Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran
15


__ADS_3

Lampu kerlap-kerlip dan keramaian menyapa mereka. Sungguh pemandangan malam yang indah.


Mereka segera memarkir mobil, Andre melihat kejora itu tampak berbinar tak sabar.


Naina segera menarik tangan lelaki itu tanpa sadar.


Pasar malam, banyak sekali aneka souvenir dan barang antik yang dijual. Keduanya melihat-melihat dan berhenti di sebuah toko yang menjual baju batik dan aneka kaus khas Malioboro.


"Ndre, beli kaus itu yuk," ajak Naina semangat.


"Ayo, mau yang couple gak?" tanya Andre memancing reaksi Naina.


"Emm, boleh deh."


Andre tersenyum senang, mereka memilih dua pasang kaus bertuliskan 'I Love Malioboro' dan 'I Love Yogyakarta'.


"Nai, coba liat tulisan ini, salah tulis nih" ucap Andre menunjuk baju yang ia pegang.


Gadis itu menoleh dan menatap bingung pada Andre.


"Apanya yang salah?"


"Harusnya kan bukan begini, tapi 'I Love Naina'," ucap Andre tersenyum hangat.


"Apa sih, Ndre," sahut Naina malu-malu meong.


Andre merasakan debar di dadanya terus meningkat, begitu pula Naina yang berusaha keras meredam detak jantungnya yang mulai menggebu.


"Nih, motif batiknya bagus. Cobain gih," titah Andre menyerahkan dua pasang baju batik. Mengurai rasa canggung.


Naina mengangguk dan berjalan ke ruang ganti yang di sediakan. Lima menit kemudian gadis itu keluar, membuat sepasang mata elang itu terperangah karena kagum.


"Gimana?"


"Cocok, cantik banget," gumam Andre.


Naina tersipu, ia memang sering mendapat pujian cantik dan sebagainya. Tapi entah mengapa, pujian dari Andre terasa berbeda. Hangat dan tulus. Membuatnya terus berdebar.


"Mbak, bungkus semua ini ya," ucap Andre menunjuk tumpukan baju yang dicoba Naina.


Usai berbelanja baju, mereka menuju tempat souvenir dan barang antik. Ada kalung, gelang, gantungan kunci dan masih banyak lagi.


"Ndre, yang ini lucu, lihat," seru Naina senang.


"Pak beli yang ini ya."


"Ish, aku kan gak minta beli," sungut Naina.


"Gak papa, orang aku yang pengen," jawabnya santai.


"Ish."


Raut wajah Naina berubah merah, ia kembali dibuat salah tingkah. Kesal tapi gak bisa marah.


Keduanya berjalan menikmati malam, lelah berkeliling, Andre memutuskan mengajak Naina pulang.

__ADS_1


Mobil kembali melaju menuju losmen, hanya butuh waktu sekitar tiga puluh menit.


Sesampainya di penginapan, Andre mengeluarkan belanjaan dan membantu gadisnya membawa barang.


"Makasih ya, Ndre."


"Gak masalah, ini ringan kok," sahut Andre gugup melihat Naina tersenyum padanya.


Memutar kunci, menaruh barang, kemudian merebahkan diri di kasur masing-masing. Lelah, tapi menyenangkan. Itulah yang dirasakan keduanya.


"Nai, seandainya kita bisa jalan bareng kayak gini terus, kamu mau gak?" tanya Andre tiba-tiba.


"Maksud kamu gimana?"


"Jadi pendamping hidupku."


Naina terdiam, pertanyaan ini tak pernah ia duga sebelumnya, memang mereka lebih dekat akhir-akhir ini. Tetapi gadis itu tidak memiliki jawaban yang pas saat ini.


"Boleh aku pikir dulu?" tanya Naina ragu.


"Baiklah, jangan sungkan untuk bicara jika kamu sudah ada jawaban."


Terimakasih."


Lelaki itu mengangguk, Naina pamit tidur. Walaupun tersenyum, sebenarnya hati lelaki itu terasa amat perih. Kenapa tak langsung iya? Apa gadis itu tak memilik perasaan yang sama?


Pikiran Andre kalut, ia benar-benar takut jika ditolak. Ia tak ingin menyiakan kesempatan untuk bersama Naina. Gadis yang telah lama mencuri hatinya.


.


Di sisi lain, Abbas tengah kalut mencari Andre dan Naina. Saat mengunjungi apartemen, tidak ada sahutan sama sekali. Bahkan security sempat mengatakan bahwa keduanya membawa koper.


"Gue udah muterin seisi Bogor kagak ketemu juga, sialan!" umpat Abbas memukul stir mobil.


Lelaki itu berhenti di jembatan pinggiran kota, tempat ia pertama kali bertemu Naina. Suasana sangat sunyi dan sepi karena telah memasuki waktu tengah malam.


Hanya satu dua mobil saja yang terkadang lewat. Lelaki itu termenung, menatap foto gadis itu di galeri hp nya.


"Nai, lu di mana sih?"


"Tega banget, kalian kawin lari kah?" oceh Abbas asal.


"Gimana nasib gue?"


Pikiran-pikiran aneh mulai menggelayuti Abbas, lelaki itu tak pernah berpikir bahwa gadis itu akan menghilang untuk kedua kalinya. Apalagi sama abangnya, dia benar-benar tidak rela.


"Sorry, Bang. Mulai hari ini kita bakal jadi rival sesungguhnya!" seru Abbas menggema di sekitar jembatan.


Abbas membanting stir, menuju kediaman Kurniawan, pulang.


Kicau burung di sekitar losmen terdengar bising, dinding yang terbuat dari kayu membuat suara di luar pun dapat terdengar.


Andre mengerjap kala sinar mentari masuk melalui celah jendela, ia terduduk dan menatap Naina yang masih bergelung selimut. Sepertinya jalan-jalan semalam telah menguras tenaganya.


Ia berjalan mendekat, menatap wajah gadisnya yang tampak selalu cantik di matanya.

__ADS_1


"Nai, jadi istri gue ya?" pintanya lirih.


Gadis itu menggeliat, seolah bisa mendengar apa yang dikatakan lelaki itu. Andre terkekeh kemudian bangkit ke kamar mandi.


Naina membuka mata kala mendengar suara percikan air, matanya membulat sempurna kala mendapati Andre hanya mengenakan handuk di pinggang.


'Wih, cogan,' batinnya.


"Nai? Udah bangun? Sorry, aku lupa bawa baju ganti.


"Omaigat, gimana sih, Ndre!" pekiknya sadar, kembali pada kenyataan seraya menutup mata.


"Nanti kalau kita nikah, kamu bakalan sering lihat kaya gini juga kan," goda Andre membuat pipi Naina terasa panas.


"E-emangnya siapa yang mau nikah sama kamu!" seru Naina menutupi kegugupannya.


"Jadi gak mau nih?"


"Ish, apaan sih, Andre!" sungutnya kesal.


"Hahaha."


Andre terkekeh melihat reaksi Naina, wajahnya yang putih bersih kini berubah jadi merah jambu. 'Sungguh menggemaskan', batin Andre.


Naina pun ngeloyor ke kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya, tak peduli Andre terus menggodanya. Meski sebenarnya tersentuh juga.


Usai mandi dan bersiap, Andre mengajak Naina untuk segera berangkat agar bisa sarapan di sana. Destinasi di hari ke dua yang akan mereka kunjungi ialah Pantai Parangtritis.


Lokasinya tak terlalu jauh dari losmen, hanya butuh sekitar empat puluh menit dengan mobil. Sepanjang jalan, banyak warga lokal dan turis yang berkeliling.


Hari masih pagi, sehingga udara terasa sejuk dan dingin. Naina membuka jendela, ingin merasakan embusan angin yang menerpa wajahnya.


Andre terkesiap, bak seorang model iklan. Naina tampak cantik dengan surai yang berterbangan karena angin. Sangat cantik, batin lelaki itu.


.


Tak berapa lama, akhirnya mereka sampai juga di Pantai. Andre membukakan pintu untuk Naina. Embusan angin pantai yang dingin menyergap kulit mereka.


"Ayo ke sana, kita sarapan dulu," ucap Andre.


"Emm, boleh aku yang nentuin gak?" tanya Naina dengan mata berbinar.


Andre menatap gadis itu dengan seksama, ekspresinya yang memohon seperti ini sangatlah imut dan langka.


"Boleh dong," ucap Andre tanpa bisa menolak.


"Ayo ke sana!" seru Naina menunjuk sebuah rumah makan.


"Mie godog Jawa?" tanya Andre.


Gadis itu mengangguk bersemangat, keduanya berjalan di pasir pantai menuju rumah makan itu.


Memasuki rumah makan, segera memilih tempat duduk dan memesan makanan. Sambil menunggu, keduannya berbincang ringan.


Di saat asyik bicara, tiba-tiba sebuah suara yang familiar menyapa keduannya. Naina hafal suara itu, tubuhnya sedikit menegang tak berani menoleh ke belakang.

__ADS_1


Sedangkan mata elang Andre menajam melihat siapa yang datang menghampiri mereka.


"Wah, berduaan terus nih," sapanya sok akrab.


__ADS_2