
Kekasih Bayaran Bagian 62
Oleh Sept
Ruang kerja Winda.
Tok tok tok
"Masuk!"
Kadek langsung masuk. Ia penasaran banget sama hasil pertemuan Winda dan pak Yudhistira.
"Suruh ngapain sama pak Yudhis?" Kadek langsung duduk dan memasang wajah ingin tahu.
"Tahu nih!" Winda bersandar pada kursi. Memutar kursinya kemudian mengusap wajah.
"Eh! Lo kenapa?"
"Gawat, sepertinya gue bakal dilamar pak Yudhis."
"What! Kabar bagus! Eh ... wait! Tunggu dulu. Terus nasib cowok yang kemarin bagaimana?"
"Bagaimana apanya, dia bukan cowok gue! Dan lagi ... kami nggak pacaran."
"Hah? Yang benar saja! Kalian bahkan sudah ehem!" ucap Kadek penuh dengan kode.
"Bukan ... dia bukan cowok gue!"
"Iya! Iya!" Kadek tersenyum, tapi seolah tidak percaya.
'Jelas-jelas lo ada rasa. Mata lo gak bisa DUSTA.' Kadek berguman dalam hati sambil melirik. Membuat Winda kesal.
"Beneran! Kami gak pacaran, Dek!" ucap Winda yang melihat ekspresi tidak percaya temannya itu.
"Iya Win ... iya!"
Winda masih masam karena sepertinya mau menyangkal bagaimana pun, Kadek tidak percaya.
***
Beberapa jam kemudian.
Winda dan seorang rekannya sedang menuju suatu tempat. Ia akan menemui klien khusus. Mereka sudah janji di sebuah tempat.
__ADS_1
"Kalau kita berhasil kerja sama, lumayan loh Win," kata rekan kerja winda yang sedang merapikan dandanan. Ia sibuk memoles make up saat keduanya ke toilet.
"Itu bibirnya ... warnanya jangan terlalu strong!" celetuk Winda kemudian memberikan tisu basah. Membuat rekannya masam.
"Ish! Usaha, Win! Denger-denger klien kita ini anak konglomerat!" ucapnya antusias.
"Hadehhhh! Ada-ada aja kamu ini!"
"Gak apa-apa, kan? Sapa tau jodoh!" celetuk teman kerjanya.
"Ish ... ayo, buruan! Nanti kita telat."
"Hemm ... cuss!"
Mereka berdua keluar dari toilet, kemudian berjalan sedikit lalu masuk lift. Keduanya menuju tempat yang sudah ditentukan.
"Masih kosong, mereka belum datang," gumam Winda kemudian masuk ke sebuah ruangan dengan meja dan kursi yang tertata rapi.
Saat Winda mengeluarkan laptop dari tas Gussi miliknya, terdengar derap langkah yang semakin jelas suaranya. Sementara itu, rekan kerjanya sibuk memoles bedak, langsung buru-buru memasukkan alat make up dan pura-pura meraih berkas.
Seorang pria berjas navi masuk dan memberikan salam.
"Selamat siang, maaf membuat menunggu!" ucap pria tersebut.
Pria itu kemudian berbalik, dan membuka pintu untuk bosnya yang belum masuk.
"Silahkan, Tuan."
'Lah ... aku kira di bosnya!' Rekan kerja Winda yang bernama Intan itu pun langsung menelan ludah karena salah memgenali target.
'Gila! Sekretarisnya aja cakep, bosnya? Ya ampun. Ini mah packet komplit!' gumamnya kemudian memasang muka paling manis. Ia menatap kagum pada sosok pria ganteng, masih muda, rapi, cool, dan sedikit berbulu rapi di wajahnya.
Sedangkan Winda, wanita itu mendesis sambil mencengkram mouse portable yang kebetulan ia pegang saat ini. Ia memejamkan mata, menahan kesal. Kenapa ia tidak curiga sebelumnya.
"Selamat siang bu Winda! Perkenalkan ini pak Kavi. Dan pak Kavi, ini bu Winda."
Winda tersenyum ramah pada sekretarisnya Kavi, tapi ketika Kavi mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, Winda mencengkram tangan pria tersebut. Itu karena jari Kavi mencoba mengelitik telapak tangannya.
Lebih dari tiga puluh menit mereka membahas masalah pekerjaan, kemudian saat urusan selesai, Winda pun pamit untuk undur diri. Seperti apa yang ia bayangkan, Kavi tidak mengijinkan wanita itu pergi dengan mudahkan.
"Sebentar Nona Winda, ada beberapa klausa yang belum saya pahami."
Mereka semua menatap Kavi, kemudian ganti melihat ke arah Winda.
__ADS_1
"Yang mana, Pak Kavi? Biar saya bantu jelaskan!" Intan maju paling depan sebelum ditunjuk. Dan Winda langsung sumringah.
"Silahkan didiskusikan dengan tekan kerja saya, Pak. Dia paling paham dalam bidangnya," ucap Winda yang mau kabur.
"Yang mana, Pak?" Intan mendesak membuat Kavi kesal tapi tetap terlihat tenang. Dan begitu Winda meninggalkan ruangan, pria itu bergegas mengikuti Winda.
"Maaf, saya ada perlu sebentar!" Kavi ikut kabur menyusul Winda.
Tap tap tap
"Win! Windaaa!" panggil Kavi kemudian setelah berlari. Ia baru berhenti saat sudah berhasil mencegah langkah Winda dengan menghadang wanita itu tepat di depannya.
"Astaga! Maaf Pak, tolong professional sedikit!" Winda kesal karena Kavi mencampur masalah pekerjaan dan masalah pribadi.
"Jangan terlalu formal padaku! Aku suka kamu yang dulu!" Kavi langsung merangkul pundak Winda dan mereka jalan bersama.
"Eh! Lepasin!"
"Diam ... nurut! Atau mau aku ciumm di sini?"
Winda langsung berhenti berjalan, ia menatap marah pada Kavi.
"KAVIII! Hentikan. Aku gak suka main-main! Kalau kau terus begini, aku akan benar-benar marah padamu!" ujar Winda yang merasa sebal karena Kavi sama sekali tidak pernah dewasa.
"Lalu aku harus bagaimana agar kamu menyukainya? Kamu tidak mau main-main? Baiklah ... Aku akan serius. Sangat serius malahan."
"Heiii! Berdiri! Apa yang kamu lakukan? KAVIII ... berdiri. Semua melihat Kita!" desis Winda yang panik saat mereka menjadi ajang tontonan.
Kavi mendadak berlutut, seperti sedang melamar. Dan benar saja, pria itu tiba-tiba mengeluarkan sebuah benda dari saku jasnya. Tanpa izin, Kavi langsung meraih tangan winda. Memasang cincin di jari manis wanita tersebut.
Orang yang kebetulan berada di sana, semua menatap senang. Bahkan bersorak, meminta Kavi untuk segera menciumm wanitanya. Winda terkejut, ia kaget bukan main. Kakinya mundur beberapa langkah sembari menarik tangannya.
"KAV ... apa-apaan ini?" Winda mencoba melepaskan cincin itu, tapi Kavi langsung berdiri dan memeluknya.
"Jangan patahkan hatiku dengan menolak di depan semua orang! Kamu wajib menerimnya ... jika tidak. Maka aku akan memaksa sampai kau mau," bisik Kavi kemudian melepaskan pelukannya.
"Huuuuu!" beberapa orang kembali bersorak karena Kavi langsung menempelkan bibirnya yang bak soang tersebut.
Winda seperti tersihir, apalagi saat ini dilihatnya sebuah cincin sudah melingkar di jari manisnya.
'Kadek ... sepertinya gue mau percaya sama laki-laki ini!' batin Winda kemudian mempererat pelukannya. Bersambung
__ADS_1