Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
Cuma KAVI


__ADS_3

Kekasih Bayaran Bagian 65


Oleh Sept


Semua menjadi sangat kacau ketika berbicara dengan hati yang terlanjur panas. Apalagi keduanya sama-sama keras. Baik Winda atau Kavi sama-sama ingin dimengerti, tidak ada yang mau mengalah. Bukannya dibahas dengan kepala dingin, keduanya malah debat sampai Winda menyerah.


Ya, tanpa pikir panjang Winda melepas cincin yang sudah dipasang oleh Kavi di jari manisnya. Hal itu jelas membuat Kavi kecewa. Seolah Winda sama sekali tidak menghargai dirinya. Bahwa perasaan pria itu sepertinya tidak ada artinya.


"Kamu yakin tidak menyesal?" tanya Kavi sebelum Winda benar-benar pergi. Wajah Kavi berubah mengeras. Ia menatap tajam pada cincin yang ada di depannya.


"Aku gak mau kita ribut, kita bicara saat kita sudah tenang. Dan maaf, aku harus pergi." Winda meraih tas dan berlalu meninggalkan Kavi begitu saja.


Kavi mengambil cincin itu, kemudian menggenggam benda itu dengan sorot mata penuh kemarahan. Ia memejamkan mata rapat-rapat, kemudian berdiri dan menyusul Winda.


"Tunggu!" Kavi memegang pergelangan tangan Winda.


"Kavi, aku gak mau ribut lagi. Plisss ... aku butuh waktu untuk mikir," pinta Winda yang sepertinya tidak mau berdebat. Hanya membuatnya setres.


"Aku balik besok!" Kavi melemaskan pegangan tangannya. Kemudian memberikan cincin itu lagi. Tapi tidak ia pakaikan.


Winda pun tertegun, tapi tidak mau menatap mata Kavi.


"Simpan ini! Jika kamu gak mau memakainya! Kamu boleh membuangnya!" ujar Kavi dengan suara parau. Pria itu kemudian berjalan terlebih dahulu mendahului Winda yang berdiri diam terpaku dengan cincin yang kini ada dalam genggaman tangannya.

__ADS_1


Winda membuka tangannya, ia tatap cincin itu dengan perasaan dilema. Harusnya ia senang, atau harusnya ia sedih atas pertengkaran mereka yang terjadi barusan?


***


Apartment Winda, saat makan malam.


"Kenapa murung banget, ayo makan yang banyak!" seru Kadek yang melihat Winda hanya memutar-mutar sumpit di atas spaghetti buatannya.


"Keasinan, ya? Gak enak?" tanya Kadek lagi.


Winda hanya menundukkan wajahnya, tidak menatap lawan bicaranya.


"Win ... lo nggak apa-apa, kan?" Kadek makin curiga. Karena wajah Winda malah semakin tenggelam. Kemudian terdengar isak tangis.


Kadek panik, ia langsung menyingkirkan piring berisi spaghetti yang baru habis separuh.


"Lo inget ibu loh? Ya ampun ... Winda!" Kadek memeluk Winda kemudian mengusap punggung temannya itu.


Sepuluh menit berlalu, Winda yang memang jarang menangis, malam ini tidak bisa menahan rasa di hatinya. Ia takut menikah, tapi takut juga jika Kavi tidak menganggu dan berhenti mengusik hidupnya lagi.


"Cerita sama gue, elo kenapa? Sudah ihklasin ibu loh. Beliau lebih damai, nggak tersiksa lagi batinnya," ucap Kadek mencoba menenangkan Winda. Padahal Winda menangis karena hal lain.


Srottt ...

__ADS_1


Winda menyusut hidung. Kemudian meraih tisu.


"Kavi ngajak gue nikah," ucap Winda kemudian. Tapi ia masih sesengukan. Suaranya serak, sesekali menyusut hidung.


"Lha? Diajak nikah kok lo nangis kaya ditinggal mati?" celetuk Kadek sambil mengeluss da da. Hampir saja ia panik melihat Winda tiba-tiba nangis tidakak jelas.


"Gue takut, Dek! Gua belum siap nikah! Dan lagi ... mamanya Kavi nggak pernah suka sama gue!" Winda yang terlihat kuat di luar, malam ini ia menangis lepas di depan sahabatnya.


Sampai Kadek tidak tega, dan penasaran mengapa orang tua Kavi tidak setuju. Bukannya Winda wanita pekerja keras, wanita baik-baik, tidak aneh-aneh. Orangnya tulus dan hampir tidak ada minus. Lalu mengapa ia ditolak?


"Maaf ... tapi kenapa orang tuanya gak setuju? Maaf ... aku hanya penasaran."


Air matanya malah semakin deras, menyeberangi kedua pipinya. Ia menjawab sambil menahan sakit.


"Ibu gue nggak gila, Dek ... ibu gue paling baik ... dia juga wanita baik." Tidak banyak kata yang bisa ia jelaskan pada sahabatnya itu, Winda lalu tersedu. Menangis sesengukan. Hanya karena ibunya frustasi dan dibawa ke rumah sakit jiwa, beberapa orang menatapnya seolah ia memiliki aib. Harus dijauhi karena memiliki ibu yang gila. Tidak layak mendapat pendamping seperti Kavi. Ternyata kata-kata Hanum merasuk sampai hati Winda.


"Meski gue tidak pernah mengenal beliau, gue yakin ... beliau pasti orang baik. Kalau memang orang tua mas Kavi tidak setuju karena hal itu, tidak usah dipaksakan. Banyak yang menerima lo dengan terbuka. Udah ... jangan tangisi. Banyak pria lain yang antri. Yang bakal bisa buat lo bahagia."


Tangis Winda malah semakin pecah. "Tapi gue sukanya cuma sama Kavi ..."


BERSAMBUNG


__ADS_1


__ADS_2