Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
Sikap dingin Dewa


__ADS_3

Dewa datang dengan membawa sekantong belanjaan untuk mama dan adik nya Lia. Di saat Dewa mengucap salam Bella langsung menjawab salam nya Dewa pun kaget mendengar ada suara Bella di dalam rumah nya. Secepatnya ia pergi ke dalam ternyata benar ada Bella di sana.


Bella kenapa ada di sini? batin Dewa heran.


"Hay...," ucap Bella menyapa.


Dewa diam saja tidak merespon Bella sama sekali.


Melirik pun tidak ia langsung melewati Bella dengan cuek nya.


"Dewa di sapa sama Bella tu, kenapa gak di jawab," ucap mama Dewa .


"Hem... iya dewa lagi capek Ma, ke kamar dulu," sahut Dewa datar.


Bella jadi bingung kenapa sikap Dewa jadi dingin padanya. Padahal Bella ada sebuah hadiah buat Dewa tapi Dewa tidak menghiraukan nya sama sekali. Dewa pergi ke kamar dan menguncinya secara kasar.


Semua yang ada di situ jadi kaget, melihat sikap Dewa yang tiba-tiba aneh gitu.


"Ada apa dengan Bang Dewa Ma?" tanya Lia yang tidak biasa melihat abang nya bersikap tidak sopan seperti itu.


"Mama juga gak tau Lia, mungkin dia lagi ada masalah," jawab mama nya.


Bella jadi tidak enak melihat sikap Dewa yang dingin padanya saat itu ia berniat akan pulang


"Bella maaf yah, sikap Dewa nya. Mungkin Dewa nya lagi ada masalah,"


"Iya gak apa-apa Tante...!" sahut Bella.


"Maaf Tante, Bella mau pamit pulang ya sudah hampir malam juga. Takut Papa nyariin." pinta nya.


"Oh iya, sekali lagi makasih ya atas hadiah nya dan makanan nya hari ini,"


"Iya Tante, Bella pamit pulang," ucap nya.


"Hati-hati di jalan nya," Lia ikut bersalaman dengan Bella dan juga mengucapkan terimakasih.


Bella beranjak dari tempat itu ia segra pergi ke mobil nya. Di dalam mobil hati nya penuh dengan pertanyaan karena heran kenapa Dewa bersikap cuek pada nya.


Di perempatan jalan Bella dicegat oleh Dita.


"Heh, cewek sok cantik apa kabar mu hari ini? baik atau buruk...? tapi aku berharap hari-hari mu baik-baik saja," ucap nya meledek.

__ADS_1


"Hem... ada apa lagi Dita? aku buru-buru," cetus Bella.


"Buru-buru mau kemana sih, emang nya kamu dari mana?" tanya nya.


"Bukan urusan mu! sok akrab banget pake nanyak-nayak segala," cetus Bella bermuka judes.


"Hahaha...," Dita menertawai Bella.


"Ada maksud apa sebenarnya kamu mencegat ku. Aku mau pulang cepat minggir atau aku akan menabrak mu sekalian," cetus Bella memanas.


"Auw takut...," Dita terseyum penuh dengan kemenangan melihat reaksi Bella yang memanas. Dewa telah berhasil di hasut Dita ia sudah mulai mau merespon nya.


"Satu hal aku peringatkan mu jangan pernah dekati Dewa lagi!. Karna Dewa adalah milik ku," teriak Dita menggertak Bella.


Bella pun beranjak dari tempat itu dengan kesal nya.


"Aku yakin pasti ini ada apa-apa nya," ucap Bella dalam hati.


Bella menggas mobil nya secepat mungkin agar cepat sampai rumah.


"Setiap hari ada-ada saja masalah ya Allah aku harus ngapain? kenapa orang banyak yang membenci ku?" keluh nya. Bella mulai memikirkan sikap nya selama ini. "Perasaan aku gak pernah buat kesalahan pada Dewa Dan Dita, tapi kenapa mereka membenciku. Dewa lagi ikut-ikutan cuek padahal kan kemarin baru saja jalan sama dia."


Bella jadi serba salah. Ia menelpon Dewa untuk menanyakan apa kesalahannya tapi ia tidak dapat menghubungi Dewa lagi seperti nya nomor Bella diblokir oleh Dewa.


Bella sudah sampai di rumah nya. Papa Alek berkacak pinggang melihat kedatangan Bella karna sudah telat pulang. "Dari mana kamu Bella?" tanya nya.


"Dari rumah teman Pa...!" jawab Bella datar.


"Keluyuran terus kamu. Malam ini Pak Jerikho dan keluarga nya akan datang ke sini."


"Mau ngapain?" tanya Bella.


"Cuma mau makan malam bersama saja, Papa sudah mengundang nya."


"Hem...," Bella memasang muka malas nya.


"Bella jaga sikap mu, di saat mereka datang nanti jangan buat yang tidak-tidak. Bersihkan diri mu dandan yang cantik. Okey...!" pinta papa Alek.


"Iya Pa...," sahut Bella pasrah.


Bella yang saat itu malas mau berdebat akhirnya pasrah dengan ucapan papa Alek ia mengiyakan nya saja. Padahal dalam hati nya ia merasa dongkol. Jika ada Juan saat itu pastilah rambut nya sudah tercabut semua, tapi beruntung sahabat yang selalu jadi pelampiasan kemarahan nya itu tidak ada di situ.

__ADS_1


Bella masuk ke dalam kamar nya ia menangis sepuas hati nya meratapi nasib buruk nya hari itu.


"Kapan aku akan bahagia? belum selesai masalah satu satu masalah datang lagi," keluhnya sambil menagis.


Papa Alek mengetuk pintu kamar Bella. "Bella... Bella," teriak nya.


"Iy-iya, ada apa Pa?" Bella menghentikan tangisnya.


"Papa tadi lupa bilang, hari ini kamu bantu bibik di dapur ya... karena kita mau mengadakan makan malam bersama Pak Jerikho dan keluarganya. Kita harus menyiapkan beberapa menu," ucap Papanya.


"Hem..." Bella menarik napas kasar ia pun membuka pintu setelah membasuh muka nya.


"Kenapa tidak pesan ketring saja sih Pa? kan kita gak perlu repot-repot lagi." ucap Bella mengajari.


"Itu pemborosan Bella, kamu sebagai perempuan jangan manja, suatu saat kamu akan jadi istri Bella, sudah seharusnya kamu belajar masak agar suami mu kelak enak bisa makan ke ruma. Tidak jajan di luar," Papa menggurui.


"Hem... emang aku pikirin... Aku nikah emang mau jadi tukang masak," gerutu nya dalam hati.


"Ingat jangan lupa bantu bibik," pesan Papa Alek ia pun beranjak dari kamar Bella karna tidak mau banyak bicara lagi. Jika di teruskan bicara nya besok juga gak akan kelar kalau sudah berhadapan dengan Bella.


Bella gregetan melihat sikap papa nya yang selalu membuat nya tertekan. Bella terduduk di tepi kasur nya dengan bertopang dagu. Ia merasa kesal kenapa papa selalu membuat ku tertekan.


"Aku gak mau di jodohin Papa... apalagi dengan orang yang sombong itu," cetus nya sendirian.


Bella teringat akan membantu bibik di dapur ia pun segera membersihkan diri nya. Hari telah menjelang malam pukul 8 nanti keluarga Pak Jerikho akan datang untuk makan malam bersama di rumahnya. Bella menjadi serba salah ia pun pergi ke dapur untuk membantu bibik.


"Non...," tegur bibik.


"Yah, bibik mau masak apa hari ini?" tanya nya.


"Bibik sudah selesai masak kok Non," sahut bibik.


"Hah, kenapa gak tunggu bella Bik! tadi Papa bilang bella disuruh bantu bibik. Duh gimana nih pasti Papa marahin aku," ucap Bella panik.


"Sudahlah Non, gak perlu kuatir gitu, bibik gak bilang ke Papa nya kok kalau Non tidak bantu."


"Beneran Bik," ujar Bella ragu.


"Iya benaran..., " jawab Bibik.


"Makasih bibik yang baik...," puji Bella sambil tersenyum.

__ADS_1


Sukur deh bibik sudah selesai, jadi aku gak susah-susah mengotori tangan ku ini, batin Bella merasa lega. Bella pun beranjak ingin kembali ke kamar nya.


__ADS_2