
Naina merasa hatinya remuk redam, ia ingin sekali menemani Andre untuk saat ini. Membantunya melewati masa kritis. Tetapi kini, jangankan untuk menemani. Mendekat saja ia tak bisa.
Naina menatap ruangan Andre dari kejauhan, ada rasa bersalah yang teramat dalam, bulir bening mulai berdesakan untuk keluar. Membuat penglihatannya semakin kabur.
Secepat kilat ia menyeka sudut matanya, Naina berusaha keras untuk tak menangis lagi, ia mencoba untuk kuat.
Menjelang malam, jam besuk pun ditutup. Keluarga Kurniawan beranjak pulang, masih dengan air mata yang menggantung. Ayesha berusaha mengambil hati sang Nyonya dengan segala simpatinya.
Usai keluaraga besar itu pergi, tibalah lelaki yang sama sekali tak ingin ditemui Naina. Abbas, lelaki itu akan menjaga kakaknya malam ini.
Naina semakin resah, bagaimana caranya menemui Andre? Gelisah terus menghantuinya. Tiba-tiba ia merasa kepalanya seperti berputar, gadis itu terlalu lama berdiri di lorong. Tanpa mengisi tenaganya.
Bruk!
Limbung, Naina terjatuh ke lantai. Samar ia melihat seorang lelaki tengah berlari mendekatinya, bersamaan dengan kesadarannya yang mulai menghilang.
.
Gadis itu terbangun di ranjang pasien, ia terduduk kaget melihat siapa di sampingnya.
"Ngapain kamu di sini!" desis Naina.
"Nai, sampai kapan mau kayak gini? Maafin gue ya? Gue bener-bener udah tobat," lirih lelaki berambut gondrong itu.
Naina bergeming, ia membelakangi Abbas yang tengah menatap dengan harap. Sesak di dadanya mulai bermunculan, bulir kejora itu berdesakan untuk keluar lagi.
Secepat kilat ia usap sudut netranya, bergetar tubuhnya menahan isak yang coba ia tahan. Abbas menatap iba, pilu hatinya melihat Naina terluka.
"Nai, please ...."
"Kita udah berlalu Abbas, sampai kapan mau ungkit ini?"
"Sampai lo maafin gue, Nai."
"Gue udah maafin lo, please ... jangan lagi muncul di kehidupan gue," pinta Naina terisak. Menahan nyeri di ulu hati.
Abbas mengepalkan tangan erat, merasa tidak adil dengan dunianya.
"Gue gak bisa menyerah, Nai. Gue mau perjuangin cinta ini," ucap Abbas pilu.
"Cinta? Hah, bullshits!"
Abbas tak menyerah, ia melangkah ke hadapan Naina, menatap pijar yang penuh airmata itu dengan seksama.
__ADS_1
Menarik tangan lemah itu, menempelkannya di dadanya. Degup jantung yang memburu terasa di telapak tangan gadis itu.
"Nai, di antara miliaran orang, Tuhan pasti punya alasan khusus kenapa mempertemukan kamu ama aku. Kamulah alasanku, Nai. Alasan untukku hidup!"
Lagi, Naina bergeming. Ia menarik tangannya dari dada Abbas. Pikirannya kini berkecamuk antara masa lalu dan rasa khawatir memikirkan kondisi Andre.
"Stop, Abbas. Udah! Kepala gue sakit!"
"Nai, lo gak papa kan?" tanya Abbas cemas.
"Gue pengen ketemu, Andre," ucap Naina turun dari ranjang, melangkah keluar.
Abbas mengekori di belakangnya, meski hatinya hancur. Ia harus tetap mengizinkan gadis itu menemui sang kakak.
Naina berhenti di depan pintu ICU, rasa bersalah kembali menyelimuti. Ingin masuk, tapi seolah tertahan oleh sesuatu.
Naina menatap Andre yang tergolek lemas dari balik pintu kaca. Ada rasa sedih luar biasa melihatnya tak berdaya. Naina rindu senyumnya yang hangat.
'Ndre, kapan kamu bakal bangun?' batin Naina pilu.
Abbas yang melihat itu pun merasa teriris-iris. Perasaannya berkeping, tapi ia juga tak mampu untuk menyerah.
Naina membuka pintu itu perlahan, ia masuk dan melangkah ke sisi ranjang. Menggenggam jemari Andre yang terasa seperti es. Dingin.
"Kalau gue yang ada di sana, apa lo juga bakal khawatir kek gini, Nai?" lirih Andre.
Abbas memilih duduk di luar, tak sanggup lagi melihat keduanya bersama dalam satu ruangan. Meski sang kakak hanya mampu terdiam.
Malam kian larut, udara malam terasa semakin dingin. Setengah jam berlalu, gadis itu masih terpekur di sisi ranjang. Entah apa yang tengah ia pikirkan.
Abbas masuk, memakaikan jaketnya pada Naina. Gadis itu mendongak, matanya tampak sembab. Sepertinya ia terus menerus menangis.
"Nai, makan dulu ya? Tadi lo pingsan gara-gara belum makan 'kan?"
Abbas menyodorkan bubur ayam yang baru saja ia beli, menerobos hujan yang turun dengan tiba-tiba. Satu yang Abbas ingat, Naina harus baik-baik saja.
Gadis itu menatap Abbas, kemudian menggeleng lemah.
"Gue gak selera makan."
"Gue suapin ya," ucap Abbas membuka kotak makan itu.
Mulai menyendok dan menyodorkannya ke Naina. Gadis itu menatap mata elang Abbas, yang dilihat pun mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Naina membuka mulut dan menerima suapan dari Abbas, lelaki itu tersenyum. Bersyukur gadis itu masih mau makan barang sedikit.
.
Tiga hari pun berlalu, Andre masih begitu tenang dalam tidur panjangnya. Naina hanya bisa berkunjung saat tengah malam, saat seluruh keluarga Kurniawan beranjak pulang.
Selalu seperti itu selama tiga hari terakhir, begitu pula Abbas akan selalu menemaninya setiap malam menjelang.
Walau harus merasakan sakit tapi tak berdarah setiap melihat Naina bersama sang kakak. Abbas tetap bertahan untuk memperjuangkan perasaannya.
Berharap suatu saat gadisnya menyadari, bahwa hanya dia seorang yang telah bertahta di palung hati. Sudah terlalu dalam, sampai tak bisa dikeluarkan lagi.
.
Malam ini, seperti biasa, usai keluarga Kurniawan pulang ke hotel. Seorang dokter spesialis otak tengah memeriksa kondisi Andre. Pria paruh baya dengan jas putih itu mulai mengecek setiap titik vital.
"Bagaimana keadaanya, Dok? Apa ada kemajuan?" tanya Naina gusar.
Dokter itu menghela napas berat, menatap iba pada Naina. Kemudian mulai menjelaskan.
"Cedera otaknya lumayan parah, sehingga ia tak kunjung sadar."
"Benturan di kepala yang cukup keras, serta banyaknya darah yang hilang, semakin membuat kondisinya bertambah parah. Pemulihanya lambat, hanya keajaiban yang bisa menyambung nyawanya," lanjut dokter itu murung.
Naina menutup mulut karena terkejut, ia tak menyangka akan separah ini. Usai menjelaskan, dokter itu pun berlalu pergi.
"Nai, lo harus kuat," lirih Abbas memegang bahu Naina yang hampir limbung.
"Abbas, ini pasti gara-gara gue kan? Gue emang pembawa sial," isak Naina dengan airmata berderai.
"Nai, itu semua gak bener. Lo sama sekali bukan pembawa sial, jangan dengerin omongan jelek dari siapapun!"
"Abbas, gimana ini? Rasanya aku ingin menyerah," lirih Naina.
"Nai, lo jangan mikir aneh-aneh deh. Jangan sampai lo nyia-nyiain nyawa yang udah dilindungi ama abang gue!" hardik Abbas tak sabar.
Lelaki itu kalut, ia sangat takut jika Naina terus menerus menyalahkan diri sendiri dan berniat mengakhiri hidupnya, jangan sampai itu terjadi.
"Hwaa! Huhuhu."
Naina menjerit, menangis frustrasi. Abbas merengkuhnya dalam pelukan, mencoba menenangkan gadis itu.
Dalam hati Abbas merasa perih, tak mampu berbuat sesuatu untuk Naina. Lelaki itu benar-benar merasa payah.
__ADS_1