Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
Kelemahan Pria


__ADS_3

Kekasih Bayaran Bagian 87


Oleh Sept


Puas cari hiburan guna melepaskan stress, Winda dan Kadek sekarang seperti maling ayam yang tertangkap hansip. Malam sudah larut dan keduanya baru pulang, jelas mengundang curiga pada si penanya. Curiga pasti, sebenarnya dari mana mereka berdua.


"Kok di sini?"


Winda mencoba berdiri tegap, padahal tadi sudah mengantuk.


"Dari mana?" Suara dingin ini terlontar sekali lagi. Hanya pertanyaan biasa tapi cukup membuat Winda tidak enak hati. Karena ketahuan kelayapan oleh sang suami. Baru juga satu hari ditinggal, Winda sudah pulang terlambat.


"Cuma ke mall, Kita main di timezones," sela Kadek yang merasa ketegangan antara pasangan pengantin baru itu.


"Hanya mall?" tanya Kavi dingin sembari menatap wajah istrinya, ia ingin Winda yang menjawab bukan Kadek, bikin kesel Kavi saja.


Sementara itu, Winda langsung melirik Kadek. "Kita main bentar tadi, gak aneh-aneh kok. Iya kan, Dek?"


Seketika Kadek langsung mengangguk. "Iya, cuma ke karaoke nyanyi-nyanyi doang," timpal Kadek.


"Kalian ke tempat karaoke? Ngapain?" Kavi mukanya langsung masam, sikapnya yang biasanya hangat sekarang langsung dingin, membuat dua wanita di depannya langsung meriang karena pilek. Mungkin lelah bolak-balik Jakarta Bali, Kavi jadi snewem sendiri.


"Cuma nyanyi, Sayang! Jangan mikir aneh-aneh. Bisa cek CCTV kalau aku boong. Udah yuk, kita masuk. Aku capek banget, kamu juga pasti capek, kan?" Winda mencoba merayu suaminya.


"Ya sudah, gue balik Win, Mas Kavi." Gak mau jadi obat nyamuk, Kadek memilih pergi.


"Sudah malam, udah nginep di sini aja!" pinta Winda. Sebenarnya Winda cari teman agar tetap aman.


"Gak, gue pulang aja!" jawab Kadek tidak enak dengan tatapan Kavi yang super dingin itu.


"Kalian masuk! Sudah malam! Kalian ini perempuan, harusnya tidak kelayapan jam seperti ini!" omel Kavi seperti bapak-bapak dan dua wanita itu adalah putrinya yang ketahuan pulang malam.


Winda langsung menarik lengan Kadek, mengajaknya masuk ke apartment miliknya.


"Win, ngapain gue ikut? Bakal rusak pikiran gue!" gerutu Kadek sambil berbisik.


"Sialannn lu!" balas Winda sambil berbisik pula. Keduanya berjalan di belakang Kavi yang melangkah duluan di depan.

__ADS_1


"Mending gue kabur sekarang!" bisik Kadek lagi.


"Lo gak lihat mata suami gue? Gue takut. Udah sini aja. Temenin gue."


"Ogah, Win. Suami lo serem kalau marah, gue ngeri!" bisik Kadek dengan nada meledek.


"Gussi keluarin produk baru, ikut gue sekarang nanti gue beliin satu."


"Lo lagi nyuap gue, Win?"


Bisik-bisik mereka berhenti ketika Kavi berbalik dan berdehem.


"Astaga, suami lo garang banget, Win."


Winda langsung tersenyum, kemudian masuk saat Kavi sudah membuka pintu. Sebelum masuk, Winda sempat berbisik lagi.


"Iya, suami gue memang raja garang!"


"Sialll!"


***


Di dalam kamar Winda dan Kavi.


"Kenapa mesti ke karaoke? Kamu tahu nggak? Di sana banyak pria-pria nggak bener!" ujar Kavi kesal.


"Cuma pengen teriak-teriak ngelurain setres, udah dong marahnya. Jauh-jauh datang ke sini masa cuma mau marah? Sayang waktu, tenaga dan pikiran juga," ucap Winda sembari meletakkan tas, dan melepaskan jam tangan Gussi miliknya.


Winda kemudian ke kamar mandi, ia ingin cuci muka sebentar biar kelihatan segar. Dan saat balik, suaminya duduk di tepi ranjang dengan tatapan masih sama. Sepertinya marahnya Kavi berjilid.


"Ayolah, jangan marah. Toh aku nggak pergi sama pria lain. Cuma sama Kadek, sumpah!"


"Kamu resign aja, ikut aku ke Jakarta!" ucap Kavi tegas. Hal itu jelas membuat Winda panik. Karena dia sudah bilang akan selesaikan proyek dulu maksimal 6 bulan ini.


"Kav, jangan gitu dong."


"Pikirkan baik-baik!"

__ADS_1


"Kavi, kamu kok jadinya maksa begini? Jangan begini, Kavi!"


"Aku bilang pikirkan baik-baik, kamu gak mikir bagaimana aku harus bolak-balik karena tubuhku di sana dan pikiranku terpecah di sini?" Kavi menghela napas panjang.


"Aku gak bisa LDR!" sambung Kavi tegas.


"Hanya enam bulan, aku janji setelah proyek selesai, aku ikut kamu."


"Satu hari tahu kamu dalam masalah saja sudah nyiksa, apalagi 180 hari? Aku juga butuh fokus pada kerjaan, Win! Bagaimana bisa aku kerja sedangkan pikiranku ke mana-mana gak tenang. Jadi, lepas saja semua proyek apapun itu. Sebulan, aku kasih sebulan!" ucap Kavi tegas.


'Astaga, kenapa dia jadi tegas sekali. Ini suamiku, kan?' Winda bertanya-tanya dalam hati.


"Mana bisa satu bulan?" Winda mencoba menawar.


"Aku gak mau tahu!"


Mungkin ada benarnya, bicaralah saat kepala sedang dingin. Sebab kalau kepala lagi panas, yang keluar kebanyakan adalah emosi yang meledak-ledak.


"Kamu kok jadi egois banget sekarang!" protes Winda pada suaminya.


"Mungkin kamu lelah, kita bicara lagi besok. Dan ini sudah malam," sambung Winda yang tidak mau malam ini harus ribut sampai pagi. Malu juga ada Kadek, pasti mendengar keributan mereka.


Kavi melipat tangan, masih memasang muka galak.


'Lihat wajahnya, astaga masam sekali. Oke ... sepertinya dia juga butuh hiburan!' batin Winda kemudian berjalan di depan Kavi. Sampai hanya berjarak satu meter, Winda langsung menarik dasi pria tersebut. Ia baru sadar, sepertinya Kavi pulang kerja langsung terbang ke Bali.


"Jangan merayu, itu gak akan merubah keputusanku!" cetus Kavi super dingin seperti air di sungai Aare, Swiss.


'Yakin?' batin Winda yang langsung meruntuhkan dinding pertahanan Kavi.


Winda melingkarkan lengannya di leher pria tersebut, kemudian langsung menempelkan bibir. Dan itu membuat Kavi seketika menyerah. Bersambung


Suami marah-marah? Udah, serang aja. Siapa tahu bommm langsung jinak. Unfaedah.



__ADS_1


__ADS_2