Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
16


__ADS_3

Kamu!" desis Andre garang.


Yo, Andre! Gak berubah ya, lu," ujar Alex penuh penekanan.


Andre bangkit dari duduknya, tangannya mengepal membuat buku jarinya tampak memutih.


Naina menatap resah sepasang mata elang yang tampak berkobar itu. Andre maju selangkah, tak ingin terlihat lemah.


"Mau apa kamu ke sini!" hardik Andre menggertakkan gigi.


"Mau balikin barang lu yang ketinggalan," ucap Alex memanasi.


"Apa maksudmu," ujar Andre gusar.


"Ini maksud gua!"


Tanpa ba-bi-bu lagi, sebuah bogem mentah melayang, mengenai bibir Andre. Membuatnya terhuyung ke belakang, meringis menahan sakit.


Andre bersiap maju untuk melawan, tapi sayang, tiba-tiba Naina menghadang di tengah.


"Jangan, Ndre. Please, udah ...," isak Naina mencengkram baju Andre.


Andre merengkuh gadisnya dalam pelukan, menatap nyalang pada Alex. Berusaha keras menekan amarahnya yang meluap.


Alex tersenyum menyeringai, sebuah kode mata ia lemparkan. Kemudian berlalu, menyisakan banyak pasang mata menatap heran.


Andre tak mengerti, bisa-bisanya bertemu musuh di sini. Niat awal merangkai liburan yang indah, kini menjadi ambyar sudah.


Sarapan tak lagi selera, beberapa lembar biru ia letakkan di atas meja. Melenggang pergi bersama Naina, menyusuri tepi pantai Parangtritis yang tampak memesona.


Sinar pagi menerpa kulit keduannya, bergandengan tangan dalam diam yang masih menyelimuti dada.


Naina tak habis pikir, bagaimana semua ini begitu kebetulan? Pertemuannya dengan Alex terasa sangat janggal.


Andre bergulat dengan pikirannya, banyak hal yang mengganggu dan mempersulit situasinya.


'Kenapa Alex bisa ada di sini? Bagaimana dia tahu? Kebetulan? Omong kosong. Tidak ada kebetulan di dunia ini,' batin Andre kelabu.


Di tengah kegalauan keduanya, sebuah kereta kuda berjalan hendak melewati mereka. Andre melambaikan tangan ingin mencoba.


Naik kereta kuda di pesisir pantai, angin yang sejuk dan juga pemandangan yang indah, menjadi pelengkap suasana.


Debur ombak bahkan terdengar seperti melodi yang merdu di telinga, sedikit mencairkan suasana.


"Nai, jangan terlalu dipikirin ya," pinta Andre menenangkan gadisnya.


"Iya, tapi gak habis pikir aja kok bisa ketemu di sini? Apa dia ngikutin kita?" tanya Naina, lebih seperti bertanya pada diri sendiri.


"Hmm, mungkin," gumam Andre.


"Bibir kamu masih sakit?" tanya Naina cemas.

__ADS_1


"Sudah gak apa-apa kok, santai aja."


"Maaf ya, Ndre. Gara-gara a-...."


"Ssst! Udah, ini bukan salah kamu. Okay?"


Naina mengangguk. Kereta kuda terus melaju, membawa mereka menuju tebing karang. Sesampainya di sana, keduanya duduk di pasir pantai. Menatap jauh ke arah laut yang terus menggeburkan ombak.


"Nai, kamu tahu apa arti Parangtritis?"


"Enggak, apa emang?"


"Air yang menetes dari batu, kayak sayang aku sama kamu. Murni dari sini," ujar Andre menunjuk dada bidangnya.


Naina termenung, memikirkan kata-kata lelaki yang menjadi kekasih sementaranya ini. 'Bisakah aku membuka hati?' batin Naina.


"Ndre, naik ATV yuk," kilah Naina, belum siap menjawab pertanyaan Andre.


Ayo!"


Lelaki itu bangkit, ada gurat kecewa di wajahnya. Ia tahu, pasti Naina masih belum bisa menerimanya. 'Sepertinya aku harus berusaha lebih keras, nih,' Batin Andre.


Bermain ATV bersama terasa sangat menyenangkan, menjelajahi setiap jengkal pantai yang terus memanjakan mata.


Beranjak siang, keduanya beristirahat di sebuah kedai di dekat pesisir. Rasanya tak afdol jika tak mencicipi gudeg dan es kelapa muda. Salah satu makanan khas Yogyakarta.


Tengah asyik menikmati makan siang, tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiri.


Andre menerima dengan enggan, firasatnya tak menentu. Terasa berat saat dipegang.


"Dari siapa ya?" tanya Naina heran.


"Kurang tau saya, Mbak. Tadi dititipin sama salah satu pelanggan, orangnya sudah pergi," sahut pelayan dengan raut bingung.


"Ya sudah, terimakasih ya!"


Usai pelayan itu pergi, Andre meletakkan bingkisan itu di meja. Ada debar tak biasa yang menjalari tubuhnya.


"Nai, udah selesai?"


"Sudah, selanjutnya kita ke mana?"


"Bukit Paralayang, ayo!" ajak Andre seraya meraih bingkisan.


"Naik apa? Mobil?"


Lelaki itu mengangguk, membukakan pintu untuk Naina dan meletakkan bingkisan itu di bagasi. 'Nanti saja dibuka', pikirnya dalam hati.


Mobil melaju ke arah selatan, sebelum akhirnya berbelok ke kanan dari pertigaan jalan. Lajunya mulai melambat, pasalnya kini jalanan mulai menanjak.


Sekitar sepuluh menit, akhirnya mereka sampai di area parkir. Untuk mencapai puncak, Naina dan Andre harus menaiki anak tangga yang lumayan panjang.

__ADS_1


Pelan, digenggamnya tangan Naina dan mulai berjalan beriringan. Sepoi-sepoi angin menerbangkan surai gadis itu, tampak memesona bak model iklan.


"Nai, kamu cantik banget," gumam Andre kagum.


Naina mengalihkan pandang, semburat merah jambu menghiasi pipinya. Debar dalam dada mulai bergolak bak debur ombak. Gadis itu, hanyut dalam perasaan berbunga.


Andre tersenyum, bahagia menyelimuti hatinya. Berusaha melupakan kejadian tak mengenakkan saat bertemu Alex pagi tadi.


Setelah beberapa saat, keduanya sampai di puncak. Pemandangan terlihat sangat indah dari atas sini, garis pantai Parangtritis terlihat jelas, sangat sayang jika sampai terlewat.


"Mau naik paralayang?" tawar Andre.


"Boleh kah? Tapi aku takut," sahut Naina ragu.


"Boleh dong, jangan takut, kan bareng aku," jawab Andre menenangkan.


Keduanya menuju arena paralayang, mendaftar dan mulai memakai perlengkapan keamanan. Sebelumnya staf bertanya apakah ada pengalaman, yang diangguki oleh Andre sebagai jawaban.


Naina berada di depan, duduk di sebuah rompi berbentuk kursi, sehingga nyaman saat terbang.


Proses take off menunggu saat angin kencang datang, selanjutnya parasut akan terangkat ke atas sehingga keduanya akan bergelayutan beberapa detik.


Setelah mulai terangkat ke udara, selanjutnya dua orang pemandu mulai menarik sabuk ke arah depan sehingga bisa melayang.


Naina mencengkram tali pegangan kuat-kuat, rasa takut mulai menyergap. Andre yang menyadari itu, gegas memegang punggung tangan gadis itu. Menyalurkan rasa hangat dan tenang.


Ketika betul-betul sudah terbang dan berada di atas, rasa cemas dan rasa takut itu mulai berangsur-angsur hilang.


Naina berseru kenang, mengalahkan desau angin yang kian hebat. Melepas segala beban yang menumpuk dalam benak.


"Andreee! Seru bangeett!!"


"Iya, Nai!"


Dua pasang kejora itu tampak berbinar menikmati pemandangan alam di atas ketinggian.


Tak lupa, Andre segera mengabadikan momen berharga itu dengan tongsis yang sudah ia persiapkan.


Sekitar lima menit melayang, akhirnya mereka mendarat di tempat pemberhentian, di mana para staf sudah siap menyambut.


Usai melepas semua atribut, keduanya pun beristirahat sambil melihat-lihat hasil jepretan, tampak Naina tersenyum manis di dalam foto itu.


Andre tersenyum puas, begitu juga Naina. Gadis itu merasa separuh bebannya seolah terangkat.


Usai penat hilang, keduanya kembali ke bukit Paralayang. Menanti momen senja yang telah lama dinantikan.


Menjelang senja, keduanya sudah siap menanti sunset yang akan segera tersajikan. Dua es kelapa menemani momen mereka.


Perlahan, siluet merah saga mulai bermunculan, mega yang berarak memenuhi kaki cakrawala tampak merah ke emas-emasan.


Mentari mulai turun menuju peraduan, tak lupa sebuah foto Andre abadikan. Bersanding berdua, menikmati sunset yang mulai berganti malam.

__ADS_1


Puas, mereka melaju pulang, menuju losmen tempat persinggahan. Sepanjang jalan, Naina menatap Andre senang.


__ADS_2