membiarkan mu Dewa..." ujar Laura terseyum sinis.
Di saat lampu merah ia memperhatikan taksi yang di tumpangi Dewa dengan saksama agar ia tidak kehilangan jejak. Laura sempat menghubungi anak buahnya untuk mengikuti mobil tersebut karena takut Dewa melarikan diri.
"Enak saja dia sudah di bayar mahal mau kabur dari tanggung jawab. Pantas saja hp nya dari tadi susah di hubungi ternyata begini kelakuan nya?" cetus Laura bicara sendiri nya.
__ADS_1
Lampu merah sudah berganti warna hijau saatnya pengemudi mulai jalan begitu juga taksi yang di tumpangi Dewa. Saat itu Laura langsung melaju memotong jalan taksi Dewa sepertinya ia mau menikung taksi itu di saat jalan sudah sepi.