
Kekasih Bayaran Bagian 104
Oleh Sept
"Kenapa Non, kok pucet?"
Berbie mendesis kesal saat suster bertanya padanya. Dan tiba-tiba perutnya kembali sakit. Dengan buru-buru ia lari mencari kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Winda yang tahu adiknya sedang di kamar mandi. Ia langsung membuang semua makanan yang tadi tersedia di meja.
"Kok dibuang, Non?" bik Inah datang dan kaget masakan semua di taruh dalam tas kresek.
"Tadi ada cicaknya, Bik!" Winda berbohong.
"Maaf, Non. Maaf ..."
"Bukan salah Bibi, cicaknya aja yang nakal," Winda melempar senyum dengah ramah.
'Tumbe non Winda terlihat segar, wajahnya sumringah. Sepertinya masa ngidamnya sudah usai,' batin bibi yang memang memperhatikan perubahan Winda selama hamil.
"Sini, Non. Biar saya yang buang ke depan."
Winda pun memberikan tas kresek berisi makanan yang sudah ia beri obat tersebut. Biar tidak ada yang mules seperti Berbi karena salah makan.
***
Menjelang siang, Kavi masih di kamar. Sudah ganteng, sudah wangi, segar bugar, sehat luar dalam. Ya iyalah, ini karena service semalam. Setelah sekian purnama akhirnya monopterus bisa kembali aktive. Benar-benar surga dunia, hiburan yang membuat imun seketika membaik.
"Aku bisa ambil sendiri," ucap Kavi saat melihat Winda membawa masuk camilan ke dalam kamar. Winda datang membawa makana serta buah.
"Jangan, di dalam saja!"
"Apa dia belum pergi?"
"Besok, kan aku bilang dia besok perginya."
"Lagian kenapa kamu gak suruh dia pergi?"
"Aku lagi hamil, Kav. Aku gak mau jahat sama orang."
__ADS_1
Kavi menghela napas panjang, ditatapnya Winda dengan lembut. Tangannya kemudian menutup layar laptop dan berdiri meninggalkan meja kerja yang ada di kamara itu.
"Kamu memang istriku yang paling baik," bisik Kavi.
"Tapi jangan terlalu baik, nanti kebaikan itu akan menyusahkanmu sendiri," tambah Kavi.
"Entahlah, Kav. Aku seperti melihat diriku yang dulu pada Berbi. Tapi sepertinya aku keliru."
"Ish ... jelas berbeda. Aku tahu sekali kau dulu seperti apa. Sudah jual mahal, negative thinking, galak, jutek, dingin, pokoknya kamu unik, membuat duniaku teralihkan."
Winda langsung mengukir senyum yang cantik, membuat Kavi terlena saat menatapnya.
"Apa aku seperti itu? Yang benar saja!"
"Hemm ... kau dingin sekali. Makanya aku kalau dekat-dekat kamu sering flu."
Winda langsung terkekeh, ia tersenyum lepas. Membuat Kavi tambah terpesona.
'Jangan senyum terus seperti ini ... kamu cantik, sangat cantik!'
CUP
Winda terbelalak, Kavi langsung main nyosor saja seperti soang.
Kavi hanya meringis, tersenyum kemudian mengecupp lagi. Tapi kali ini hanya kening. Kemudian turun sampai ke perut. Baru dua bulan, tapi sudah kelihatan kalau sedang isi.
"Sayang, udah kelihatan besar ya?" ucap Kavi sambil jongkok.
Diusapnya dengan lembut, seperti tidak sabar jagoan-jagoannya lahir. Rasanya kok tidak sabar, bagaimana wujud mereka. Apalagi ini kembar tiga. Ya ampun, membayangkan saja sudah tidak bisa berkata-kata. Sungguh nikmat yang luar biasa.
"Yang pinter ya anak-anak Papa. Jangan mual-mual lagi, kasian Papa dong."
Winda kembali terkekeh, ia paham maksud suaminya.
Tok tok tok
Lagi asik-asik berduaan, ada saja yang menganggu.
"Siapa lagi itu?" gumam Kavi.
__ADS_1
"Aku saja, stay di dalam. Gak boleh keluar!"
Kavi bengong, Winda mendadak jadi protective setelah ia cerita kemarin digoda Berbie. Tapi baguslah, asik juga di possessivin sama istri sendiri.
Ketika Winda memeriksa siapa yang mengetuk pintu, Kavi kembali duduk menatap laptop. Memeriksa beberapa berkas yang harusnya ia tanda tangani. Tapi karena tidak ke kantor, ia pun hanya memeriksa lewat online saja.
Di luar kamar.
Suster mengatakan kalau sepertinya Berbi kurang enak badan. Bolak balik ke kamar mandi. Dengan enteng, Winda mengatakan obat apa yang harusnya diberikan.
"Itu gak apa-apa, Sus. Nanti juga reda sendiri."
"Oh, baik ... Non." Suster merasa aneh, kok Nona mudanya terlihat kurang respect. Bukankah itu saudaranya? Tapi karena Berbie jutek dan galak, suster pun tidak ambil pusing.
Ia kemudian ke kamar Berbie, di kamar tamu. Suster datang membawa obat, biar Berbie berhenti mulas-mulasnya.
"Nona sepertinya salah makan, ya?"
"Makan apa? Gue cuma makan masakan elo!" ujar Berbi nyolot. Membuat suster langsung kesal dan meninggalkan kamar itu.
'Dikasihani kok kaya gitu! Pantes non Winda kurang peduli. Punya adik kaya orang-orangan sawah, cuma nakutin burung di kebon!' gerutu suster sambil berjalan menjauh.
Sore harinya, Berbi sudah tidak lagi ke kamar mandi. Setelah minum obat ia langsung merasa lega. Dan saat ke dapur, dia mendengar suster bisik bisik dengan bik Inah.
"Makanan yang tadi habis semua, Bik?" tanya suster yang heran bibik masak lagi.
"Suruh buang sama non Winda."
Suster menatap heran. Kenapa dibuang? Apa orang kaya harus begitu? Padahal masih bagus. "Kenapa? Kan masih baru?" Suster penasaran.
Di belakang mereka, tangan Berbi seketika meggepal.
'Oh, mbak ngajak ribut sekarang. Oke! Jangan menyesal karena sudah berani ngerjain aku!' batin Berbie penuh iri, benci, dan dengki. Semua penyakit hati melebur jadi satu dalam dirinya.
Bersambung
Semoga Kita semua dijauhkan dari orang-orang sejenis Berbi ya bestie. Aamiin heheheh .. soalnya banyak sekali manusia bermuka dua. Baik di depan, nusuk di belakang. Sekali lagi, semoga Kita semua dijauhkan dari segala jenis penyakit hati dan hal-hal yang buruk yang jelek. Btw Selamat untuk para pemenang GA bulan ini yaaa ... selamat, yang belum menang, yukkk semangat ... biar bisa menang GA berikutnya. Semangat bestiiii.
IG Sept_September2020
__ADS_1
FB Sept September