
Kekasih Bayaran Bagian 88
Oleh Sept
Suasana di apartment Winda pagi ini membuat Kadek canggung. Ia sangat menyesal menginap di rumah pengantin baru. Tidak recommend! Jika itu adalah tempat terakhir yang ada, lebih baik Kadek tidur di emper pertokoan. Bagaimana tidak, semalaman gadis itu tidak bisa tidur karena suara berbisik di kamar sebelah.
Winda dan Kavi mungkin keterlaluan selama bergulat semalam, atau mainnya terlalu bersemangat sehingga menimbulkan suara-suara yang meresahkan bagi siapa yang mendengarnya. Terutama Kadek, otaknya langsung berpikir yang bukan-bukan.
Apalagi pagi ini, dilihatnya dua insan itu rambutnya masih basah. Rasanya Kadek mau menghilang dari sana. Sungguh, dia merasa di tempat yang salah. Rasanya sudah ingin bergegas pergi dan menghilang.
"Lo mau ke mana? Buru-buru bener?" tanya Winda sambil melepaskan lilitan handuk di kepalanya. Tanpa merasa dosa, ia meletakkan handuk di sandaran kursi kemudian ikut sarapan.
"Gue ada pekerjaan yang harus diselesaikan," jawab Kadek sambil cepat-cepat melahap sandwich, menu sarapan mereka pagi ini.
"Ish ... jam berapa ini? Masih pagi, jangan terlalu bersemangat bekerja. Nanti otak bisa kram!" celetuk Kavi.
Winda malah melempar senyum. Kavi bisa bilang begitu karena meski tidak bekerja, cuan akan terus mengalir ke ATM pria tersebut. Beda sekali dengan mereka berdua, harus kerja keras bagai kuda biar ada cuannya.
"Kamu juga sayang! Gak boleh lembur-lembur!" tambah Kavi kemudian menatap istrinya penuh cinta. Padahal semalam marah-marah, karena Winda berhasil melakukan service exclusive, membuat anak Hering itu lupa dengan rasa amarahnya.
'Astaga ... perasaan sebelum masuk kamar pria ini begitu dingin dan sepertinya sangat marah!' batin Kadek. Ia kemudian bergidik ngeri, apalagi melihat tatapan Kavi ke Winda. Tidak mau jadi obat nyamuk, ia pun setelah minum orange juice, memutuskan untuk pamit.
"Gue balik dulu, Win. Dan Mas Kavi ... duluan, ya!"
Kavi mengangguk, begitu juga Winda.
"Hati-hati, Dek!"
"Hemm!"
Setelah Kadek pergi, keduanya meneruskan sarapan dengan santai. Sambil makan pagi, Kavi mau mengobrol sejenak dengan istrinya itu.
"Yang semalam masih berlaku ya, 1 bulan aja!"
Ngekkk
Winda pikir sudah bisa merubah suaminya, ternyata sama saja. Ia hanya diberi waktu sebulan untuk resign.
"Emmm ... oke!" jawab Winda sambil menyentuh pundak suaminya. Ia pun meninggalkan meja dan meraih handuk untuk diletakan di tempat yang tersedia.
Sambil ke kamar untuk ganti baju kerja, ia terus saja berpikir. Sepertinya semua proyek yang terlanjur ia handle harus ia lempar ke Kadek. Dan ia juga harus mengatakan hal ini pada pal Yudhistira. Ia menghela napas dalam-dalam, berurusan dengan pak Yudhistira sedikit membuatnya tidak nyaman.
"Mikir apa? Berat banget mukanya?" celetuk Kavi yang menyusul masuk kamar setelah sarapannya habis.
"Bukan apa-apa. Oh ya, balik kapan? Gak apa-apa itu pekerjaan ditinggal terus?"
__ADS_1
"Paling juga mas Arjun dan mbak Olivia yang ngomel-ngomel. Karena aku bolak-balik Bali Jakarta. Mereka itu dah minta aku bawa kamu balik, biar aku gak pergi-pergi begini."
Winda semakin tertekan, tapi ia mencoba tersenyum.
"Iya, iya ... satu bulan. Only tiga puluh hari."
Kavi mengangguk mengerti, dari enam bulan ke satu bulan saja ia sudah bersyukur. Discount sudah banyak banget. Meskipun harus sedikit tegas pada Winda. Padahal ia bukan tipe pemarah, tapi mau bagaimana lagi, Kavi sepertinya tidak tahan lama-lama LDR dengan istrinya tersebut.
Sesaat kemudian
Winda sudah dalam perjalanan menuju kantor, sedangkan Kavi pria itu masih di apartment. Kavi duduk dengan pakaian rapi dan menghadap laptop. Karena masih di Bali, ia pun melakukan meeting virtual. Ala-ala zoom saat anak-anak daring.
Kavi akan kembali lusa, karena tidak mungkin bolak-balik. Masih capek dan juga masih kangen.
***
Hari-hari berat akhirnya berhasil keduanya lewati, meski tidak mudah. Karena seminggu Kavi bisa bolak-balik Bali Jakarta 2 Kali. Ini adalah minggu terakhir mereka LDR, karena Winda hari ini menyerahkan surat pengunduran diri.
Ruang kerja Pak Yudhistira
"Kamu berhenti apa gara-gara saya?" tanya Pak Yudhistira dengan tatapan penuh selidik.
"Maaf, Pak! Bukan karena Bapak."
"Benarkah?"
Duda tampan seperti Anjas itu mencebik, tidak percaya. Pasti Winda keluar karena dirinya.
"Saya tolak pengunduran diri ini!"
"Loh, Pak?" Winda panik.
Pak Yudhistira melempar map itu ke dalam laci mejanya.
"Saya simpan, dan anggap ini tidak ada!"
"Maaf, Pak. Saya akan tetap keluar. Karena ini sudah menjadi keputusan saya."
"Kamu tidak sayang dengan jenjang karirmu yang pasti akan naik?" Pak Yudhistira mencoba mempersuasi Winda agar tidak keluar dari perusahaan
Winda menggeleng, kemudian kembali meminta maaf sekaligus teriam kasih.
"Terima kasih atas kesempatan selama ini, dan mohon maaf jika selama ini, selama Winda bekerja, banyak kekurangan."
Pak Yudhistira langsung memejamkan mata, sepertinya keputusan Winda sudah bulat.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan semua proyek yang kamu tangani? Harusnya kamu tetap tanggung jawab sampai semuanya selesai."
"Sudah, Pak. Bapak tidak usah khawatir. Semuanya sudah di handle oleh Kadek, selama ini Kadek selalu dalam Tim saya. Saya yakin dia akan bisa melanjutkan semua project ini."
Pria itu menghela napas panjang.
"Kamu tidak menyesal?" tanya Pak Yudhistira sekali lagi.
'Pertanyaan bodohhh, suaminya sekarang orang kaya. Mungkin dia sudah tidak perlu repot bekerja. Mau 7 keturunan harta bukan masalah!' batin pak Yudhistira yang merasa kesal karena Winda harus resign.
"Baiklah, kamu boleh pergi sekarang!" titah Pak Yudhistira kemudian, padahal pertanyaan sebelumnya belum dijawab Winda.
"Baik, Pak. Terima kasih. Ini adalah minggu terakhir saya bekerja, dan terima kasih banyak."
Pak Yudhistira hanya diam, sampai Winda menutup pintu ruang kerjanya, pandangan matanya kosong menatap kepergian istri orang. Semakin jauh panggang dari api. Dia bukan pungguk, juga bulan bulan, tapi intinya sama.
***
"Giaman? Lancar?" tanya Kadek kepo saat Winda duduk di meja kerjanya.
"Beres!"
"Syukurlah. Oh ya, malam minggu besok lo wajib traktir kita-kita sebagai pesta perpisahan!"
"Oke."
"Yess! Temen-temen, sabtu besok kita makan-makan sampai puas! Winda yang bayar!"
Karyawan yang ada di sana hanya tersenyum, kemudian mengangguk.
***
Seminggu kemudian.
Apartment Winda, Winda rupanya hanya mengundang beberapa rekan kerja yang dekat ke apartment miliknya, sebelumnya ia sudah mentraktir beberapa karyawan lain di sebuah restaurant mewah. Kali ini Winda ingin yang lebih private, selama 2 tahun bersama dengan timnya. Ia ingin menjamu rekan kerjanya yang selama ini susah senang bersamanya.
Bersama Kavi, malam ini mereka akan menjadi tuan rumah yang ramah untuk 10 teman Tim kerja Winda selama ini, salah satunya Kadek. Sejak tadi gadis itu yang repot melakukan ini itu, menyiapkan meja membantu Winda.
Jamuan makan malam ini tergolong mewah, Kavi memesan makanan yang tidak tanggung untuk rekan kerja istrinya. Anngap ini sebagai perpisahan, karena setelah ini, Winda akan ikut pulang bersamanya. Baru membayangkan saja hidung Kavi sudah kembang kempis saking senangnya.
Akan tetapi, moment itu harus rusak karena kedatangan tamu yang tidak diundang. Malam yang harusnya penuh suka ria, berubah menjadi keributan yang brutal. Bersambung
Jangan lupa LIKe/Suka
IG Sept_September2020
__ADS_1
Fb Sept September