Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
Ancaman


__ADS_3

Kekasih Bayaran Bagian 58


Oleh Sept


Winda yang marah, jengkel campur terkejut langsung pergi meninggalkan ruang meeting. Ia sampai melupakan berkas-berkas yang semula ditingalkan Kadek padanya. Sambil berjalan gusar, Winda mengirim pesan pada Kadek Dewi.


[Ada masalah urgent! Barang-barang gue tinggal di ruang meeting. Tolong banget, nanti dibereskan. Thanks]


Ting ...


Pesan terkirim, dan Winda kembali bergegas. Ketika di depan lift, buru-buru ia menekan tombol dan langsung masuk. Buru-buru pula ia pencet tombol lagi agar segera tertutup. Akan tetapi sebuah tangan dengan bulu-bulu halus tiba-tiba menyeruak masuk. Menahan pintu itu agar tidak menutup sempurna.


Winda yang melihat Kavi masuk, ia langsung maju ke depan, hendak keluar saat Kavi mendesak masuk.


"Mau ke mana?" cegah Kavi sambil mencengkram lengan Winda erat. Seperti tidak mau gadis itu kabur.


"Lepas, Kav!" sentak Winda marah. Ia menepis lengannya, tapi Kavi malah mencengkram kedua bahu wanita tersebut.


Winda langsung mendongak, menatap CCTV yang ada di dalam sana.


"Berani macam-macam, awas kamu Kav! Di sini ada CCTV, jika kamu macam-macam ... akan aku pastikan kamu tanggung akibatnya!" ancam Winda galak. Winda bukan lagi gadis lemah yang gampang ditindas, apalagi jika Kavi mengancam masalah hutang. Jelas Winda dapat membayar semuanya beserta bunga yang diminta pria itu. Tapi sepertinya bukan itu mau Kavi, pria tersebut mau yang lain, bukan uang.


Kavi ikut mendongak, kemudian wajahnya langsung masam. Cengkraman Kavi kemudian melemah dan lepas, tapi tatapan mata itu masih tertuju pada Winda. Membuat wanita itu tidak nyaman.


"Oke ... kali ini kamu bebas," ucap Kavi kemudian keluar dari dalam lift. Setelah pria itu keluar, Winda langsung bersandar. Tubuhnya mendadak lemas. Kami hampir membuatnya spots jantung.


Cukup lama Winda menenangkan diri, mengantur napas agar bisa rileks. Hingga merasa sudah tenang, barulah ia menuju basement dan mencari mobilnya yang terparkir di sana.

__ADS_1


Suasana serasa sepi. Winda buru-buru masuk dan keluar dari tempat itu dengan buru-buru. Tanpa ia sadar, sebuah mobil hitam juga sedang berjalan di belakangnya.


Sepanjang jalan Winda terlihat masih shock. Meski matanya fokus di jalan, tapi kejadian dia dan Kavi di ruang meeting tadi terus terbayang, lewat di pelupuk menganggu konsentrasi wanita tersebut hingga hampir menabrak pengendara lain.


Tint tin tin


Suara klakson keras membuat Winda tidak konsen. Gara-gara ditium Kavi, semuanya jadi buyar.


"KAVIII!" desisnya kesal. Winda mencengkram kemudi, sambil mengeratkan gigi-giginya menahan amarahnya.


***


Apartment


Saat tiba di apartment miliknya, Winda langsung masuk dan mengunci dobel apartment miliknya. Ia buru-buru masuk dan menghubungi Kadek, rekan kerjanya.


"Dek! Gue langsung pulang. Tolong jangan lupa berkasnya. Badan gue tiba-tiba gak enak!" ucap Winda di telpon.


"Gak usah! Udah ... lo handle semuanya." Winda bukan sakit secara medis, Winda ini kan lagi shock setelah apa yang Kavi lakukan padanya.


"Beneran?" Dan Kadek belum percaya, kalau gak sakit-sakit amat, Winda gak bakal absen kerja.


"Iya, gak usah."


"Ya udah. Istirahat aja. Nanti mau apa? Biar gue bawain pulang kerja."


"Nggak, trims ya. Maaf repotin."

__ADS_1


"Santai aja. Ya udah, istirahat aja ya."


"Hemm!"


Tut tut Tut ...


Telepon pun terputus.


Ting Tung ...


Baru juga menutup telpon, sudah ada yang membencet pintu. Winda pun mengintip, tapi tidak ada seorang pun di depan. Ya iyalah, sosok tersebut menepi agar tidak kelihatan di lubang pintu.


Kavi berdiri di balik pot besar agar tidak kelihatan oleh Winda yang sedang mengintip.


Ting Tung


"Astaga! Siapa ini?" Winda mencoba abai. Tapi lama-lama malah menganggu. Dan lagi ia tidak berpikir bahwa itu mungkin Kavi.


Winda pun keluar, ia melihat sekeliling tapi sepi tidak ada seorang pun.


"Siapa ini? Iseng sekali!" Winda langsung berbalik, tapi saat akan menutup pintu ia melonjak kaget. Tiba-tiba Kavi merangsek masuk ke dalam apartment miliknya.


"Mau apa kau? Keluar! Jangan macam-macam! Atau aku panggil polisi!" ancam Winda.


"KAVIII!" bentak Winda. Ia semakin panik karena Kavi malah melonggarkan dasi.


Bersambung

__ADS_1


Sudah ada Audiobook-nya, cuss ramaikan yaaaaa ... Kekasih Bayaran.



__ADS_2