
Kekasih Bayaran Bagian 81
Oleh Sept
Bayangan Kavi bisa bulan madu penuh peluh akhirnya sirna sudah. Saat-saat bersama dengan istri barunya harus sedikit terganggu karena kehadiran sang ponakan di tengah-tengah mereka. Ingin mengumpat kesal tapi ponakannya begitu mengemaskan, alhasil Kavi hanya mampu menelan ludah.
***
Menjelang fajar, Kavi yang terbangun perlahan melirik ke sebelahnya. Kezia sudah tidur. Semalam anak manis itu memeluk Winda sampai terlelap.
Tanpa sadar, bibirnya mengulas senyum. Pria itu kemudian turun dari ranjang dan langsung menghampiri Winda.
"Win ... bangun," bisiknya pelan. Sudah seperti maling ayam yang takut ketahuan warga.
Sementara itu, Winda yang masih tidur pelan-pelan mulai mengerjap.
"Apa sudah pagi?" tanya Winda dengan suara serak karena baru bangun tidur.
Kavi menjawab dengan menggeleng pelan, lalu kembali mendekatkan wajahnya untuk mengatakan sesuatu. Kavi kucing-kucingan biar keponakannya tidak bangun.
"Masih gelap, ayo."
'Ayo? Ayo apa?' Winda yang belum genap 100 persen karena baru membuka mata, belum terkonek sempurna mencoba berpikir sejenak.
"Astaga!"
"Mumpung bocil masih anteng!" cetus Kavi kemudian langsung membopong tubuh Winda.
"Ke mana?"
Tidak banyak bicara, Kavi langsung membawa tubuh Winda pindah dan menjauh dari ranjang. Kavi berjalan beberapa langkah, kemudian membaringkan Winda di sofa yang memiliki pemisah berupa sekat rak putih setinggi badan.
"Nanti Kezia bangun!"
"Kita pelan-pelan saja."
"Nanti saja bagaimana?" Winda malah menawar, karena dia sebenarnya masih ngantuk.
"Gak bisa dipending," bisik Kavi yang sudah langsung menyerang leher Winda seperti vampire.
Hampir saja Winda menjerit karena kaget. Dan karena Kavi memaksa, akhirnya mereka melakukan dengan mode senyap. Hampir tanpa suara agar bocil tidak terbangun.
Tapi durasi tidak bisa lama, atau malah nambah. Yang ada mereka melakukan sesingkat mungkin, karena di dalam sana juga ada satpam yang sewaktu-waktu bisa bangun.
***
Sesaat kemudian
Kavi sudah rebahan di sofa, lumayan olah raga sebentar. Seketika pikirannya langsung rileks. Dan masih sesekali mengumpat Arjun. Bisa-bisanya mengirim Malaikat kecil untuk mengusik bukan madu mereka. Kavi baru bisa bernapas lega ketika matahari pagi mulai menyapa. Kezia bangun dan mencari mamanya. Setelah Winda mengantar keponakannya ke kamar sebelah, Winda pun balik ke kamarnya.
"Loh ... Kavi mana?" Winda menatap sofa. Hanya ada bantal dan kain selimut, tapi suaminya tidak ada.
Ia pun memindai seluruh ruangan, kosong. Kemudian terdengar gemricik air dari kamar mandi.
"Tumben pagi-pagi sudah mandi?" gumam Winda kemudian membuka kulkas untuk minum.
KLEK
Saat menutup pintu bersamaan dengan Kavi yang muncul. Terlihat segar habis mandi, apalagi rambutnya basah, dan hanya memakai handuk yang melilit di pinggang.
'Apa dia sedang menggodaku?' pikir Winda menatap sekilas kemudian kembali mengambil minum. Kavi seperti itu kok ia jadi salting sendiri.
Sedangkan pria itu, ia berjalan ke arah Winda kemudian tersenyum penuh makna.
"Sudah anter Kezia?"
Winda mengangguk.
"Sudah kunci pintunya?"
__ADS_1
Perempuan itu kembali mengangguk.
"Bagus!" ucap Kavi puas. Dan Winda merasa bingung tapi juga merasa terancam.
"Kav ... tadi kan sudah," ucap Winda lirih. Ia panik ketika pria itu melempar handuknya ke sembarang arah.
"Itu kan tadi!" celetuk Kavi tanpa merasa berdosa.
'Aduh!' Winda memalingkan wajah. Ia panik karena Kavi sama sekali tidak punya rasa malu.
Bukkk
Kavi langsung mendarat di atas ranjang empuk tersebut.
"Sini!" titahnya seperti raja. Dan Winda menggeleng.
"Apa mau aku gendong?" goda pria yang sedang dalam mode M tersebut.
Kali ini Winda menggeleng lebih cepat, dan membuat Kavi tersenyum lepas. Gemas, pria itu sedikit bergerak kemudian menarik lengan Winda. Dan itu berhasil membuat Winda jatuh di sebelahnya.
"Ayo bikin baby!" bisik Kavi yang spontan membuat Winda merinding. Tidak menunggu jawaban dari ajakannya itu, Kavi langsung saja melepaskan kancing baju Winda satu persatu.
Malu saat semua lembar demi lembar sudah dibuang Kavi, Winda memeluk tubuhnya sendiri. Takut dengan tatapan Kavi yang penuh rasa ingin tersebut.
Tapi mau ia tutupi serapat apapun, bukan Kavi namanya yang langsung menyerah. Sekali gigitan saja sudah membuat Winda oleng. Apalagi kalau Kavi sudah mengeluarkan jurus andalan, istrinya itu langsung melayang.
Begitulah bulan madu singkat keduanya. Pagi, siang, sore, malam mereka selalu gulat. Mereka bedua bermalam di sana hanya dua malam. Karena besok harinya Winda sudah harus masuk kerja.
***
Beberapa hari kemudian.
Gadhi dan Hanum sudah kembali, begitu juga dengan anak-anak mereka, karena Arjun dan Olivia juga masih banyak yang diurus di ibu kota.
Kavi sendiri akan balik beberapa hari lagi. Sebab ia juga harus bekerja. Sementara Winda, ia sudah rapi, cantik, wangi. Membuat Kavi tidak rela melepaskan istrinya untuk ke kantor.
Saat keduanya sarapan, Kavi masih mencoba membujuk Winda.
"Kita sarapan dulu." Winda mencoba mengulur waktu.
"Jangan mengalihkan perhatian ... ikut aku ya lusa. Aku pesankan ticket sekalian," bujuk Kavi.
"Lalu bagaimana dengan kerjaanku?"
"Bisa aku atur, kamu mau apa? Sekretaris pribadi, Manager, CEO, presdir?" tanya Kavi dengan nada bercanda.
Winda langsung menatap sebal.
"Tunggu, ada beberapa proyek yang aku tangani sendiri. Nanti kalau udah selesai, aku bakalan ikut kok."
Wajah Kavi langsung berseri.
"Lalu kira-kira kapan?"
Winda menyentuh dahinya, sembari melirik Kavi. "Emm ... mungkin 6 bulan."
"APA?" Wajah yang semula berseri itu langsung layu.
"Mana bisa aku jauh dari kamu setengah tahun? Astaga Winda ... kamu niat banget nyiksa aku!" protes Kavi.
"Ayolah, ini proyek terakhir. Habis itu aku mungkin resign."
"Iya terakhir ... tapi jangan setengah tahun."
"Nanti tiap minggu pas weekend Kita kan bareng lagi. Paling pisah cuma senin sampai jum'at."
"Gak ada! Gak bisa!" kekeh Kavi yang gak mau tidur tanpa guling yang bisa kentut tersebut.
Winda kemudian melirik jam tangan miliknya.
__ADS_1
"Aku udah telat. Kita lanjut ngobrol nanti. Aku berangkat dulu, ya."
Kavi diam, merajuk dan tidak bicara.
"Kav ... aku dah telat nih."
Kavi yang kesal karena harus LDR padahal sudah pasangan sah, malah memalingkan muka. Ngambek pada istrinya.
"Ish!" Winda medesis, kemudian langsung duduk di pangkuan Kavi.
"Sayang ... jangan marah-marah ya. Aku berangkat kerja dulu!" ucap Winda sangat manis. Kemudian menempelkan bibirnya pada bibir Kavi yang diam seribu bahasa tersebut.
CUP
Sangat singkat kemudian dilepas oleh Winda. Wanita itu berniat berdiri, tapi Kavi malah merengkuh pinggangnya erat.
"Kamu yang mulai duluan, ya!"
"Kavvv! Aku mau kerja."
Winda tidak bisa berkutik ketika Kavi langsung bertindak.
...
...
...
"Makanya, jangan bikin aku kesel!" ucap Kavi sambil mengancingkan bajunya.
Winda masih mengatur napas yang memburu, Kavi jahil sekali. Mau berangkat kerja malah dihukum. Untung hanya pemanasan tidak sampai inti. Tapi cukup membuat jantung mereka berdebar kencang.
"Aku antar, kamu kacau banget sekarang!" cibir Kavi dengan senyum meledek.
Winda hanya menghela napas panjang dan langsung merapikan rambut serta bajunya.
"Padahal aku ada meeting pagi ini," gerutu Winda.
"Meeting sama suami dulu. Itu yang bener," celetuk pria yang kini sudah duduk di balik kemudi. Ya, akhirnya Kavi mengantar Winda ke kantor.
Tiba di depan kantor, Winda menjaga jarak. Tadi mau mengecupp pipi Kavi saat akan pamit, tapi tidak jadi. Tegangan suaminya cukup kuat, Winda tidak mau ambil resiko. Bisa-bisa mobil mereka nanti bergoyang.
"Aku masuk dulu ya, dah telat banget ini."
"Hemm ... nanti telpon pas mau pulang. Aku jemput."
"Iya. Hati-hati di jalan."
Kavi mengangguk kemudian megusap pipi Winda.
"Masuklah!"
Winda pun keluar, begitu masuk banyak yang mengucapkan selamat padanya. Tapi tidak dengan Kadek, Kadek yang memilih menyewa rumah sendiri karena tidak enak dengan pengantin baru, ia pun menarik lengan Winda.
"Lo ke mana aja! Yang lain pada nunggu!"
"Sorry!"
"Tumben gak on time!"
"Nanti kalau dah nikah, lo juga tahu dan paham!" jawab Winda santai.
"Cih!" Kadek langsung mencebik. Winda pun terkekeh. Saat akan masuk ruang rapat, tiba-tiba ponselnya yang akan dimode silent mendadak berbunyi.
Sebuah telpon masuk, mungkin ini moment langka. Karena tidak ada angin atau hujan, nomor itu menghubungi dirinya lagi setelah bertahun-tahun lamanya.
"Siapa? Kalau penting angkat saja," saran Kadek.
"Ayah!" jawab Winda lirih.
__ADS_1
"Angkat nanti aja, ayo masuk!" ajak Kadek sambil menarik lengan Winda. Bersambung.