
Kekasih Bayaran Bagian 78
Oleh Sept
Bukan area bermain, belum menikah mohon skip.
Sepasang kaki menyembul dari balik selimut, sepasang lagi masih meringkuk dalam dekapan pria yang sedang terbaring tersebut. Winda dan Kavi sudah terlelap setelah apa yang sudah terjadi. Keduanya kelelahan karena cukup lama bermain kuda-kudaan.
Beberapa jam kemudian, ketika menjelang pagi. Winda mengerjap, ia terbangun karena merasa sesak. Terbiasa tidur sendiri di ranjang besar dan empuk serta luas, cukup membuatnya terkejut saat membuka mata lengan seorang pria melingkar di perutnya.
Baru sadar ia sudah menikah, bibirnya kemudian mengulas senyum. Ia lupa kalau sudah menikah. Hampir saja mendorong sosok yang memeluknya itu. Apalagi posisinya yang membelakangi Kavi, membuat Winda tadi kurang menyadari sedang tidur satu ranjang dengan siapa.
Pelan-pelan ia menyingkirkan lengan yang dipenuhi bulu-bulu lembut tersebut, tidak ingin Kavi bangun saat ia ingin ke kamar mandi sebentar. Tapi saat ia mencoba melepaskan lengan itu, Kavi malah memeluknya erat.
"Sudah bangun?" tanya Winda kaget.
"Hemmm. Mau ke mana? Sini tidur," jawab Kavi dengan suara serak dan matanya pun terbuka.
"Mau ke kamar mandi."
"Hemm ... jangan lama-lama," bisik Kavi kemudian melepaskan jeratan tangannya itu.
Winda pun turun dari ranjang, ia yang hanya memakai kaos oblong milik Kavi, langsung ke kamar mandi saat pria itu melepasnya.
Sesaat kemudian, Winda kembali. Ia menatap kamar mereka yang seperti kapal pecah. Winda pun meraih pakaian yang berserakan di lantai kamar Kavi tersebut. Kamar bersejarah yang menjadi saksi bisu kekuatan monopterus.
Ia membungkuk memungut pakaian demi pakaian. Ketika meraih Beha dan Cidi, ia pun sedikit malu. Tanpa komentar, Winda memasukkan semuanya ke keranjang pakaian Kotor. Sedangkan Kavi, pria itu sejak tadi memperhatikan Winda. Terutama mengamati cara jalan Winda yang tidak biasa.
Ketika Winda kembali mendekati, wanita itu malah meminta Kavi turun dari ranjang.
"Turun bentar, ya."
"Mau coba tempat lain?" tanya Kavi tiba-tiba bersemangat. Ia pikir Winda mengajak bertanding di tempat selain ranjang.
Mendengar pertanyaan dari suaminya itu, alis Winda langsung mengerut, ia mengeryitkan dahi.
"Aku mau ganti seprai."
Kavi pun langsung tersenyum kecut.
"Oh."
Dengan malu ia turun dan membantu Winda melepaskan kain sprai warna putih dengan motif bunga-bunga kecil tersebut.
"Kenapa diganti? Besok kan bisa," protes Kavi ikut membawakan seprai baru yang dia ambil dari lemari.
"Jangan ... udah kotor," ucap Winda yang memang penyuka kebersihan. Melihat bercak darah di seprai mereka, ia kurang nyaman.
"Gak apa-apa, itu darah bersejarah!" bisik Kavi kemudian memeluk Winda dari belakang, padahal saat itu Winda sedang memasang kain seprai.
"Kav ... aku ganti ini dulu."
"Iya, ganti aja gak apa-apa."
"Tangan kamu jangan macam-macam! Mana bisa aku konsentrasi!" protes Winda karena Kavi tidak hanya memeluk tapi melakukan hal yang aneh-aneh.
Seperti tidak punya dosa, pria itu menjawab dengan santai.
"Habis bagaimana? Pengen lagi!" bisik Kavi sembari mengeser Winda.
"Aku beresin ini dulu, Kav."
"Tinggal aja, ayo ke sofa!"
__ADS_1
SETTTT ...
Pegangan Winda langsung terlepas dari seprai yang belum terpasang sempurna. Kavi mendadak membopong tubuhnya, dan langsung memangkunya di atas sofa kamar.
'Astaga pria ini!' gumam Winda ketika menduduki sesuatu yang cukup mengganjal.
"Tuh ... kode alam!" bisik Kavi kemudian langsung merampas bibir manis Winda. Kavi yang baru bangun tidur seperti macan lapar, ia seakan ingin melahap Winda tanpa sisa.
"Kenapa baru bangun udah kenceng?" tanya Winda iseng, meski wajahnya sudah panas karena ulah Kavi yang seperti bayi.
"Ya emang begini kalau menjelang pagi," jawab Kavi ala kadarnya karena sedang fokus pada mainan barunya.
"Selalu begini?"
"Hemm ... nanti kamu juga bisa lihat sendiri."
Winda hanya menelan ludah, sesekali merasa ngilu karena kelakuan jahil pemilik monopterus tersebut.
"Aku masukin lagi ya ... mau sambil duduk begini apa rebahan?"
"Yang gak sakit," pilih Winda.
"Pertama pasti sakit semua, tapi lama-lama enak. Kaya semalam." Kavi mengerlingkan mata, sebab ia masih ingat bagaimana ekspresi Winda semalam.
Winda malu, tatapan Kavi meresahkan. Sepertinya ia harus pasrah pada nahkoda kapal pesiarnya tersebut. Mau dibawa ke mana gelombang Asmara yang kini sedang bergejolak.
***
Puas bermain di sofa, keduanya kini sudah pindah ruangan.
Kamar mandi.
Di balik guyuran air shower, mereka pun hujan-hujan. Bukan mandi biasa, karena ternyata adegan tadi mereka lanjutkan kembali. Kavi yang harusnya masih amatir, ternyata langsung mahir. Bermodal naluri sebagai seorang pria, ia membuat Winda tidak berdaya.
Ia bahkan menjadi sangat terbakar meskipun tubuh keduanya basah karena air shower. Melihat pemandangan yang luar biasa itu, apalagi ditambah air yang mengaliri tubuh mereka, membuat Winda seperti buah segar yang harus dipetik.
Suara lirih Winda membuat Kavi tambah bersemangat memacu gerakan, ia baru berhenti saat wajahnya menjadi sangat tegang kemudian mencengkram Winda dan perlahan melemas.
Mandi keringat di bawah guyuran air, begitulah ronde ketiga mereka berakhir. Kavi yang tadi perkasa dan dengan PD menunjukkan monopterus, kini terlihat kelelahan, bahkan monopterus pun sudah seperti agar-agar jeli, lembek.
Sedangkan Winda, sambil mengatur napas, ia pun melanjutkan mandi. Karena sepertinya hampir pagi.
"Aku bantu pakai sabun," tawar Kavi.
Winda langsung menolak, ia menggeleng keras. Yang ada Kavi nanti malah bermain-main.
"Nggak, udah dingin nih!"
Pria itu pun mengalah, lagian kasian Winda. Sepertinya istrinya itu juga lelah karena harus melayani dirinya semalam 3 x. Tapi entah mengapa, ia kok pingin nambah lagi dan lagi.
***
Keduanya sudah wangi, Kavi bahkan membantu Winda mengeringkan rambut. Sambil sesekali mencuri kesempatan.
"Sudah pagi, KAVIII!" protes Winda pada tangan nakall pria itu.
"Pegang doang."
Jawabannya membuat Winda langsung melotot, terlihat jelas pada pantulan cermin. Dan Kavi hanya terkekeh.
***
Di lantai bawah, ruang makan.
__ADS_1
"Kavi belum keluar, Ma?" tanya Gadhi yang sudah duduk untuk sarapan.
"Biar nanti dibawa ke atas sarapannya sama bibi!" jawab Hanum santai. Kemudian mengambilkan makan untuk suaminya.
"Kavi belum keluar dari sore, loh." Gadhi jadi kepo.
"Papa kaya nggak ngerti saja!" celetuk Hanum kemudian memutuskan sarapan duluan.
"Apa Kavi dan Winda nggak makan?"
"Kalau lapar juga ambil makan, Pa. Lagian di kamar juga ada kulkas. Mama dah isi penuh!"
Gadhi hanya mengangguk.
"Udah, Papa sarapan. Habis itu minum vitamin."
"Iya, Ma."
***
Di lantai atas, Winda berkaca terlebih dahulu sebelum turun. Rambutnya tergerai sempurna karena masih sedikit lembab.
Sedangkan Kavi, ia sudah terlihat sangat tampan dengan baju kasual. Kaos pendek dan celana pendek di bawah lutut. Gayanya santai, tapi sangat keren.
"Ayo ... sudah laper, nih."
Kavi menarik lengan Winda lembut.
"Pelan-pelan! Sakit, Kav."
Kavi langsung berhenti, kemudian menatap Winda.
"Mana yang sakit?"
Manik mata yang indah itu seketika seperti sorot mata Suzana yang sedang marah. Sadar itu hasil perbuatannya sepanjang malam, Kavi malah langsung saja menempelkan bibirnya singkat.
"Maaf, ya ... nanti malam lagi." Kavi mengerlingkan mata usil.
Winda hanya bisa mengusap wajahnya dengan pasrah. Bukannya merasa bersalah membuatnya terluka, Kavi malah mengatakan kode, nanti malam dilanjutkan lagi.
Karena sudah lapar, mereka pun turun ke bawah.
Tap tap tap
"Nah itu mereka sudah turun," gumam Hanum meskipun tidak melihat ke arah tangga. Tapi ia merasakan derap langkah yang mendekat.
"Ayo sarapan!" ajak Hanum.
Kavi berjalan cepat, sedangkan Winda masih berjalan di belakangnya. Kavi yang lupa, ia langsung berbalik dan menarikan kursi untuk istrinya itu.
"Makan yang banyak, Kav." Hanum kemudian meletakkan nasi dan lauk yang banyak di atas piring putranya.
Dan saat akan meletakkan nasi ke piring Winda, Winda menolak.
"Biar saya aja, Ma."
"Udah, kamu duduk saja. Pasti capek, dari sore sampai pagi Kavi menguncimu di kamar!" celetuk Hanum, kemudian tersenyum ke arah Kavi.
Wajah Winda langsung merona, malu.
Bersambung
IG Sept_September2020
__ADS_1
Fb Sept September