
Andre berlari secepat mungkin menuju pintu keluar rumah sakit, dadanya naik turun mengatur napas. Saat melewati taman kecil menuju parkiran, ia melihat sosok itu duduk menghadap kolam ikan.
Segera ia berlari dan memeluknya dari belakang, kekhawatirannya sedikit berkurang.
"Naina, kamu ngapain sih di sini? Aku kira kamu diculik."
"Siapa, Naina?" tanya perempuan itu seraya menoleh ke belakang.
Andre terkejut sampai terhuyung ke belakang, ia malu sekali karena salah mengenali orang.
"Maafkan saya, Mbak. Saya salah orang."
"Siapa yang kamu panggil, Mbak? Hah!"
Wanita itu tampak murka, sedangkan Andre segera berlari tunggang langgang menuju parkiran.
Segera, mobilnya melesat. Ia merasa malu dan bodoh, bisa-bisanya ia salah mengenali orang.
Naina, kamu di mana sih?"
Mobil melaju menuju rumah Naina, Andre berharap sang gadis ada di sana. Ia khawatir jika Alex kembali mengganggu dan menyakitinya.
.
Sesampainya di sana, ia segera berlari dan mengetuk pintu. Tak ada sahutan, hening. Andre mulai mengitari sekeliling rumah. Nihil. Rumahnya kosong, bahkan sepertinya Naina belum pulang.
"Kemana lagi aku harus mencari?" racau Andre mengacak rambutnya kasar.
Mobilnya kembali melaju menyisir kota, menyusuri gang dan tempat wisata, saat melewati area perumahannya. Seketika ia teringat sesuatu yang penting.
"Aku yakin dia ada di sana."
Secepat kilat ia membanting setir, menuju pinggiran kota, menyusuri jalanan sepi dan menanjak.
.
Benar saja, gadis itu di sana. Duduk termenung menghadap kota yang tampak kecil dari atas sini.
Puncak. Menjadi salah satu tempat penting bagi mereka berdua. Perlahan Andre mendekat.
"Naina?"
Gadis itu menoleh, tersenyum tipis kemudian mengangguk sekilas. Andre mendekat dan duduk di sampingnya.
"Kamu ngapain ke sini? Aku cari-cari dari tadi."
"Maaf, Ndre. Aku cuma bosan di rumah sakit. Kamu juga lama banget datangnya."
"Maaf, aku yang salah."
__ADS_1
Hening. Keduanya kembali terdiam. Tak lama, Naina mengajak pulang karena merasa sedikit lelah.
Ia meminta maaf pada Andre karena belum bisa menemaninya saat ini. Lelaki itu mengangguk paham, ia mengerti keadaan Naina.
.
Beberapa hari kemudian, Naina sudah merasa lebih baik. Alex juga belum ada tanda-tanda muncul saat ini. Hari ini, gadis itu berjanji untuk menemani Andre ke pesta relasi perusahaan keluarganya.
Gaun merah maroon menjadi pilihannya, rambut ia gerai agar sesuai dengan gaunnya. Pukul tujuh malam, Andre datang menjemput.
"Sudah siap?"
"Sudah."
"Kamu terlihat cantik."
"Terimakasih."
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, lima belas menit kemudian mereka sampai di aula gedung yang megah.
Andre menggenggam tangan Naina, memasuki area pesta. Beberapa pasang mata mulai melirik.
Ada yang berdecih tak suka karena Naina menggandeng lengan lelaki itu. Andre menjadi pusat perhatian karena prestasi dan ketampanannya.
Naina berusaha menetralkan degup jantungnya, ia ingin tampil profesional. Meski sudah sering mendatangi pesta-pesta. Tetapi kali ini terasa lain karena banyak pasang mata yang mengawasinya.
Mereka berpisah, selepas dari kamar mandi. Naina memilih duduk dan menunggu Andre di tepi. Sebelumnya ia kirimkan sebuah pesan untuk lelaki itu.
Tak lama, Andre datang mendekat bersama seorang pria. Setelah dekat, Naina baru sadar pria itu siapa.
"Naina, ini kenalin adikku, namanya Abbas," ucap Andre.
Elo?" tanya Abbas berusaha mengenali gadis di depannya.
Naina merasa kikuk, situasi ini tak pernah ia bayangkan sama sekali. 'Apes banget sih," Batinnya bingung.
"Kalian saling kenal?" tanya Andre karena Naina tak kunjung bersuara.
"Jelas kenallah, dia kan anggota mer- .... mmmh."
Tiba-tiba Naina bangkit dan membekap mulut Abbas, Andre sangat terkejut melihatnya.
"Diem gak, lo! Ini di pesta!" desis Naina seraya berbisik.
Lelaki gondrong itu mengangguk, Naina segera melepas bekapannya sebelum menarik perhatian banyak orang, Abbas pun menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Jadi kalian beneran saling kenal?" tanya Andre sekali lagi dengan raut kecewa.
Andre menarik tangan Naina menjauhi kerumunan, menuju balkon. Meninggalkan Abbas yang melongo di sana.
__ADS_1
"Sejak kapan saling kenal?" selidik Andre lagi.
Lelaki itu tak habis pikir dan tak bisa terima bahwa adiknya telah lebih dulu bertemu Naina, padahal ia sudah mencari bertahun-tahun.
"Setahun yang lalu kayaknya," sahut Naina.
"Di mana kenalnya?" 'Fix, aku udah kayak tukang sensus,' batin Andre.
"Dia mantan pelanggan aku juga, sama kayak kamu."
Andre terdiam, sorot matanya menerawang jauh. Perasaannya tak enak, apakah ini cemburu? Lelaki itu menghela napas, terasa sesak dalam dadanya.
"Jadi begitu."
Naina terdiam menekuri lantai, seolah ia adalah terdakwa yang tengah dihakimi. 'Ah, sudah kuduga akan jadi begini," batin gadis itu.
Mereka yang mulai akrab, kini kembali canggung. Keduanya sama-sama bingung bagaimana mencairkan suasana.
Akhirnya Andre mengantar Naina pulang dalam keheningan, seolah kembali ke titik nol, seperti awal-awal mereka bertemu.
Naina turun dari mobil, begitu juga Andre. Saling menatap, kemudian sama-sama tersenyum kikuk.
"Terimakasih untuk hari ini," ucap Andre basa-basi.
"Tak perlu, ini kan memang sudah tugasku."
"Hmm, baiklah. Aku duluan," sahut Andre masuk ke mobil. Melesat, hilang di belokkan jalan.
Naina masuk ke rumahnya, melepas high hells yang terasa menyiksa. Ia pun heran kenapa tak pernah bisa terbiasa. Lekas berganti pakaian rumahan.
Tiba-tiba perutnya berbunyi, lapar mendera. Di pesta tadi ia tak sempat makan. Memeriksa kulkas, ternyata kosong. Ia pun memutuskan untuk belanja di minimarket.
Mengenakan jaket, ia berjalan kaki menuju minimarket. Memilih beberapa mie instan dan beberapa potong roti dan makanan ringan.
Usai berbelanja, ia berjalan pulang, sesekali Naina menengok ke belakang, punggungnya terasa dingin. Seolah ada yang tengah mengawasinya.
Naina mempercepat langkah, lingkungannya memang tidak ramai. Untuk mencapai rumahnya, ia harus melewati satu gang yang cukup sepi dengan lampu temaram.
Semakin lama perasaan itu semakin pekat, kini Naina berlari untuk mencapai rumah. Segera ia buka pintu dan menutupnya kembali. Tak lupa ia kunci ganda.
Detak jantungnya bergemuruh, perasaan takut menyelimuti. Ia bersandar di pintu, terduduk lemas. Dalam keheningan, ia mendengar jendelanya di ketuk pelan.
Naina beringsut ke atas kasur, meletakkan belanjaannya asal. Ia berusaha mencari ponselnya, tapi sayang ia lupa di mana meletakkannya.
Hening, lima menit pun berlalu. Tampak sesosok bayangan gelap di balik jendela. Naina memejamkan mata, berharap semua hanyalah halusinasinya saja.
Tak lama sosok itu menghilang, tak ada suara lagi. Naina memberanikan diri bangkit mendekati jendela, menyibak sedikit tirainya.
Kosong! Tak ada siapapun di halaman samping rumahnya. Naina terduduk lemas.
__ADS_1