
Kekasih Bayaran Bagian 60
Oleh Sept
"Sial! Sepertinya gue datang di waktu yang salah! Ish ... kalau mau begini kenapa alasan askit? Kan gue jadi khawatir dan percuma beli buryam (Bubur Ayam)!" gumam Kadek lirih agar tidak didengar oleh dua sejoli yang sedang bertumpukan tersebut.
Kalau dilihat dari sudutnya berdiri, memang Kavi seperti menindih Winda. Padahal masih ada jarak, karena Winda menjadikan tangannya sebagai penyangga agar Kavi tidak menempel padanya.
Sementara itu, Winda dan Kavi jelas sangat malu. Keduanya melepaskan diri dan duduk seolah tidak ada apa-apa. Winda lalu bangkit dan menghampiri Kadek yang masih berdiri tertegun karena kaget.
"Sudah pulang? Kan gue bilang gak usah susul!" bisik Winda campur malu.
"Gue pikir lo sakit!" jawab Kadek polos.
"Ehem!" Kavi berdehem karena merasa diacuhkan.
"Siapa itu, Win? Pacar baru?" tanya Kadek super kepo. Pantes perhatian pak Yudhistira selama ini tidak merasuk sama sekali, lah temannya itu punya gebetan super markece.
Meskipun pak Yudhistira seorang CEO, rasanya pria yang sekarang ada di depannya itu jauh lebih oke. Lihat, wajahnya tampan sekali. Tubuhnya juga oke, tatapan matanya tajam banget. Astaga, Kadek sepertinya langsung jatuh hati. Kalau engak inget itu cowok Winda, pasti Kadek ingin daftar jadi pacar, selingkuhan juga boleh.
"Dek!" sentak Winda yang melihat Kadek yang menatap terpesona pada Kavi.
"Pacar kamu ganteng banget!" bisik Kadek kemudian melempar senyum paling manis pada Kavi.
Kavi yang mendengar suara lirih Kadek, langsung balas melempar senyum. Hidungnya kembang kempis dikatakan pacar Winda.
"Bukan!" jawab Winda ketus. Dan seketika senyum di wajah Kavi langsung hilang.
Kadek pun sama, apa Winda pikir ia anak kecil? Anak TK pun pasti tahu kalau keduanya memiliki hubungan khusus setelah apa yang terjadi barusan. Bukan pacar atau apa kok main tium-tium. Ish, Kadek jadi jengkel. Winda itu jaim banget. Ia pikir Winda itu lugu, tidak berkencan dengan siapa pun, tidak tahunya malah suhu. Wow, malah ketahuan di dalam apartment. Tanpa sadar ia tersenyum kecut.
"Ya udah, maaf menganggu ... hari ini gue pulang ke rumah. Lama nggak nengok rumah." Kadek mau kabur. Apalagi pria keren itu seperti masih mau di sana.
'Bagus! Pengertian juga temenmu, Win!' gumam Kavi senang.
Sedangkan Winda, ia langsung melingkarkan lengannya pada lengan Kadek. Panik ditinggal berdua saja sama Kavi. Bisa-bisa ia akan habis di tangan pria tersebut.
"Kavi mau pulang, udah Lo di sini aja!" cegah Winda yang tidak mau ditinggal berdua saja.
"Oh ... namanya Kavi. Salam kenal Mas." Belum diperkenkan secara langsung, Kadek langsung memperkenalkan dirinya sendiri.
"Saya Kadek, temannya Winda!"
"Kavi, teman dekat Winda!" Dengan PD Kavi memperkenalkan dirinya sebagai teman dekat, seolah mengatakan dia adalah pacar dari Winda.
Spontan Kadek tersenyum. "Punya gebetan kaya gini disembunyiin!" bisik Kadek meledek. Membuat Winda bengong. Kavi dan Kadek berhasil membuatnya geleng-geleng kepala.
"Kebetulan gue bawa makanan, kalian sudah makan?" untuk mengusir rasa canggung di antara mereka semua, Kadek menawarkan makanan yang memang ia sengaja bawakan untuk Winda tadi.
"Sudah!" jawab Winda. Winda langsung menggeleng, bisa-bisa Kavi tidak pulang-pulang. Ia memberikan kode pada Kadek, tapi sepertinya Kadek malah sengaja memancing ikan di air yang keruh
"Belum!" pungkas Kavi. Ia mengatakan sesuatu yang berlawan. Kebetulan, ia juga memang belum mau pulang sekarang.
Kadek menatap keduanya bergantian. Kemudian masuk ke dapur bersih. "Oke, gue siapin makan buat kalian!"
Sambil berjalan ke dapur, Kadek merutuk dalam hati.
'Apa mereka sedang perang dingin? Ya ampun!'
__ADS_1
Di ruang tamu, Kavi duduk santai menunggu diberikan makan. Sedangkan Winda, ia berusaha mengusir Kavi.
"Pulanglah!" titahnya pelan.
"Jangan mengusirku lagi, jika tidak mau menerima akibatnya!" ancam Kavi. Hal itu sukses membuat Winda bergidik.
"Setelah makan, pulanglah!" pinta Winda kemudian ketika Kadek datang dengan nampan yang penuh makanan.
"Silahkan," ucap Kadek sambil melempar senyum ke arah Kavi.
'Gila! Kalau dari deket tambah ganteng!' batin Kadek yang masih saja terkesima.
"Terima kasih!" Begitu juga Kavi, ia juga balas tersenyum ramah. Dan hal itu membuat Winda kesal. Mengapa dua orang itu malah lomba senyum pepsodent.
Beberapa saat kemudian
Meja sudah rapi, dan Kadek ke kamarnya karena ingin memeriksa laporan. Ia meninggalkan Kavi dan Winda di ruang tamu.
"Sudah! Cepet pulang!" usir Winda lagi.
Kavi malah menguap, ia menutup mulut dengan punggung tangannya kemudian langsung mendekati Winda. Tanpa malu, tanpa permisi ia langsung berbaring di pangkuan Winda yang duduk di sofa.
"KAV!"
"Aku ngantuk, sangat bahaya kalau nyetir pas ngantuk!" ucap Kavi sambil menutup mata dan melipat tangan di atas da da.
"Kavi! Bangun!"
"Jangan berisik! Sebentar saja ... apa kamu nggak kangen aku?" Masih bicara dengan mata terpejam.
'Siapa kamu? Kenapa aku harus kangen? Ish!' Winda merutuk, tapi matanya menatap wajah Kavi yang berbaring dalam pangkuannya. Ada sesuatu, sesuatu yang tidak ia ketahui. Bahkan belum ia sadari. Hati Winda mulai dilandan dilema.
Winda tertegun, ingin menarik tangannya kembali. Tapi Kavi malah memeluk tangan itu semakin erat.
"Kau tidak tidur kan? Pulanglah."
Perlahan mata Kavi terbuka, dan keduanya saling bertemu pandangan. Winda menatap ke bawah, sedangkan Kavi yang berbaring, menatap tepat ke atas.
"Sekali lagi kau mengusirku, aku akan meminta bunga dan pokoknya sekarang. Kau tahu kan, Win ... bukan uang yang aku maksud."
GLEK
Winda menelan ludah dengan kasar. Untuk menyamarkan rasa geroginya, ia membuang muka. Sedangkan Kavi, melihat Winda yang langsung diam, pria itu pun menutup mata kembali. Sepertinya Kavi kurang tidur akhir-akhir ini, karena sesaat kemudian pria tersebut malah ketiduran beneran.
***
Malam hari.
Kavi mengerjap, ia baru bangun. Begitu sadar sudah ketiduran, ia langsung menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Jam 8 malam? Aku ketiduran?" gumamnya.
Ia langsung bangun dan mencari Winda. Sebab bangun tidur malah ia pakai bantal empuk, bukan bantal Winda seperti sebelumnya.
"Win! Winda!"
Tok tok tok
__ADS_1
Kavi mengetuk salah satu kamar, ia sih yakin pasti kamar Winda.
KLEK
Benar saja, Winda muncul dengan baju piyama.
"Sudah bangun? Ya sudah ... tidak ada alasan lain untuk kamu tinggal. Masih tahu kan jalan pulang?" sindir Winda halus. Kavi disindir seperti itu mana peduli, ia malah langsung masuk, penasaran juga dengan kamar Winda.
"Eh!"
Winda jelas panik, ia tidak pernah membawa pria ke kamarnya. Tidak sekalipun.
"KAVIII, keluar!"
Kavi langsung ke kamar mandi di dalam kamar itu. Menutup pintu keras membuat Winda kaget.
"Astaga. Pria ini!"
Sesaat kemudian, Kavi muncul dengan wajah basah. Sepertinya habis cuci muka.
"Kamar mandinya bersih!" puji Kavi kemudian duduk di tepi ranjang.
"Kavi! Jangan bikin kesabaranku habis! Cepat kamu keluar ...!" Winda makin ketar-ketir melihat aksi berani Kavi yang seenaknya sendiri.
Bukkkkk
Kavi malah melempar punggungnya di atas kasur empuk dengan seprai motif bunga-bunga tersebut.
"Malam ini aku mau menginap di sini!"
Ngekkk ...
Winda dibuat speechless kembali oleh satu mahluk bernama Kavi Arkana Mahindra tersebut.
"Oke! Silahkan kamu tidur di sini. Kita tunggu, sebentar lagi security akan menyeret kamu!" ketus Winda. Ia kemudian meraih ponsel. Mau menelpon pihak keamanan.
"Hallo ... Pak?"
Setttt
Ponsel itu langsung direbut paksa oleh Kavi.
"Kembalikan!"
Kavi memegang ponsel itu tinggi-tinggi agar Winda tidak bisa mengapainya.
"KAVIII balikin ponselnya!" Winda terus meraih smartphone miliknya, sambil berjinjit hingga ia oleng karena hilang keseimbangan. Reflek, Kavi merengkuh pinggang yang bak biola Spanyol itu.
Melihat Winda dengan jarak yang sangat dekat, membuat jakun pria itu naik turun. Kavi tetaplah seorang pria. Berduaan lama-lama dengan gadis nyatanya memiliki efek yang sangat bahaya.
Bukkkkk ...
Dua insan itu malah sama-sama oleng, keduanya mendarat di atas ranjang yang hangat. Bersambung
IG Sept_September2020
Fb Sept September
__ADS_1