
Malam itu tiba lah Papa Alek dan Bella ke tempat yang telah mereka tentukan dengan keluarga Pak Jerikho. Setelah menunggu kurang lebih 20 menit baru mereka sampai. Dari kejauhan Pak Jerikho dan istrinya memasang senyum untuk Bella dan Papa nya tapi tidak dengan Rasya. Ia berjalan dengan santai nya tidak ada senyuman sama sekali di wajah nya. Wajahnya tampak masam dan pandangan nya sinis membuat semua orang segan menatap mata nya yang indah itu. Tampang macho, namun tampak dingin dan sombong itulah yang membuat Bella tidak menyukai Rasya.
"Selamat malam Pak Alek," sapa Pak Jerikho.
"Iya selamat malam juga, makasih sudah mau datang silakan duduk...," ucap Papa Alek ramah.
Mereka pun duduk.
Seperti biasa Rasya menyemprot pembunuh kuman (sanitizer) terlebih dahulu di bangku yang akan di duduki nya sikap sok bersih nya membuat Bella pangling.
Papa Alek segera memesan makanan dan minuman ia menyodorkan daftar menu ke arah Pak Jerikho dan isteri nya. Mereka memilih makanan dan minuman masing-masing dan bergiliran.
"Bella sapa dong tamu kita," ucap Papa Alek.
Bella tersentak mendengar ucapan papa nya ia pun mengalihkan perhatian nya yang dari tadi memperhatikan sikap aneh Rasya si pria perpeck yang membuatnya risih itu.
"Malam Om, Tante...," sapa Bella ramah sambil bersalaman.
"Malam Bella... cantik sekali malam ini," ucap istri Pak Jerikho yang bernama Melani itu.
Bella tersipu malu mendapat pujian dari Buk Melani.
Raut wajah Rasya tampak datar dan tidak sama sekali ada respon dari nya. Ia enggan membuka mulutnya untuk menyapa.
"Lho kok cuma Om dan Tante saja yang di sapa Rasya ya juga dong... gimana sih kamu," ujar Papa Alek pada Bella.
"Hem..." Bella melihat papa nya dengan tatapan tajam tanda ia tidak mau.
Buat apa juga menyapa es balok, sudah tentu dia gak mau jawab sapaan hah, buang-buang energi aja, batin Bella.
"Bella, ayo sapa Rasya nya!" pinta Papa Alek.
__ADS_1
Papa Alek memperhatikan raut wajah Rasya ia sedikit tersenyum pada Papa Alek tapi tidak sama sekali pada Bella.
Dasar cewek munafik bilang aja kamu gengsi menyapa aku. Aku juga gak kan sudi menyapa mu lebih dulu. cibir Rasya dalam hatinya.
"Maaf semua. Aku ke toilet dulu," ucap Bella tiba-tiba. Semua menoleh ke arah Bella. Bela pun berlalu.
"Ihh.... nyebelin banget sih dia." tampak Bella mengepalkan tangannya gregetan melihat sikap Rasya. Rasanya ia ingin pergi dari tempat itu namun tidak enak dengan Pak Jerikho dan istrinya.
"Ya Tuhan... manusia seperti apa sih dia? kok aku baru kali ini menjumpai mahluk seperti dia," ucap Bella dengan sendirinya. Saat itu Bella berpura-pura ke toilet karena ia begitu risih dengan sikap Rasya yang sombong dan sok jual mahal, sok bersih itu. Bella berdiam diri di kamar kecil itu membuang napas kasar nya karna menahan emosinya melihat sikap Rasya yang nyebelin menurutnya itu.
Bella di chat papa nya untuk segera balik ia juga memarahi Bella kenapa lama sekali ke toilet nya.
Bella pun pergi meninggalkan kamar kecil dan kembali ke depan.
"Hugh, Papa bikin nyesek aja udah tau aku benci banget sama Rasya pake ketemuan segala lagi."
Bella segera pergi kembali ke bangku nya. Semua tersenyum melihat kedatangan Bella.
"Iya gak apa-apa kok, kamu tampak sungkan sekali pada kami bukan kah kita sebentar lagi akan jadi besan," ucap Pak Jerikho.
Bella yang saat itu minum tiba-tiba keselek
"Emang nya aku Gila apa, mau nikah dengan anak kamu yang seperti patung itu! ih gak banget... lebih baik terjun ke jurang dari pada harus menikah dengan dia," umpat Bella di dalam hatinya.
Bella benar-benar tidak menyukai Rasya begitu pula dengan Rasya ia juga tidak menyukai Bella bahkan ia jijik dan memandang rendah Bella yang sebenarnya ia sudah punya gebetan saat itu.
Rasya terus memandangi Bella dengan sinis. "Beda jauh dengan Laura bagaikan langit dan bumi. Laura ada dimana ya...?" batin Rasya.
Ternyata Laura adalah cewek incaran Rasya saat itu ia berjuang ingin menaklukan hati wanita bernama Laura itu.
Papa Alek dan Pak Jerikho saling mengobrol dari tadi tapi Bella cuma diam saja sibuk dengan pikirannya sendiri sama sekali ia tidak tertarik obrolan mereka.
__ADS_1
Setelah beberapa saat mengobrol. Timbul di benak Papa Alek ingin mengutarakan maksud dan tujuannya nya yang sebenarnya mau membatalkan perjodohan itu tapi tiba-tiba Pak Jerikho menetap kan tanggal pertunangan Bella dan Rasya. Bella tersentak dan Rasya juga kedua nya saling memandang dengan tatapan sinis.
Buk Melani yang dari tadi memperhatikan Bella dan anaknya tampak aneh seperti nya ia mengetahuinya kalau keduanya tidak saling menyukai. Ia pun menyanggah ucapan suaminya.
"Pa, sebaiknya kita tanyakan dulu pada anak-anak apa mereka sudah siap atau belum?"
"Iya saya setuju dengan Ibu Melani," ucap Papa Alek ikut nimbrung.
Bella menatap tajam Papa nya ia memberi isyarat kalau ia tidak mau tunangan.
Papa Alek mengedipkan mata nya menyuruh Bella jaga sikap di depan tamu. Bella pun menunduk ingin menagis.
"Bagiamana dengan mu Rasya, apa kamu siap kalau kalian akan tunangan bulan depan?" tanya Pak Jerikho.
"Kok tanya aku sih Yah, semua nya kan Ayah yang atur aku mau buat apa? selain menerima keputusan Ayah," jawab nya sinis.
"Rasya?" mama nya meredakan sikap Rasya.
Rasya pergi di hadapan semua orang. Mama nya menahan langkah Rasya tapi dia tidak memperdulikan mamanya.
Dari sikap Rasya Papa Alek menyimpulkan kalau Rasya bukan anak yang baik, tidak sopan sama orang tua dan sikap nya juga tampak arogan. Ia jadi semakin yakin kalau Rasya bukan yang terbaik bagi Bella.
"Pa sebaiknya lain kali saja kita bicarakan lagi, kita harus bicara dulu pada anak-anak Pa, iya kan Pak lebih baik begitu bukan?" tanya Bu Melani pada Papa Alek.
"Saya setuju pada ucapan Ibu, bukan apa yang mau menikah bukan kita, jadi jangan sampai kita membuat anak-anak kecewa pada kita," ucap Pak Alek menyindir Pak Jerikho yang sepertinya menguasai anak nya Rasya.
"Mereka berdua harus bicara empat mata mau atau tidak nya bukan begitu Ibu..." tutur Papa Alek memberi masukan.
"Yah sudah kalau begitu. Antara Bella dan Rasya harus memberikan jawaban nya juga saat ini," ucap Pak Jerikho.
Bella yang terdiam dari tadi merasa pusing mendengar semua pembicaraan mereka sedangkan Rasya entah pergi kemana.
__ADS_1