
Kekasih Bayaran Bagian 84
Oleh Sept
Tap tap tap
Setelah membuka pintu apartment Winda dengan kunci yang ia miliki, dan setelah yakin di apartment tidak ada siapa-siapa karena tidak ada yang membuka pintu saat ia berdiri lama di luar, Kadek pun melangkah masuk.
Ia menapak dengan hati-hati, takut Winda di apartment bersama Kavi. Namun, ternyata ruang tamu terlihat sangat sepi.
"Apa mereka belum pulang?" gumam Kadek.
Sambil memindai seluruh ruangan, Kadek terus berjalan. Gadis itu kemudian ke dapur dulu untuk mencari minuman di dalam kulkas. Haus, sejak tadi teriak memanggil nama Winda.
"Seger!"
Setelah habis satu botol kecil orange juice, Kadek kemudian ke kamarnya yang dulu. Ia akan mengambil sesuatu dari dalam sana. Dan setelah mendapat apa yang ia inginkan, Kadek pun menutup kembali pintu kamarnya.
"Sepi banget, apa mereka belum pulang sejak tadi?" tanya Kadek. Dan matanya tertuju pada bantal sofa yang berantakan. Karena biasanya ia yang paling rajin membersihkan apartment itu, Kadek pun meletakkan tas Kremesnya. Tas mahal hadiah dari Winda saat ia ultah tahun lalu.
Sambil merapikan bantal-bantal sofa, Kadek bersenandung. Hingga sampai di bantal terakhir. Betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat sesuatu yang tidak seharusnya. Bagaimana bisa dalaman wanita minimalist itu ada di atas sofa tertutup bantal kecil.
"Ish!"
"Sialll!"
Kadek mengambil bantal dan menutupi benda segitiga yang menerawang tersebut.
"Gilaa! Sejak kapan Winda punya koleksi begitu ... ya ampun. Otakku bisa kotor kalau lama di sini!" gerutunya yang malu saat melihat segitiga merah dengan desain menggoda. Bagaimana bisa itu dipakai, bahkan tidak menutupi apapun.
"Gilaa!" Kadek merutuk kemudian bergegas meraih tas kremes miliknya. Tidak banyak kata, ia langsung buru-buru pergi. Apartment Winda sudah tidak aman untuk disinggahi. Terlalu menyeramkan, jika ia lama-lama di sana, jangan-jangan akan banyak lagi penampakan yang akan membuatnya shock. Secara ia masih single, tidak mau otaknya tercemar karena ulah pengantin baru tersebut.
KLEK
Kadek pun menutup kembali pintu apartment Winda. Sedangkan di dalam kamar, Winda dan Kavi akhirnya bisa bernapas lega.
"Apa dia sudah pergi?" tanya Kavi sambil berbisik.
"Sudah terdengar suara pintu, pasti sudah."
"Punya temen gitu amat, Win. Bikin spot jantung."
Winda terkekeh.
"Salah sendiri, kenapa tadi main di ruang tamu."
__ADS_1
Ganti Kavi yang tersenyum tanpa malu-malu.
"Gimana lagi, sudah ON!" jawab Kavi kemudian langsung memajukan kepalanya. Sudah bersiap mendaratkan bibir. Tapi Winda langsung memalingkan muka.
"Jangan aneh-aneh, nanti lagi. Aku mau beresin ruang tamu. Takut ada tamu gak diundang lagi."
"Hemm! Ya udah, aku juga mau mandi dulu."
"Iya."
Winda pun keluar dari kamar sambil mengintip di balik pintu.
"Aman?"
Karena kosong, ia pun keluar. Dilihatnya semua sudah rapi. Ia pun tersenyum.
"Anak itu memang paling rajin," gumam Winda sambil mengulas senyum. Kemudian tangannya meraih satu bantal yang kurang rapi sendiri.
"Sialll!" Winda langsung mendesis. Buru-buru ia mengambil jejak terakhir yang tersisa.
"Apa Kadek melihat ini?" gumam Winda malu.
"Semoga tidak!" harapnya dengan cemas.
"Aduh!"
"Pasti dia tidak melihat!"
Winda bermonolog, berharap temannya tidak melihat alat tempurnya itu. Kan sangat memalukan. Bisa-bisa Kadek akan meledeknya, bukan karena apa-apa, ini karena bentuk benda itu yang terlihat sangat absurd tersebut.
Tidak mau memikirkan hal yang macan-macam, Winda menggeleng keras.
"Pasti gak lihat, kan ketutup bantal!" Winda mencoba positive thinking.
...
Beberapa jam kemudian, Kavi sudah terlihat ganteng dengan pakaian casual. Tidak mengurangi ketampanan pria tersebut meski tidak pakai setelan jas rapi. Sedangkan Winda, ia hanya pakai kaos oblong. Terlihat kedodoran karena itu bukan miliknya. Ya, milik siapa lagi kalau bukan punya Kavi.
Mereka berdua sedang makan malam romantis di apartment. Tepatnya di balkon sambil ditemani 2 lilin besar. Maunya Winda makan malam di restaurant, ala-ala candle light dinner. Namun, Kavi menolak keras. Ia mau di apartment saja. Biar nanti kalau mau buka gampang. Tidak harus mencari tempat. Sambil makan mereka membahas impian mereka ke depan, ingin apakah mereka nantinya.
"Win," panggil Kavi lembut seraya meraih tangan Winda yang ada di atas meja.
"Iya."
"Aku ingin kita segera punya anak," ucap Kavi tiba-tiba.
__ADS_1
Dalam hati Winda ketar-ketir. 'Kalau aku segera punya anak, akan repot saat harus bekerja nantinya.'
"Kamu tahu kan, kakak pertamaku kembar. Semoga nanti anak kita juga bisa kembar."
'Kembar? Apalagi kalau kembar? Bisa-bisa aku harus resign,' pikir Winda.
"Win! Malah melamun. Bagaimana? Mau program bayi kembar enggak? Pasti sangat mengemaskan."
Winda menatap Kavi dengan bingung kemudian mulai bertanya.
"Kamu mau kita langsung punya baby? Kita baru menikah, baru ketemu setelah beberapa tahun pisah. Emmm ... tidak mau bersama menikmati quality time dulu?"
Kavi tersenyum tipis. "Aku ngelakuin hal itu sama kamu, selain karena naf suh, juga karena pengen cepet-cepet punya keturunan, Sayang."
Winda menelan ludah, masalahnya mereka baru nikah beberapa hari. Sudah membahas anak, Winda mendadak merasa kurang nyaman. Mungkin juga ingat dulu bagaimana ia ditelantarakan sang ayah. Sadar atau tidak, Winda ini masih menyimpan rasa trauma dalam hidupnya.
"Kenapa? Kamu gak KABE kan?" tuduh Kavi saat melihat ekspresi aneh Winda.
"Enggak, aku gak KABE apapun."
"Bagus." Kavi kembali santai dan makan makanan di depannya lagi.
Winda hanya bisa menatap kosong pada lilin yang mulai meleleh sambil memijit pelipisnya karena Kavi menuntut anak.
Sesaat kemudian
Winda membereskan sisa makan malam mereka, ia melamun saat mencuci piring. Wanita itu tidak menyadari Kavi yang mulai mendekat dan langsung mendekap dari belakang.
"Nanti piringnya jatuh."
"Sini, aku bantu!"
"Ini gak membantu sama sekali, kamu malah membuat pekerjaanku semakin lamban, Kav!" Winda protes, sebab Kavi malah menganggu dirinya. Peluk-peluk dari belakang dengan tangan yang super jail.
"Udah ... tinggal itu bentar. Ayo bikin baby!" bisik Kavi sambil mengigit kecil daun telinga Winda.
Winda pun berbalik, kemudian mengatakan sesuatu yang membuat Kavi terkejut.
"Kav, sepertinya aku belum siap punya anak."
Bersambung
IG Sept_September2020
__ADS_1
Fb Sept September