
Saat itu mereka masih berada di meja makan mereka sedang menunggu kedatangan Rasya yang telah pergi entah kemana. Pak Jerikho panik mencari-cari Rasya ia berkeliling di sekitar tempat itu tapi tidak di jumpai nya.
"Kemana sih anak itu bikin malu saja, anak tidak tau diri tidak tau sopan sama orang tua, apa maunya sebenarnya," omel Pak Jerikho.
Setelah puas berkeliling mencari Rasya tidak ketemu ia pun balik ke meja makan lagi.
"Maaf ya Pak, Rasya nya sudah pergi tak tau kemana mungkin ia ada keperluan mendadak," ucap Pak Jerikho menutupi sikap anaknya.
"Tidak apa-apa Pak, nama nya saja anak muda masih labil mungkin ia merasa malu pada kita yang mau menikahkan nya," sahut Papa Alek. Bella membuang muka ke arah papa nya karna masih melindungi Rasya.
"Apa sih maksud ucapan Papa sudah jelas-jelas Rasya pergi karna tidak mau di jodohkan pake basa-basi lagi. Syukurin deh Rasya nya pergi, jadi aku gak cepek-capek buat alasan ini, itu buat menolak perjodohan ini. Tentu nya Pak Jerikho punya mata melihat sikap aneh anak nya yang memalukan itu. Aku yakin setelah ini mereka akan kapok dengan sikap anak nya, tidak berani menunjukkan batang hidungnya lagi di hadapan kami," Bella tertawa dalam hati penuh kemenangan.
Pak Jerikho pamit pulang karna malu anak nya sudah pergi tanpa pamit padanya hati nya sangat dongkol saat itu pada anaknya Rasya karena sudah membuat nya malu di depan Papa Alek rekan bisnis nya yang ia segani itu.
Bella bernapas lega melihat semua nya sudah pergi.
"Papa lihat macam mana tingkah anak itu, apa Papa mau punya menantu seperti itu. Hah, sungguh memalukan seorang CEO tapi tidak punya ahlak aku berani jamin anak itu jika sikap nya tetap begitu maka ku pastikan bakal jadi perjaka tua seumur hidupnya siapa juga yang mau sama dia yah walaupun dia bergelar CEO tapi kalau tampang nya arogan dan dingin banget bagai kulkas tiga pintu siapa yang mau jadi istri nya dia," cibir Bella.
Papa Alek terdiam tapi membenarkan ucapan Bella.
Sekarang Bella merasa lega Pa mari kita pulang, buang-buang waktu saja di sini," ajak Bella.
Papa Alek mengiyakan ucapan Bella mereka pun beranjak dari tempat itu.
__ADS_1
Di tempat lain...
Dewa dan Laura saat itu tengah makan malam bersama keluarganya. Laura memperkenalkan Dewa pada semua keluarga besar nya. Ayah dan ibu Laura tidak berkutik melihat keberadaan Laura karna sudah menunjukan pacar nya pada mereka. Semua nya terdiam tidak lagi seperti yang sudah-sudah mereka selalu membicarakan masalah pacar dan perjodohan untuk Laura.
"Sekarang kalian percaya kan pada ku. Kalau aku sudah punya pacar. Kalian tidak perlu repot-repot lagi mencari kan ku calon pendamping karna akan sendiri yang akan memilih calon yang baik dan cocok dengan ku," ucap Laura penuh percaya diri menunjukan Dewa sebagai calon pasangan nya pada keluarga nya.
Dewa diam saja ia tidak tau akan berbuat apa kali ini dia benar-benar bingung harus berbuat apa ia sudah masuk perangkap Laura tidak bisa lari dari nya selain menuruti semua keinginan Laura. Dewa sudah di beri honor yang fantastik dan sudah mendatangani surat kontrak selama 6 bulan bersama Laura.
Jika dalam waktu 6 bulan Laura belum punya pacar sungguhan maka ia berhak memperpanjang kontrak kerja nya.
"Ini gila benar-benar gila!" batin Dewa.
"Bagaimana aku bisa hidup seperti ini hari-hari ku penuh dengan kebohongan. Bagaimana dengan nasib cinta ku. Aku sangat merindukan Bella. Bella maafkan aku yang tiba-tiba menghilangkan dari kehidupan mu. Sesungguhnya aku tidak sanggup harus berpisah dengan mu," ucap nya dalam hatinya.
Mereka keluar dan masuk mobil mewah yang sudah di sediakan Laura untuk Dewa.
"Dewa kenapa sih tiba-tiba ngajakin keluar?" tanya Laura.
"Jujur Laura, aku tidak sanggup harus membohongi Keluarga mu apalagi harus membohongi nenek mu seperti nya dia berharap sekali kamu segera menikah karena ia mengharapkan kamu akan memberikan nya cucu. Jika mereka benar-benar menikahkan kita bagaimana?" tanya Dewa panik.
"Itu tidak mungkin Dewa, aku punya seribu cara buat mengelabui mereka semua. Lagian siapa juga yang mau punya anak, aku masih ingin bebas gak mau ribet dengan urusan anak," cetus Laura yang menolak takdir sebagai seorang wanita.
"Kamu salah Laura, kamu itu seorang perempuan memang sudah sepantasnya kamu memberikan mereka keturunan apalagi itu permintaan seorang nenek yang sudah tidak berdaya. Sebaiknya kamu segera mencari pasangan Laura tidak mungkin kamu terus membohongi keluarga mu selamanya. Ingat umur mu sudah semakin menua kata orang jika menikah di usia yang terlalu dewasa akan kesulitan dapat anak. Apa kamu tidak mengkuatirkan hal itu?" ucap Dewa mengingatkan.
__ADS_1
"Aku tidak sama sekali mempermasalahkan hal itu, justru itu lebih baik aku bisa bebas dan akan tatap cantik tidak sibuk dengan urusan anak. Aku banyak duit aku bisa dengan mudah membeli anak jika aku mau tanpa harus melahirkan dan menikah." ucap nya sambil tersenyum sinis mendelikkan mata ke arah Dewa.
"Kamu perempuan aneh yang pernah ku temui Laura, kok ada ya orang seperti mu?" Dewa geleng kepala tidak habis pikir.
Laura membuang muka jengkel nya pada Dewa.
"Sudah lah Dewa, aku malas ngobrol dengan mu lebih baik sekarang kamu ke apartemen kamu saja aku mau bersenang-senang dengan teman-temanku ku. Sekarang aku antar kamu ke apartemen yah...?" pinta Laura.
"Laura aku bosan di apartemen apa aku boleh ikut dengan mu?" pinta Dewa.
"Apa? mau ikut?" kamu siapa ku? berani mau ikut dengan ku!" tolak nya. "Gak salah kamu mau ikut gabung dengan teman-teman ku? teman-teman ku semua nya perempuan lho... genit-genit lagi apa kamu mau jadi bulanan-bulanan mereka?" Lebih baik kamu di apartemen saja ya...," rayu Laura.
"Pliss Laura kali ini aja aku suntuk dan bosan banget di apartemen tinggal sendiri gak ada teman," lirih Dewa.
Laura jadi serba salah ia juga takut Dewa akan lari dari nya ia pun terpaksa mengajak nya.
"Oke boleh, asal kamu mau mendengar ucapan ku!" pinta Laura.
"Baik aku siap mendengar kan nya Laura," Dewa menurut.
"Oke! kamu boleh pergi dengan ku, tapi ingat kamu harus tutup mulut dan telinga mu di saat di sana apa pun yang kami lakukan dan kami bicarakan jangan pernah kamu aduin ke Keluarga ku apalagi kamu turut campur dalam urusan ku. Awas kamu kalau berani!" ancam Laura.
Dewa mengangguk tanda mengerti mereka pun pergi menuju tempat perkumpulan Laura dengan teman-temannya.
__ADS_1