
Kekasih Bayaran Bagian 106
Oleh Sept
Pagi itu rumah yang sepi mendadak gaduh. Suara Winda yang jatuh karena didorong Berbi, membuat sebuah guci mahal pecah karena Winda mencoba berpeganan pada apapun.
Berbi semakin panik, ketika Winda mengadu sambil memegangi perutnya.
"Mbakk ... mbakkk ... aku gak sengaja," ucapnya panik. Ia mencoba membatu Winda bangun dan penghuni rumah yang lain langsung keluar.
"Apa apa ini? Ya ampun Non Winda!" pekik bik Inah yang kaget karena Winda menahan sakit. Sementara itu, suster yang tadi ada di belakang langsung menghubungi ambulance.
***
Rumah sakit Tourshine
Winda dibawa ke rumah sakit yang masih milik keluarga Gadhiata Ratama Prakash. Kavi yang baru tiba langsung panik. Mengapa istrinya sampai ke rumah sakit.
Sedangkan Berbi, wajahnya pucat. Ia masih berdiri di depan pintu ruang rawat inap Winda. Tidak berani masuk.
"Apa yang terjadi, Bik?" tanya Kavi yang melihat semua orang tegang saat ia tiba.
"Saya tidak tahu, Tuan. Tadi hanya ada nona Berbi." Bik Inah menunjuk ke arah Berbie. Makin lemas lah kaki gadis itu.
"Aku gak sengaja, Mas. Aku gak mau celakain mbk Winda."
Kavi langsung melotot, "Tolong tinggalkan tempat ini."
"Tapi, Mas ...!"
"Saya bilang pergi!"
Berbi langsung menangis, entah air mata buaya atau air mata betulan. Ia pun balik ke rumah. Mengambil semua barang miliknya, dan matanya tidak sengaja melihat amplop coklat di bawah sofa. Tanpa dosa, ia ambil dan langsung pergi.
***
Di rumah sakit, Kavi menahan geram saat melihat CCTV di ruang tamu. Tangannya mengepal menahan marah saat melihat bagaimana kejadian yang sesungguhnya.
"Tidak bisa dibiarkan, gadis ini harus diberi pelajaran!" rahangnya megeras. Terlihat sekali kalau Kavi sangat marah sekali. Beruntung dokter keluar dan Kavi pun melupakan sejenak masalah Berbie si biang masalah tersebut.
"Bagaimana kondisi mereka, Dok?" Kavi khawatir pada bayi-bayi yang bahkan belum lahir itu.
Dokter menepuk pundak Kavi, kemudian mengangguk pelan. "Tidak ada apa-apa, semuanya baik-baik saja."
Jawaban dokter seketika membuat Kavi lega. Ia mengusap wajahnya dengan berat, kemudian masuk ke dalam. Saat masuk, Kavi sama sekali tidak bicara, ia hanya menatap Winda lama sekali, sampai Winda merasa bersalah.
"Maaf, ini salahku ... harusnya aku dengerin kamu. Harusnya aku nggak dekat-dekat dengan mereka ... aku hampir membuat mereka celaka," ucap Winda dengan mata yang sudah merah. Rasanya perih, ia hampir ingin menangis.
Kavi menarik napas panjang, tangannya terulur mengusap kepala Winda. "Lain kali ... tolong dengarkan aku saja. Kamu hampir membuatku mati karena jantungan."
Winda memalingkan muka, tidak mau dilihat Kavi saat menangis.
"Sudah, jangan menangis."
"Aku juga khawatir ... hanya karena aku ceroboh, mereka dalam bahaya."
"Tidak apa-apa, sudah ... yang penting kata dokter semua baik-baik saja." Kavi mengusap pipi Winda. Meminta istrinya itu tidak menangis lagi.
"Dan untuk masalah Berbie, sepertinya aku harus tegas," tambah Kavi.
Kali ini Winda tidak membela, sebab ia juga kecewa. Mengapa kebaikan dirinya dibalas dengan air tuba. Berbi malah hendak mencelakai dirinya dan janin dalam perutnya. Sungguh, ia tadi sangat khawatir kalai bayi kembar mereka kenala-kenapa.
***
Pulang dari rumah sakit, Kavi benar-benar memberikan pelajaran pada Berbi. Gadis itu harus menandatangani pernyataan untuk tidak mengusik keluarga mereka. Jika tidak, bukti rekaman CCTV di semua sudut rumah akan masuk ke pengadilan. Dan gadis itu bisa masuk penjara sewaktu-waktu, karena harus melawan Kavi yang jelas memiliki kuasa. Dan bisa melakukan apa saja.
Berbi mulanya sangat marah, tapi ketika melihat Tim pengacara Kavi, ia langsung menciut. Sepertinya keluarga suami kakaknya itu sangat kaya.
__ADS_1
Mulai saat itulah, Berbie dan ibunya tidak pernah mengusik Winda. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Berbi memilih jalan pintas. Mendapat uang tanpa kerja keras. Cukup merayu, menjual kecantikan dan bermulut manja.
Ya, Berbi memilih mencari sugar daddy untuk bisa membuatnya mendapat apa yang ia mau dengan jalan cepat. Meski mulanya jijikk, tapi karena cuan itu enak, ia pun semakin tenggelam dan larut dalam dunia hitam. Kumala tidak ambil pusing, selama Berbi bisa memberikan dirinya uang, ia tidak banyak komentar. Karena dalam hidup kumala, uang adalah nomor satu.
Begitulah kisah Kumala dan putrinya, yang tidak akan pernah bisa berubah karena mereka yang tidak mau berubah.
***
3 Bulan kemudian
Perut Winda sudah besar, sudah lima bulan tapi seperti 8 bulan saja. Mungkin karena sangat besar, bagaimana tidak besar, isinya kan ada tiga janin. Menurut hasil USG, menyebutkan bahwa anak yang dikandung Winda adalah dua laki-laki dan satu perempuan.
Kavi tentu sangat senang, dan untuk merayakan kebahagian itu, mereka sekarang liburan ke Bali. Sekali baby moon. Dan juga karena Winda pengen lihat pantai. Alhasil Kavi cuti seminggu ini untuk menemani Winda di pulau Dewata.
Apartment lama Winda
Malam ini Winda sedang rebahan di apartment miliknya. Sedangkan Kavi, pria itu sibuk memijit kaki istrinya dengan sayang.
"Jangan lama-lama di pantai, tuh bengkak kakinya." Kavi memijit penuh perhatian.
"Hemm!" Winda malah asik chat dengan Kadek. Sudah jam tujuh belum pulang.
[Kapan pulang? Jam berapa ini?]
Kadek kemudian membalas.
[Jangan kaya emak gue! Masih jam 7, gue lembur]
[Kangen lembur!] balas Winda dengan emot tertawa.
[Kalian makan malam duluan, gue paling pulang telat]
[OK] ketik Winda kemudian menyimpan ponselnya.
"Sayang, laper ... Ayo makan dulu," ajak Winda yang sudah meletakkan ponselnya.
"Lah? Tadi omelet?"
"Cumi saos madu? Cake? Sekotak ice cream?"
"Nasinya kan belum!" jawab Winda kesal.
Kavi hanya tertawa, ia memang suka mengofa istrinya itu. Winda makannya memang bar-bar. Mungkin karena untuk 4 orang. Jadi makan berapa saja masih lapar.
***
Di perusahaan
Ruang CEO
"Ini, Pak. Semua sudah direvisi sesuai yang Bapak minta," ucap Kadek pada Yudhistira yang serius menatap layar di depannya.
"Letakkan itu di sana," titah Yudhistira dingin.
Lima belas menit kemudian
Kadek sudah bersiap, ia sedang membersihkan meja kerajaan, tapi tiba-tiba telpon di meja menyala.
"Hallo, dengan Kadek. Iya, Pak?"
"Baik, saya ke sana sekarang."
Kadek mengambil napas panjang, kemudian mendesis kesal.
KLEK
"Bekerjalah secara professional! Grafik Kita menurun beberapa bulan ini. Dan apa ini? Bisa tidak bekerja dengan benar?" cetus Yudhistira sambil melempar berkas di atas meja.
__ADS_1
"Apa sudah Bapak periksa? Saya sudah periksa ulang, dan sudah sesuai, Pak."
"Kamu pikir aku yang salah? Hem?" Pria dingin itu melotot tajam, membuat Kadek ingin mengumpat dan mencolok mata itu.
"Baik, akan saya revisi lagi, Pak."
"Kerja sekali tapi benar, contoh tekan kerjamu yang lain. Revisi begini saja kau tidak becus!" sentak Yudhistira marah-marah.
Kadek membungkuk, kemudian mengambil berkas itu kembali. Ia lalu meninggalkan ruangan itu. Menatap koridor yang sudah sepi. Hampir semua karyawan sudah pulang. Ia yang masih lembur tapi saja semuanya tidak ada harganya. Kesal, ia mencengkram kepalanya sendiri.
Beberapa saat kemudian
Kadek memberikan hasil revisi miliknya, ia mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan.
"Pak Yudhistira? Pak ..."
'Apa aku masuk? Atau besok saja? Tapi dia itu pemarah sekali dan harus on time.'
KLEK
Dilihatnya Yudhistira tertidur sambil duduk di meja kerjanya.
"Astaga duda ini, apa dia tidak punya rumah untuk tidur?" gumam Kadek.
Kadek pun berjalan pelan, kemudian meletakkan map yang ia pegang di atas meja. Ditatapnya wajah Yudhistira yang terlelap.
"Kalau diam, dia ganteng juga, sih!" Kadek tersenyum tipis.
"Apa yang kamu lihat?" sentak Yudhistira yang seketika membuka mata.
Kaget, Kadek spontan mundur. Dan tangannya tidak sengaja menyentuh cangkir kopi, membuat benda itu jatuh ke lantai dan pecah.
"Ceroboh!"
Kadek buru-buru merapikan. Ia panik karena sepertinya bosnya akan marah.
"Hentikan!" Yudhistira meminta Kadek untuk membiarkan semua itu. Nanti tangannya bisa terluka. Baru juga berbicara, Kadek langsung mengaduh.
"Ish!"
....
Keduanya kini duduk di sofa yang sama. Yudhistira yang sangat dingin itu, mencoba mengobati jari Kadek yang terkena pecahan kaca dari cangkir.
"Aku bisa sendiri!" ujar Kadek. Namun, dia langsung diam saat duda dingin tersebut menatap tajam.
Kadek pun menundukkan wajahnya.
"Sudah!" ucap Yudhistira. Setelah itu ia bersandar pada sofa. Ia sepertinya sangat lelah.
"Terima kasih!"
"Hemm ... pulanglah. Ini sudah malam."
"Baik, Pak."
Kadek pun berjalan meninggalkan ruangan Yudhistira, tapi saat akan membuka pintu, pria itu tiba-tiba menawarkan sesuatu.
"Mau minum?"
Kadek berbalik, apa dia tidak salah dengar?
"Sudahlah, lupakan! Pergilah!" ucap Yudhistira dingin.
"Ayo!" Kadek menatap bosnya dengan berani. Bersambung
IG Sept_September2020
__ADS_1
Follow IG author Sept, tunggu GA selanjutnya. Jangan ketinggalan.